RSS

KESEIMBANGAN AIR DAN ELEKTROLIT

04 Apr

Dewasa   : air ± 60% BB

Bayi        : air ± 80% BB             rawan dehidrasi

rentan keseimbangan air dan elektrolit

 

Air tubuh:

–          Cairan intrasel (30 – 40%)

–          Cairan transeluler (1 – 3%)

–          Cairan ekstrasel (20 – 25%)

o        15% interstitiel (limfe, cairan jaringan)

o        5% intravaskuler (plasma)

 

Cairan transeluler: rongga sendi, rongga pleura, LCS, cairan dlm bola mata, cairan peritoneum

 

Bayi CES > CIS

 

Volume CIS ditentukan oleh tekanan osmotik ekstrasel melalui membran sel yg bebas dilalui air

Tekanan osmotik ↑ – air keluar dari sel (sel mengkerut)

Tekanan osmotik ↓ – air masuk ke dalam sel

 

Tekanan osmotik dipengaruhi oleh ion Na dan K

Transport K+ ke dalam sel dan Na+ keluar sel terjadi secara aktif (perlu energi)

 

Volume cairan intravaskuler (plasma) dipertahankan oleh keseimbangan antara filtrasi dan tekanan onkotik pada sistem kapiler

 

Tekanan onkotik ditentukan oleh albumin.

Misalnya pada sindroma nefrotik, protein ↓ à tek onkotik intravaskuler ↓ à vol cairan interstitial ↑, akibatnya terjadi udem jaringan

 

Pengaturan cairan tubuh

  1. Masukan air

–          Ada rangsang haus (pusat di hipothalamus)

–          Haus timbul bila:

i.      Cairan tubuh ↓

ii.      Osmolalitas plasma ↑ (1 – 2%)

  1. Absorbsi air

–          terjadi di GIT secara difusi pasif

–          transport Na dr lumen usus ke sel (tjd scr aktif)

absorbsi Na diikuti absorbsi air

  1. Kehilangan cairan normal
  2. Mekanisme regulasi ginjal

Mengatur:

–          keseimbangan cairan

–          osmolalitas cairan dengan mengatur ekskresi air

–          mengatur distribusi air melalui retensi Na+ dan ekskresi Na+

 

Kehilangan air abnormal:

–          Hiperventilasi (pd penumoni)

–          Suhu lingkungan ↑ ; Kelembaban ↓

–          Hilang melalui GIT (diare)

–          Hilang melalui urin (DI, DM juga bisa)

–          Edema (bukan hilang tp pindah ke jar interstitiel)

 

ANTI DIURETIK HORMON (ADH)

«     Merupakan hormon vasopresin arginin (di hipofise posterior)

«     Mekanisme kerja (di ginjal)

↑ permeabilitas tubulus ginjal dan ductus kolektivus terhadap air

ADH (+) – urin pekat

ADH (-) – urin encer

«     Sekresi ADH diatur oleh

o        Tekanan osmotik CES (konsentrasi Na+ & Cl)

o        Emosi

o        ADH ↑ : rasa sakit, trauma, tindakan bedah

o        ADH ↓ : anestesia, alkohol, obat (morfin, difenilhidantoin, barbiturat, glukokortikoid)

 

NATRIUM

«     Terbanyak dlm CES, mengatur volume CES

«     Volume CIS tergantung volume CES

Na à kunci dari kontrol volume cairan tubuh

«     Konsentrasi intrasel ± 10 mEq/ L

Konsentrasi ekstrasel (plasma) = 135 – 140 mEq/ L

1 mEq Na+ = 23 mg

1 g garam NaCl = 18 mEq Na+

«     Kebutuhan Na+: 1 – 3 mEq/ kgBB/ hari

«     Perubahan kadar Na à kadar Na ekstrasel berubah

Perubahan kadar Na di serum à perubahan Na+ di cairan interstitiel

«     Absorbsi

Pada GIT (jejunum) melalui enzim Na – K – ATP ase, hormon aldosteron, hormon desoksi kortikosteron acetat

«     Ekskresi

t.u melalui ginjal, sebagian kecil melalui tinja, keringat, air mata

Konsentrasi Na dalam keringat: 5 – 40 mEq/ L

Dipengaruhi oleh:

–          perubahan volume ekstraseluler

–          hormon ADH

–          rasa haus

Bila ADH ↓ à Na banyak keluar

«     Pengaturan keseimbangan Na:

Perfusi ginjal ↓ à renin ↑ à angiotensin II à aldosteron ↑

Angiotensin dan aldosteron meningkatkan tekanan darah à terjadi retensi Na + air shg menimbulkan oedema

«     Retensi Na terdapat pada:

  • Glomerulonefritis dengan GFR menurun
  • Tekanan onkotik plasma ↓ (sindroma nefrotik)
  • Volume arteri ↓ (gagal jantung kongestif)
  • Pemberian kortikosteroid dg efek retensi Na

«     Kehilangan Na+ terjadi pada:

  • DM à glukosa ↑ dlm tubulus à menghambat reabsorbsi air + Na à natriuresis
  • Penyakit Addison
  • Diare

«     Hiponatremia (Na+ serum < 135 mEq/ L)

Disebabkan oleh karena:

‹        Kehilangan Na+ (diare)

‹        Air dalam ruang ekstraseluler ↑ (sering)

Misal SiADH, intake air ↑↑

Gejala: kejang, kesadaran menurun (edema)

 

 

 

«     Hipernatermia (Na+ serum > 150 mEq/ L)

‹        Retensi Na+

‹        Diare                           kehilangan air ↑↑

‹        Diabetes Insipidus

 

KALIUM

U      95% di intrasel

U      konsentrasi plasma 3.4 – 5.5 mEq/ L

U      kebutuhan K+ 1 – 3 mEq/ kgBB/ hari

U      Fungsi: mengatur tonisitas intrasel

“resting potential” membran sel

U      Ekskresi: 90% melalui urin, diatur oleh aldosteron

U      Asidosis – K+ keluar sel

U      Alkalosis – K+ masuk sel

U      Hipokalemia

  • Intake K+ kurang (malnutrisi, puasa, diare, muntah)
  • Ekskresi ↑ (obat diuretik, gangguan keseimbangan asam basa)
  • Kehilangan (diare)
  • Gejalanya:

o        Otot-otot lemah (paralisis)

o        Refleks menurun

o        ileus paralitik, dilatasi lambung (kembung)

o        letargi, kesadaran menurun

o        EKG:

§         T wave kecil

§         Ada gelombang U

§         Q – T interval memanjang

U      Hiperkalemia

  • Kelainan ekskresi ginjal (GGA, GGK, insufisiensi adrenal, hipoaldosteronisme, diuretik)
  • Intake ↑
  • Penghancuran jaringan akut (trauma, hemolisis, nekrosis, operasi, luka bakar)
  • Redistribusi K+ transeluler: asidosis metabolik
  • Gejala (terutama jantung):

o        Gelombang T tinggi, runcing

o        Interval PR memanjang

o        QRS melebar

o        ST segmen depresi

o        Atrioventrikular/ intraventrikular heart block

K+ > 7.5 mEq/ L bahaya: V.flutter, V.fibrilasi, blok

 

KEBUTUHAN CAIRAN TUBUH

U      Cairan tubuh hilang melalui:

1.       Urin – 50% dari kehilangan cairan

Normal: 50 ml/ kgBB/ 24 jam

2.       Insensible Water Loss (50%)

–          Respirasi (15%)

–          Kulit (30%)

–          Feses (5%)

 

CARA MENGHITUNG KEBUTUHAN CAIRAN

  1. Luas permukaan tubuh (BSA = Body Surface Area)

= mL/ m2/ 24 jam

Paling tepat untuk BB > 10 kg

Normal: 1500 ml/ m2/ 24 jam (kebutuhan maintenance/ kebutuhan rumatan)

  1. Kebutuhan kalori

100 – 150 cc/ 100 KAL

  1. Berat badan

Rumus umum:

0         100 ml/ kg     – 10 kg pertama

0         50 ml/ kg       – 10 kg kedua

0         20 ml/ kg       – berat > 20 kg

Misalnya ó anak dengan BB 25 kg, memerlukan:

0         100 ml/ kg x 10 kg       = 1000 cc – 10 kg (I)

0         50 ml/ kg   x 10 kg       = 500 cc – 10  kg (II)

0         20 ml/ kg   x   5 kg       = 100 cc – 5 kg (sisa)

Total =        25 kg        = 1600 cc/ 24 jam

 

Keadaan yang Meningkatkan/ Menurunkan Kebutuhan Cairan

  1. Meningkatkan metabolisme

I      Demam – ↑ H2O: 12%/ °C

  1. Menurunkan metabolisme

I      Hipotermi – H2O ↓ 12%/ °C

  1. Kelembaban lingkungan tinggi

Insensible water loss menurun 0 – 15 cc/ 100 KAL

  1. Hiperventilasi – IWL meningkat 50 – 60 cc/ 100 KAL
  2. Keringat >> – H2O meningkat 10 – 25 cc/ 100 KAL

 

Kebutuhan Elektrolit

U      2 – 4 mEq Na+/ 100 cc cairan

U      2 – 4 mEq K+/ 100 cairan

 

 

 

SUBTITLE:

KESEIMBANGAN ASAM BASA

U      Gangguan keseimbangan air – elektrolit à gangguan keseimbangan asam basa

U      Sistem Buffer: zat yang dapat mencegah perubahan kadar ion hidrogen bebas dlm larutan, bila mendapat tambahan asam/ basa

Istilah

U      Asidemia     = pH darah < 7.35

U      Alkalemia    = pH darah > 7.45

U      Asidosis      = kadar bikarbonat serum ↓

U      Alkalosis     = kadar bikarbonat serum ↑

 

Tubuh melindungi diri dari perubahan pH dengan:

1.       Mengencerkan produk asam

2.       Sistem buffer

3.       Regulasi pernapasan – mengatur kadar pCO2 plasma

4.       Reabsorbsi bikarbonat yang difiltrasi di ginjal, ekskresi H+ & NH4+

HCO3

pH = 6.1 + log ————

H2CO3

 

 

 

H2O     CO2 – pengeluarannya diatur oleh pernapasan

 

Metabolic acidosis à CO2 keluar >>>, sehingga H2CO3 ↓↓

 

GANGGUAN KESEIMBANGAN ASAM BASA

U      pH darah adalah resultan 2 komponen: komponen metabolik dan komponen respiratorik

U      pH normal: 7.35 – 7.45

U      BE (base akses) merupakan komponen metabolik yaitu jumlah basa yg perlu dikoreksi

Normal = ± 2.3 mEq/ L

BE (+) ó kelebihan basa

BE (–) ó kekurangan basa/ kelebihan asam

U      pCO2 = merupakan komponen respiratorik status asam basa

Normal = 35 – 45 mmHg

U      Klasifikasi gangguan asam basa:

1.       Asidosis metabolik

2.       Asidosis respiratorik

3.       Alkalosis metabolik

4.       Asidosis respiratorik

U      Asidosis (pH 6.8 – 7.35):

  • Metabolik: BE (-)
  • Respiratorik: pCO2 ≥ 45 mmHg

U      Alkalosis (pH 7.45 – 7.8):

  • Metabolik: BE (+)
  • Respiratorik pCO2 ≥ 35 mmHg

 

Asidosis Metabolik

U      pH ↓, bikarbonat ↓, BE (-)

pCO2 à bukti tubuh menetralisir racun

U      Sebab:

1.       Produksi ion H+ berlebihan, misalnya:

h      Meningkatkan metabolisme (demam, distress pernapasan, kejang, dll)

h      Meningkatkan asam organik (dehidrasi, hipoxia, hipoperfusi)

h      Ketosis (DM, kelaparan)

2.       Kehilangan bikarbonat berlebihan, misalnya: diare, drainase ileostomi

3.       Pemberian asam (HCl, asam amino)

4.       Kegagalan ginjal untuk mengeluarkan asam yg berlebihan

U      Derajat beratnya asidosis metabolic ditentukan oleh turunnya base akses

U      Kompensasi: hiperventilasi… CO2 ↑ keluar (napas cepat, dalam = kussmaul respiration)

U      Komplikasi: hipotensi, edema paru, hipoksia jaringan, depresi SSP, koma, kejang

 

Alkalosis Metabolik

U      Konsentrasi H+ turun

U      Sebab:

1.       Muntah (HCl, K+ hilang)

2.       K+ hilang berlebihan (melalui urin, GIT)

3.       Penambahan HCO3 ke dalam CES (misalnya th/ iv)

4.       ↑ reabsorbsi HCO3. Misalnya: sindroma Cushing, Bartter, Hipoaldosteronisme primer

U      Kompensasi: hipoventilasi à hipoksemia

U      Lab: pH ↑, CO ↑, BE (+), pO2 ↓, HCO3

 

Asidosis Respiratorik

U      Akibat dr hipoventilasi alveolar sehingga produksi CO2 > ekskresi CO2

U      Terjadi pada:

  • Penyakit paru berat: membran hialin, bronchopneumonia, edema paru
  • Penyakit neuromuskuler: sindroma Guillian Barre, overdosis obat sedatif
  • Obstruksi jalan napas: bronchospasme

U      Kompensasi

Ginjal à membentuk dan meningkatkan reabsorbsi bikarbonat

 

U      Gejala klinik:

  • Hipoksia
  • Vasodilatasi (karena CO2 ↑)

U      Laboratorium: pH ↓ – pCO2 ↑ – HCO3 ↑ – BE (+)

 

Alkalosis Respiratorik

U      Ekskresi CO2 melalui paru-paru berlebihan sehingga pCO2

U      Sebab:

–          hiperventilasi (kerusakan otak, emosi); keracunan salisilat

U      Lab: pH ↑ – pCO2 ↓ – bikarbonat ↓ – BE (-)

 

Mekanisme kompensasi

U      Gangguan respiratorik – dikompensasi oleh ginjal

U      Gangguan metabolik – dikompensasi oleh mekanisme respirasi

 

Tingkat kompensasi dibagi dalam:

U      Tidak dikompensasi (mekanisme kompensasi tidak bekerja)

U      Kompensasi partial (pH tidak sampai normal)

U      Kompensasi penuh (pH kembali normal)

U      Kompensasi berlebihan

 

U      Perkiraan gangguan asam basa dpt diketahui dg memeriksa darah arteri (pemeriksaan ASTRUP = Analisa Gas Darah)

Yang dinilai adalah: pH, pCO2, HCO3, BE

Selain itu ada faktor penting lain: pO2, O2 saturation

 

Koreksi kelainan asam basa

1.       Asidosis metabolik

Tujuan koreksi – mengganti defisit basa

Dipakai Na bikarbonat/ natrium laktat

Rumus: BE x BB x 0.3 = jumlah mEq bikarbonat yg diperlukan

2 – 4 mEq/ kgBB

Cara: diencerkan dengan D 5 % – berikan perlahan-lahan

2.       Alkalosis metabolik

Koreksi jarang diperlukan

Pemberian K+ (KCl) memperbaiki alkalosis (max 40 mEq K+/ L)

3.       Alkalosis Respiratorik

Akut à rebreathing system (↑ inspirasi CO2)

Kronik à kontra indikasi untuk rebreathing system

4.       Asidosis respiratorik

↑ ventilasi à ventilator

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2012 in Keperawatan Umum

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: