RSS

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA

04 Apr

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA

 

Prostat terdiri dari    :

#     Kelenjar            50  –  70   %

#     Sroma

#     Musculer          30  –  50  %

Bentuk         :      Bentuk         :    terbalik,  terjepit

Basis            :      leher buli-buli, apex diafragma urogenetalia

Ukuran         :      P : 4 – 6 cm       L : 3 – 4 cm     T : 2 – 3 cm

Urethra         :      Poterior berjalan ditengahnya.

PATOFISIOLOGI

Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas keatas ( bladder ), didalam mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine.

Respon Bladder terhadap tahanan ini  :

#   Hiperiritable : urgency dan frekuensi

#   Bladder mencoba kompensasi terhadap peningkatan beban kerja, otot dinding buli-buli hypertropi

#   Jika sumbatan aliran urine berlanjut                dilatasi ureter dan ginjal (hidrometer, hydronephrosis). Pembesaran prostat dapat juga menyumbat leher buli-buli atau urethra prostatica                  retensi urine                      UTI

ETIOLOGI

#   Sebab yang pasti belum diketahui

#   Faktor yang berperan  :

➢      Sifat Jaringan  : Berasal dari sinus urogenital yang berpotensi proliferasi

➢      Hormonal  ( pubertas                      BPH     θ   )

 

Kastrasi

➢      Usia (balance hormonal berubah)

Beberapa hypothesa  :

1. Dihidrotestosteron (DHT)

5  alpha reduktase meningkat              DHT meningkat + androgen reseptor

 

proliferasi sel prostat

2. Inbalace estrogen  –  testosteron

Usia meningkat             testosteron menurun           estrogen tetap

Estrogen bebas

testosteron bebas         meningkat           proliferasi sel, kematian sel

menurun.

3.   Berkurangnya sel yang mati

PENGKAJIAN

Riwayat Keperawatan

#   Suspect BPH           umur  ??

#   Pola urinari ; frekuensi, nocturia, disuria.

#   Gejala obstruksi leher buli-buli : prostatisme (Hesitansi, pancaran, melemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa) Jika frekuensi dan noctoria tak disertai gejala pembatasan aliran non Obstruktive seperti infeksi.

#   BPH  >  60 tahun              hematuri

Pemeriksaan fisik

#   Perhatian khusus pada abdomen ; Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.

#   Distensi kandung kemih

F         Inspeksi   :   menonjol                retensi urine

F         Palpasi     :  ballotement            retensi urine

F         Perkusi     :  redup

#    Pemeriksaan prostat               posisi knee chest

COLOK DUBUR

Syarat      :  buli-buli kosong / dikosongkan

Tujuan     :  Menentukan konsistensi  prostat

Menentukan besar prostat

Kreteria besarnya prostat

Derajat    I   :  berat        s.d.   20   gr           datar

II   :  berat         20 – 40   gr

III   :  berat           >  40    gr                cembung

Pemeriksaan laborat

# Urinalisis ( test glukosa, protein, bekuan darah dan PH )

Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap sel darah putih, SDM atau PUS.

# RFT         evaluasi fungsi renal

# Serum acid phosphatase             prostat malignancy

Pemeriksaan uroflowmetri

Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli

Q max    :   >         15    ml  /  detik           non obstruksi

10    –   15    ml  /  detik               border line

<         10    ml  /  detik                obstruktif

Intra Vena Pyelografi ( IVP )

# Indikasi       : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis

# Tanda BPH : Impresi prostat, hockey stick ureter

DIAGNOS KEPERAWATAN

1.    Potensial injury dan potensial infeksi  s.d obstruksi perkemihan

# Nyeri s.d obstruksi urinary

# Dysfungsi sexual s.d obstrusi perkemihan

# Kecemasan s.d obstruksi urinary

PERENCANAAN

Tujuan: klien tidak akan mengalami berbagai komplikasi dari pengobatan retensi

Urine.

Intervensi:

# Non Pembedahan

1.   Memperkecil gejala obstruksi              hal-hal yang menyebabkan pelepasan cairan prostat.

➢          Prostatic massage

➢          Frekuensi coitus meningkat

➢          Masturbasi

2.   Menghindari minum banyak dalam waktu singkat, menghindari alkohol dan diuretic mencegah oven distensi kandung kemih akibat tonus otot detrussor menurun.

3.      Menghindari obat-obat penyebab retensi urine seperti : anticholinergic,        anti histamin, decongestan.

4.   Terapi medikamentosa pada BPH

a.   Fito Terapi

*   Hypoxis rosperi (rumput)

*   Serenoa repens (palem)

*   Curcubita pepo (waluh )

b.      1). GOLONGAN SUPRESSOR ANDROGEN

  • Inhibitor 5 alfa reduktase
  • Anti androgen
  • Analog LHRH

2). GOLONGAN ALFA BLOKER

Prazosin, Alfulosin, Doxazonsin, Terazosin

#     Pembedahan

Indikasi pembedahan BPH

  • Retensi urine akut
  • Retensi urine kronis
  • Residual urine  >  100 ml
  • BPH dengan penyulit
  • Terapi medikamentosa tak berhasil
  • Flow metri obstruktif

#   Kontra indikasi

  • IMA
  • CVA akut

   #   Tujuan  :

  • Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli
  • Memperbaiki kualitas hidup

1).   TUR – P              90  –  95  %

Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial

Keuntungan   :

  • Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan
  • Tak perlu insisi pembedahan
  • Hospitalisasi dan penyebuhan pendek

Kerugian       :

  • Jaringan prostat dapat tumbuh kembali
  • Kemungkinan trauma urethra                      strictura urethra

2)     Retropubic atau extravesical prostatectomy

Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih

3)     Perianal prostatectomy

#   Pembesaran prostat disertai batu buli-buli

#   Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservatif

#   Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat

4)     Suprapubic atau tranvesical prostatectomy

PRE OPERATIF CARE

Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang pembedahan dan memberikan informasi yang akurat pada klien

  • Type pembedahan
  • Jenis anesthesi             TUR – P, general / spina anesthesi
  • Cateter : folly cateter, CBJ

POST OPERATIF CARE

  1. TUR – P
  • Setelah TUR – P klien dipasang tree way folley cateter dengan retensi balon 30 – 40 ml. Kateter di tarik untuk membantu hemostasis
  • Intruksikan klien untuk tidak mencoba mengosongkan bladder Otot bladder kontraksi           nyeri spasme
  • CBI (Continuous Bladder Irigation) dengan normal salin          mencegah obstruksi atau komplikasi lain CBI – P. Folley cateter diangkat 2 – 3 hari berikutnya
  • Ketika kateter diangkat timbul keluhan : frekuency, dribbling, kebocoran               normal
  • Post TUR – P : urine bercampur bekuan darah, tissue debris meningkat intake cairan minimal 3000 ml / hari                   membantu menurunkan disuria dan menjaga urine tetap jernih.

b.      OPEN PROSTATECTOMY

  • Resiko post operative bleeding pada 24 jam pertama oleh karena bladder spsme atau pergerakan

Monitor out put urine tiap 2 jam dan tanda vital tiap 4 jam

Arterial bleeding            urine kemerahan (saos) + clotting

Venous bleeding           urine seprti anggur                      traction kateter

  • Vetropubic prostatectomy

Observasi : drainage purulent, demam, nyeri meningkat            deep wound infection,  pelvic abcess

  • Suprapubic prostatectomy

= Perlu CBI via suprapubic                    klien diinstruksikan tetap tidur sampai CBI dihentikan

= Kateter uretra diangkat hari 3 – 4 post op

= Setelah kateter diangkat, kateter supra pubic di clamp dan klien disuruh miksi dan dicek residual urine, jika residual urine ± 75 ml, kateter diangkat

EVALUASI

Kreteria yang diharapkan terhadap diagnosis yang berhubungan dengan obstruksi urinari adalah  :

1).   Mengatasi obstruksi urine tanpa infeksi atau komplikasi yang permanen

2).   Tidak mengalami tekanan atau nyeri berkepanjangan

3).   Mengungkapkan penurunan atau tak adanya kecemasan tentang retensio urine.

4).   Menunjukan tingkat fungsi sexual kembali sebagaimana sebelumnya.

KASUS

Tn. X. usia 56 tahun, datang ke poli urologi dengan keluhan sering kencing, disuria, kesulitan memulai kencing,. Pada saat akhir kencing menetes, terasa ada sisa. Tekanan darah 150/130 mm Hg. Hasil uroflow metri 13 ml/detik.

  1. Apakah tn X mengalami BPH, ? Urolithiasis ?
  2. Keluhan / gejala apa yang mendukung ?
  3. Pemeriksaan apa yang diperlukan ?
  4. Masalah keperawatan apa yang lazim terjadi ?
  5. Bagaimana mekanisme terjadinya masalah tersebut ?
  6. Intervensi apa yang dilakukan sesuai masalah diatas ?

PENYULIT BPH

BPH YANG TIDAK DIRAWAT PADA SEBAGIAN KLIEN LAMA-LAMA AKAN DAPAT BERAKIBAT :

    1. MENURUNNYA KUALITAS HIDUP
    2. INFEKSI SALURAN KENCING
    3. TERBENTUKNYA BATU BULI-BULI
    4. HEMORROID
    5. RETENSIO URINE
    6. GANGGUAN FUNGSI GINJAL
    7. HIDRONEFROID
    8. HEMATURIA

Watchful Waiting

Indikasi        :   BPH dengan IPPS Ringan

Baseline data normal

Flowmetri non obstruksi

Follow – up :   Tiap 3 – 6 bulan

INDIKASI PEMBEDAHAN BPH

 

➢          Retensi urin akut

➢          Retensi urin kronis

➢          Residual urine > 100 ml

➢          BPH dengan penyulit

➢          Terapi medika mentosa tidak berhasil

➢          Flowmetri obstruktif

KONTRA INDIKASI PEMBEDAHAN

➢          Infark Miokard Akut

➢          CVA Akut

PEMBEDAHAN BPH

# TUR PROSTAT                   : 90    –   95   %

# OPEN PROSTATECTOMY :   5    –   10   %

BPH YANG BESAR  ( 50  –  100  GRAM )             Tidak habis direseksi dalam1 jam. Disertai BBB Besar (>2,5cm), multiple.Fasilitas TUR tak ada.

MORTALITAS PEMBEDAHAN BPH

0  –  1  % KAUSA  :  Infark Miokatd

Septikemia dengan Syok

Perdarahan Massive

Kepuasan Klien  :  66 – 95  %

PROSES MIKSI

FASE PENGISIAN

Pves   :        <  20 cm H2O

Pup    :   60 – 100 cm H2O

FASE EKSPULSI :

ISI BLADER 200 – 300 ml

Mulai terangsang ingin kencing

 

Reseptor Strecth

 

Syaraf Otonom PS S2 – 4

 

Tonus Bladder 60 – 120 cm H2O (ingin kencing)

 

Up membuka, sp. Eks masih menutup

BPH                    P up meningkat

Kontraksi Detrusor meningkat

 

Hipertropi

 

P Ves > P up                 P Ves < P up

 

Fase Kompensata                Fase Decompensata

Kualitas miksi masih baik                Retensio Urine

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2012 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag: , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: