RSS

Arsip Tag: Keperawatan Medikal Bedah

KISTA COLEDOCAL

KISTA COLEDOCAL

 

Patofisiologi

Ada berbagai penjelasan dan klasifikasi kista coledocal berdasarkan pada lokasi dan anatomi. Klasifikasi yang paling membantu dibuat oleh Todani yang dimodifikasi dari klasifikasi yang disusun oleh Alonsolej. Jenis pertama ditandai oleh adanya penggabungan (fusiformis) dilatasi duktus bilier tempat duktus kista masuk (paling lazim). Kista coledocal dianggap merupakan gambaran awal dari kelainan sistem bilier pankretikus. Beberapa keadaan yang sering berkaitan dengan kista coledocal  adalah keadaan jungta anomali duktus pankreatikus dan duktus bilier besar, stenosis duktus bilier bagian distal, dilatasi duktus intra hepatik. Ketidaknormalan histologi duktus bilier besar dan ketidaknormalan histologi hepar dari normal sampai sirosis hepatis. Gambaran-gambaran ini terjadi dalam beberapa tahapan dan kombinasi perubahan anatomi dan malformasi.

 

Etiologi

Penyebab kista coledocal masih diperdebatkan. Salah satu penjelasan yang dapat diterima dan dijelaskan oleh Babbit. Ia menyatakan adanya pertautan antara duktus bilier pakreatikus secara tidak normal dengan pembentukan suatu “saluran” kemana sekresi enzim pankreas dikeluarkan akibat dinding duktus bilier menjadi rapuh oleh adanya pengerusakan enzim secara bertahap yang menyebabkan dilatasi, peradangan dan akhirnya terbentuklah kista. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua kasus kista coledocal menunjukkan terbentuknya “saluran”.

Kista coledocal lebih lazim terjadi pada wanita dari pada pria (4 : 1). Gejala yang lazim disebut classic symptom compleks diuraikan pada manifestasi klinik.

 

Manifestasi Klinik

Perawat penting mengetahui manifestasi klinik dari kista coledocal, dimana informasi diperoleh saat melakukan pengkajian.

Tanda-tanda yang umum kista coledocal yang disebut clssic sympton copleks meliputi nyeri, adanya massa, kuning yang dialami kurang dari setengah penderita. Tanda yang lebih sering nampak adalah nyeri abdomen yang sering kambuh setelah beberapa bulan atau tahun. Biasanya hanya sedikit yang menunjukan penyakit kuning. Apabila kondisi tetap berlangsung , dapat terjadi colangitis, serosis dan hipertensi portal.

 

Test diagnostik

Kista coledocal pada bayi atau janin dapat dideteksi dengan ultrasonik maternal antenatal. Pada orang dewasa dilakukan ultrasonografi dan computerized axial tomografi. Endoscopic retrogrde echolangiospancreatography (ERCP) dilakukan pada pasien bila hasil prosedur noninfasiv kurang jelas.

 

Diagnosa Keperawatan

Menurut Spark (1991), diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan kista coledocal adalah :

1.      Nyeri

2.      Gangguan kosep diri

3.      Perubahan nutrisi

4.      Gangguan pertukaran gas

 

Intervensi

1.      Intervensi Medis

Tindakan pembedahan meliputi drainage internal melalui systerectomy dan eksisi. Angka morbiditas dari tindakan ini cukup tinggi. Dinding kista terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi selaput lendir. Kejadian yang tidak diharapkan adalah terjadinya obstruksi jaringan parut. Selanjutnya kista jaringan ikat tidak dapat kontraksi setelah drainase.

Morbiditas dapat pula disebabka oleh stasis bilier. Resiko lain adalah berkembangnya maligna akibat retensi kista. Untuk ini maka dianjurkan dilakukan reseksi kista.

 

Reseksi yang sukses memerlukan tindakan diseksi melingkar dengan memasukan plane antara kista dan vena porta sehingga memudahkan pengangkatan. Pada prosedur ini dapat terjadi cedera pada duktus pankreas. Prosedur alternatif lain dapat dilakukan bila secara anatomis porta terdesak oleh peradangan.

 

2.      Intervensi keperawatan

Intervensi keperawatan dilakukan dengan tujuan mengatasi masalah yang dijelaskan pada diagnosa kperawatan serta diarahkan untuk mencegah cedera. Secara umum tindakan keperawatan antara lain :

  • Mengurangi rasa nyeri
  • Membantu pasien untuk memulihkan konsep dirinya, menghadapi dan menerima realita serta mengembangkan pola pemecahan masalah.
  • Mencukupi kebutuhan nutrisi.
  • Mencukupi kebutuhan pertukaran gas.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Schwartz, Shires, Spenes, Principles of Surgery, Fith Ed. Mc. Graw Hill Book Co. 1988.

Sheila M. Sparks, Nursing Diagnosis Reference Man

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2012 in Keperawatan Maternitas

 

Tag:

BEDAH JANTUNG

BEDAH JANTUNG

Pengertian

Bedah jantung adalah : Usaha atau operasi yang dikerjakan untuk melakukan koreksi kelainan anatomi atau fungsi jantung.

 

Operasi Jantung Dibagi Atas :

 

1.      Operasi jantung terbuka, yaitu operasi yang dijalankan dengan membuka rongga jantung dengan memakai bantuan mesin jantung paru (mesin extra corporal).

2.      Operasi jantung tertutup, yaitu setiap operasi yang dijalankan tanpa membuka rongga jantung misalnya ligasi PDA, Shunting aortopulmonal.

 

Tujuan Operasi Jantung

 

Operasi jantung dikerjakan dengan tujuan baermacam-macam antara lain :

1.      Koreksi total dari kelainan anatomi yang ada, misalnya penutupan ASD, Pateh VSD, Koreksi Tetralogi Fallot, Koreksi Transposition Of Great Arteri (TGA). Umumnya tindakan ini dikerjakan terutama pada anak-anak (pediatrik) yang mempunyai kelainan bawaan.

2.      Operasi paliatif yaitu melakukan operasi sementara untuk tujuan mempersiapkan operasi yang definitif/total koreksi karena operasi total belum dapat dikerjakan saat itu, misalnya shunt aortopulmonal pada TOF, Pulmonal atresia.

3.      Repair yaitu operasi yang dikerjakan pada katub jantung yang mengalami insufisiensi.

4.      Replacement katup yaitu operasi penggantian katup yang mengalami kerusakan.

5.      Bypass koroner yaitu operasi yang dikerjakan untuk mengatasi stenosis/sumbatan arteri koroner.

6.      Pemasangan inplant seperti kawat ‘pace maker’ permanen pada anak-anak dengan blok total atrioventrikel.

7.      Transplantasi jantung yaitu mengganti jantung seseorang yang tidak mungkin diperbaiki lagi dengan jantung donor dari penderita yang meninggal karena sebab lain.

Diagnosis Penderita Penyakit Jantung

 

Untuk menetapkan suatu penyakit jantung sampai kepada suatu diagnosis maka diperlukan tindakan investigasi yang cukup. Mulai dari anamnesa, pemeriksaan fisik/jasmani, laboratorium, maka untuk jantung diperlukan pemeriksaan tambahan sebagai berikut :

 

1.      Elektrokardiografi (EKG) yaitu penyadapan hantaran listrik dari jantung memakai alat elektrokardiografi.

2.      Foto polos thorak PA dan kadang-kadang perlu foto oesophagogram untuk melihat pembesaran atrium kiri (foto lateral).

3.      Fonokardiografi

4.      Ekhocardiografi yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai gelombang pendek dan pantulan dari bermacam-macam lapisan di tangkap kembali. Pemeriksaan ini terdiri dari M. mode dan 2 Dimentional, sehingga terlihat gambaran rongga jantung dan pergerakan katup jantung. Selain itu sekarang ada lagi Dopler Echocardiografi dengan warna, dimana dari gambaran warna yang terlihat bisa dilihat shunt, kebocoran katup atau kolateral.

5.      Nuklir kardiologi yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai isotop intra vena kemudian dengan “scanner” ditangkap pengumpulan isotop pada jantung.

Dapat dibagi :

1. Perfusi myocardial dengan memakai Talium 201.

2. Melihat daerah infark dengan memakai Technetium pyrophospate 99.

3. Blood pool scanning.

6.      Kateterisasi jantung yaitu pemeriksaan jantung dengan memakai kateter yang dimasukan ke pembuluh darah dan didorong ke rongga jantung. Kateterisasi jantung kanan melalui vena femoralis, kateterisasi jantung kiri melalui arteri femoralis.

Pemeriksaan kateterisasi bertujuan :

a)      Pemeriksaan tekanan dan saturasi oksigen rongga  jantung, sehingga diketahui adanya peningkatan saturasi pada rongga jantung kanan akibat suatu shunt dan  adanya hypoxamia pada jantung bagian kiri.

b)      Angiografi untuk melihat rongga jantung atau pembuluh darah tertentu misalnya LV grafi, aortografi, angiografi koroner dll.

c)      Pemeriksaan curah jantung pada keadaan tertentu.

 

7.      Pemeriksaan enzym khusus, yaitu pemeriksaan enzym creati kinase dan fraksi CKMB untuk penentuan adanya infark pada keadaan “ unstable angin pectoris”.

 

Indikasi Operasi

 

1.      “Left to rigth shunt” sama atau lebih dari 1,5 (aliran paru dibandingkan aliran ke sistemik ³ 1,5).

2.      “Cyanotic heart disease “.

3.      Kelainan anatomi pembuluh darah besar dan koroner

4.      Stenosis katub yang berat (symtomatik).

5.      Regurgitasi katub yang berat (symtomatik)

6.      Angina pektoris kelas III dan IV menurut Canadian Cardiology Society (CCS).

7.      “Unstable angina pectoris”.

8.      Aneurisma dinding ventrikel kiri akibat suatu infark miokardium akut.

9.      Komplikasi akibat infark miokardium akut seperti VSD dan mitral regurgitasi yang berat karena ruptur otot papilaris.

10.  “Arrhytmia” jantung misalnya WPW syndrom.

11.  Endokarditis/infeksi katub jantung.

12.  Tumor dalam rongga jantung yang menyebabkan obstruksi pada katub misalnya myxoma.

13.  Trauma jantung dengan tamponade atau perdarahan.

 

Toleransi dan perkiraan resiko operasi

 

Toleransi terhadap operasi diperkirakan berdasarkan keadaan umum penderita yang biasanya ditentukan dengan klasifikasi fungsional dari New York Heart Association.

 

Klas   I    : Keluhan dirasakan bila bekerja sangat berat misalnya berlari.

Klas  II    : Keluhan dirasakan bila aktifitas cukup berat misalnya berjalan cepat.

Klas III   : Keluhan dirasakan bila aktifitas lebih berat dari pekerjaan sehari-hari.

Klas IV    : Keluhan sudah dirasakan pada aktifitas primer seperti untuk makan dan lain-lain sehingga penderita harus tetap berbaring ditempat tidur.

Waktu Terbaik (Timing) Untuk Operasi

 

Hal ini ditentukan berdasarkan resiko yang paling kecil. Misalnya umur yang tepat untuk melakukan total koreksi Tetralogi Fallot adalah pada umur 3 – 4 tahun.

Hal ini yaitu berdasarkan klasifikasi fungsional di mana operasi katub aorta karena suatu insufisiensi pada klas IV adalah lebih tinggi dibandingkan pada klas III. Hal ini adalah saat operasi dilakukan. Operasi pintas koroner misalnya bila dilakukan secara darurat resikonya 2 X lebih tinggi bila dilakukan elektif.

 

Pembagian Waktu dibagi atas :

1.      Emergensi yaitu operasi yang sifatnya sangat perlu untuk menyelamatkan jiwa penderita. Untuk bypass coroner hal ini dilakukan kapan saja tergantung persiapan yang diperlukan.

2.      Semi Elektif yaitu operasi yang bisa ditunda 2 – 3 hari atau untuk koroner dilakukan 3 X 24 jam setelah dilakukan kateterisasi jantung.

3.      Elektif yaitu operasi yang direncanakan dengan matang atas indikasi tertentu, waktunya lebih dari 3 hari.

 

Pemilihan Tehnik Operasi

Pertimbangan yang perlu diperhatikan adalah :

1.      Apakah bisa dilakukan koreksi total

2.      Kalau tidak bisa dilakukan koreksi total karena keterbatasan umur dan anatomi/kelainan yang didapat maka harus dipilih tehnik operasi untuk membantu operasi definitif misalnya “ shunt “ pada Tetralogi Fallot.

3.      Apabila tidak bisa dilakukan koreksi total atau operasi definitif dengan resiko yang tinggi maka harus dipilih operasi untuk memperbaiki kwalitas hidup penderita tersebut misalnya “shunt” saja.

4.      “Repair” katub lebih diutamakan/dianjurkan dari pada “replacement”/penggantian katub yang rusak.

5.      Hasil-hasil dari kasus-kasus yang sudah dikerjakan orang lain.

 

Sayatan Operasi

1.      Mid Sternotomi

Posisi klien terlentang, kepala ekstensi dan daerah vertebra antara skapula kanan dan kiri diganjal secukupnya sehingga insisi cukup leluasa. Harus diperhatikan dalam setiap posisi :

a)      Seluruh daerah yang mengalami tekananan harus dilindungi dengan bantal atau karet busa misalnya kepala, daerah sakrum dan tumit.

Tidak boleh ada barang-barang logam yang keras, kontak langsung dengan penderita sehingga dapat terjadi dekubitus.

b)      Pemasangan “lead EKG “, kateter urin, slang infus tidak boleh “kinking” dan melewati bawah kulit klien sehingga menimbulkan bekas.

c)      Pemasangan “plate kauterisasi” pada otot pinggul dan hati-hati terhadap N. ischiadicus yang berjalan di daerah sakrum dan penderita harus dihubungkan dengan kabel yang ke bumi.

d)      Posisi penderita harus difiksasi dengan stabil sehingga tidak mudah meluncur kalau meja operasi diputar atau tidak bergerak kalu dilakukan shock listrik.

 

Insisi kulit pada daerah median mulai dari atas suprasternal notch vertikal sampai 3 cm di bawah prosesus xyphoideus dengan pisau No. 24 bila klien dewasa, untuk bayi dan anak-anak dengan pisau No. 15.

 

Hemostasis dengan kauterisasi fasia sampai ligamen subra sternal dipotong, begitu juga prosesus xyphoideus ibelah dengan gunting kasar. Hemostasis dari vena yang melintang di atas prosesus xyphoideus harus baik.

 

Tulang sternum dibelah dengan gergaji listrik biasanya dari arah prosesus xypoideus ke atas dan saat itu paru-paru dikolapskan beberapa detik untuk menghindari terbukanya pleura.

 

Hemastasis pinggir sternum dengan kauter dan bila perlu gunakan bone wak.

Selanjutnya sisa-sisa kelenjar timus, didiseksi sampai vena inominata kelihatan bebas. Perikardium dibuka di tengah  atau agak ke kanan apabila akan digunakan untuk “patch” dan dilebarkan sedikit kearah lateral dibagian proksimal dan diafragma. Perikardium difixir ke pinggir luka sehingga jantung agak terangkat.

 

Apabila prosedur utama telah selesai dan dinding dada akan ditutup maka harus diyakini benar bahwa hemostasis terhadap semua bekas insisi dan jahitan telah aman, perikardium kalau perlu tidak usah ditutup rapat, dipasang drain untuk mengeluarkan sisa darah, sternum diikat dengan kawat. Harus diingat saat menutup sternum apakah ada pengaruh terhadap tekanan darah terutama kalau tekanan darah turun. Jahitan kulit subkutikuler/kutikuler dengan dexon.

 

2.      Torakotomi posterolateral

Sayatan ini biasanya untuk klien koarktasio aorta, PDA, shunt atau aneurisma aorta desenden. Posisi klien miring ke kanan dengan syarat-syarat seperti di atas.

Insisi kulit mulai dari garis aksila tengah ke posterior kira-kira 2 cm di bawah angulus inferior skapula dan prosesus spinosus vertebra. Kulit, subkutis, otot latisimus dorsi dipotong dengan hemostasis yang baik dengan kauter dan otot seratus anterios hanya dibelah dan dipotong pada insertionya.

Rongga toraks dibuka pada sela iga ke 4 dengan diseksi di bagian atas iga ke V untuk menghindari pembuluh darah. Setelah selesai rongga toraks ditutup dengan mengikat iga dengan jahitan absorbable dan selanjutnya otot diapraksimasi kembali seperti aslinya dan kulit dijahit subkutikuler.

 

3.      Torakotomi Anterolateral

Posisi penderita terlentang dan bagian kiri diganjal sedikit sehingga lebih tinggi / miring 45 °. Insisi pada sela iga ke V. Pendekatan ini untuk emergensi karena luka tusuk jantung dengan tamponade atau hanya perikardiotomi banding pulmonalis.

 

Persiapan penderita prabedah.

Setelah penderita diputuskan untuk operasi maka perlu dipersiapkan agar operasi dapat berlangsung sukses. Persiapan terdiri dari  :

 

a)      Persiapan mental

Menyiapkan klien secara mental siap menjalani operasi, menghilangkan kegelisahan menghadapi operasi. Hal ini ditempuh dengan cara wawancara dengan dokter bedah dan kardiolog tentang indikasi operasi, keuntungan operasi, komplikasi operasi dan resiko operasi. Diterangkan juga hal-hal yang akan dialami/akan dikerjakan di kamar operasi dan ICU dan alat yang akan dipasang, juga termasuk puasa, rasa sakit pada daerah operasi dan kapan drain dicabut.

 

b)      Persiapan medikal

1.      Obat-obatan

  • Semua obat-obatan antikoagulan harus dihentikan 1 minggu sebelum operasi (minimal 3 hari sebelum operasi).
  • Aspirin dan obat sejenis dihentikan 1 minggu sebelum operasi.
  • Digitalis dan diuretik dihentikan 1 hari sebelum operasi.
  • Antidiabetik diteruskan dan bila perlu dikonversi dengan insulin injeksi selama operasi.
  • Obat-obat jantung diteruskan sampai hari operasi.
  • Antibiotika hanya diberikan untuk propilaksis dan diberikan waktu induksi anestesi di kamar operasi, hanya diperlukan test kulit sebelum operasi apakah ada alergi.

 

2.      Laboratorium 1 hari sebelum operasi antara lain  :

  • Hematologi lengkap + hemostasis.
  • LFT.
  • Ureum, Creatinin.
  • Gula darah.
  • Urine lengkap.
  • Enzim CK dan CKMB untuk CABG.
  • Hb  S Ag.
  • Gas darah.

Bila ada kelainan hemostasis atau faktor pembekuan harus diselidiki penyebabnya dan bila perlu operasi ditunda sampai ada kepastian bahwa kelainan tersebut tidak akan menyebabkan perdarahan pasca bedah.

3.      Persiapan darah untuk operasi.

Permintaan darah ke PMI terdiri dari  :

Packad cell                    :  750 cc

Frash Frozen Plasma     :  1000 cc

Trombosit                     :   3 unit.

Permintaan darah ke PMI minimal 24 jam sebelum operasi elektif dan tentu tergantung persediaan darah yang ada di PMI saat itu.

4.      Mencari infeksi fokal.

Biasanya dicari gigi berlobang atau tonsilitis kronis dan ini konsultasikan ke bagian THT dan gigi. Kelainan kulit seperti dermatitis dan furunkolosis/bisul harus diobati dan juga tidak dalam masa inkubasi/infeksi penyakit menular.

5.      Fisioterapi dada.

Untuk melatih dan meningkatkan fungsi paru selama di ICU dan untuk mengajarkan bagaimana caranya mengeluarkan sputum setelah operasi untuk mencegah retensi sputum. Bila penderita diketahui menderita asthma dan penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) maka fisioterapi harus lebih intensif dikerjakan dan kadang-kadang spirometri juga membantu untuk melihat kelainan yang dihadapi. Bila perlu konsultasi ke dokter ahli paru untuk problem yang dihadapi.

6.      Perawatan sebelum operasi.

Saat ini perawatan sebelum operasi dengan persiapan yang matang dari poliklinik maka perawatan sebelum operasi dapat diperpendek misalnya 1 – 2 hari sebelum operasi. Hal ini untuk mempersiapkan mental klien dan juga supaya tidak bosan di Rumah Sakit.

 

Perawatan pasca bedah

Perawatan pasca bedah dimulai sejak penderita masuk ke ICU. Untuk mengetahui problem pasca bedah dianjurkan untuk mengetahui problem penderita pra bedah sehingga dapat diantisipasi dengan baik.

Misalnya problem pernapasan, diabetes dan lain-lain.

 

Perawatan pasca bedah dibagi atas  :

 

1.      Perawatan di ICU.

a)      Monitoring Hermodinamik.

Setelah penderita pindah di ICU maka timbang terima antara perawat yang mengantar ke ICU dan petugas/perawat ICU yang bertanggung jawab terhadap penderita tersebut : Dianjurkan setiap penderita satu perawat yang bertanggung jawab menanganinya selama 24 jam. Pemantauan yang dikerjakan harus secara sistematis dan mudah :

  • CVP,  RAP,  LAP,
  • Denyut jantung.
  • “Wedge presure” dan PAP.
  • Tekanan darah.
  • Curah jantung.
  • Obat-obat inotropik yang digunakan untuk support fungsi jantung dosisnya, rutenya dan lain-lain.
  • Alat lain yang dipakai untuk membantu seperti IABP, pach jantung dll.

 

b)      EKG

Pemantauan EKG setiap saat harus dikerjakan dan dilihat irama dasar jantung dan adanya kelainan irama jantung seperti AF, VES, blok atrioventrikel dll.  Rekording/pencatatan EKG lengkap minimal 1 kali dalam sehari dan tergantung dari problem yang dihadapi terutama bila ada perubahan irama dasar jantung yang membahayakan.

 

c)      Sistem pernapasan

Biasanya penderita dari kamar operasi masih belum sadar dan malahan diberikan sedasi sebelum ditransper ke ICU. Sampai di ICU segera respirator dipasang dan dilihat :

  • Tube dan ukuran yang diapakai, melalui mulut / hidung.
  • Tidak volume dan minut volume, RR, Fi O 2, PEEP.
  • Dilihat aspirat yang keluar dari bronkhus / tube, apakah lendirnya normal, kehijauan, kental atau berbusa kemerahan sebagai tanda edema paru ; bila perlu dibuat kultur.

 

d)      Sistem neurologis

Kesadaran dilihat dari/waktu penderita mulai bangun atau masih diberikan obat-obatan sedatif pelumpuh otot.  Bila penderita mulai bangun maka disuruh menggerakkan ke 4 ektremitasnya.

 

e)      Sistem ginjal

Dilihat produksi urine tiap jam dan perubahan warna yang terjadi akibat hemolisis  dan lain-lain. Pemerikasaan ureum / kreatinin bila fasilitas memungkinkan harus dikerjakan.

 

f)        Gula darah

Bila penderita adalah dabet maka kadar gula darah harus dikerjakan tiap 6 jam dan bila tinggi mungkin memerlukan infus insulin.

 

 

 

 

g)      Laboratorium  :

Setelah sampai di ICU perlu diperiksa   :

  • HB, HT, trombosit.
  • ACT.
  • Analisa gas darah.
  • LFT / Albumin.
  • Ureum, kreatinin, gula darah.
  • Enzim CK dan CKMB untuk penderita bintas koroner.

 

h)      Drain

Drain yang dipasang harus diketahui sehingga perdarahan dari mana mungkin bisa diketahui. Jumlah drain tiap satuan waktu biasanya tiap jam tetapi bila ada perdarahan maka observasi dikerjakan tiap ½ jam. Atau tiap ¼ jam. Perdarahan yang terjadi lebih dari 200 cc untuk penderita dewasa tiap jam dianggap sebagai perdarahan pasca bedah dan muingkin memerlukan  retorakotomi untuk menghentikan perdarahan.

 

i)        Foto thoraks

Pemerikasaan foto thoraks di ICU segera setelah sampai di ICU untuk melihat ke CVP, Kateter Swan Ganz. Perawatan pasca bedah di ICU harus disesuaikan dengan problem yang dihadapi seperti komplikasi yang dijumpai. Umumnya bila fungsi jantung normal, penyapihan terhadap respirator segera dimulai dan begitu juga ekstratubasi beberapa jam setelah pasca bedah.

 

j)        Fisioterapi.

Fisioterapi harus segera mungkin dikerjakan termasuk penderita dengan ventilator. Bila sudah ekstubasi fisioterapi penting untuk mencegah retensi sputum (napas dalam, vibrilasi, postural drinase).

 

2.    Perawatan setelah di ICU / di Ruangan.

 

Setelah klien keluar dari ICU maka pemantauan terhadap fungsi semua organ terus dilanjutkan. Biasanya pindah dari ICU adalah pada hari ke dua pasca bedah. Umumnya pemeriksaan hematologi rutin dan thoraks foto telah dikerjakan termasuk laboratorium LFT, Enzim CK dan CKMB.

 

Hari ke 3 lihat keadaan dan diperiksa antara lain :

  • Elektrolit thrombosis.
  • Ureum
  • Gula darah.
  • Thoraks foto
  • EKG  12 lead.

 

Hari ke 4  : lihat keadaan, pemeriksaan atas indikasi.

 

Hari ke 5 : Hematologi, LFT, Ureum dan bila perlu elektrolit, foto thoraks tegak.

 

Hari ke 6  -  10 pemerikasaan atas indikasi, misalnya thrombosis.

 

Obat – obatan  : Biasanya diberikan analgetik karena rasa sakit daerah dada waktu batuk akan mengganggu pernapasan klien.  Obat-obat lain seperti anti hipertensi, anti diabet, dan vitamin harus sudah dimulai, expectoransia, bronchodilator, juga diperlukan untuk mengeluarkan sputum yang banyak sampai hari ke 7 atau sampai klien pulang.

 

Perawatan luka, dapat tertutup atau terbuka.  Bila ada tanda-tanda infeksi seperti kemerahan dan bengkak pada luka apalagi dengan tanda-tanda panas, lekositosis, maka luka harus dibuka jahitannya sehuingga nanah yang ada bisa bebas keluar. Kadang-kadang perlu di kompres dengan antiseptik supaya nanah cepat kering. Bila luka sembuh dengan baik jahitan sudah dapat di buka pada hari ke delapan atau sembilan pasca bedah. Untuk klien yang gemuk, diabet kadang-kadang jahitan dipertahankan lebih lama untuk mencegah luka terbuka.

 

Fisioterapi, setelah klien exstubasi maka fisioterapi harus segera dikerjakan untuk mencegah retensi sputum yang akan menyebabkan problem pernapasan. Mobilisasi di ruangan mulai dengan duduk di tempat tidur, turun dari tempat tidur, berjalan disekitar tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, dan keluar dari ruangan dengan dibimbing oleh fisioterapis atau oleh perawat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2012 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag: , , , , , ,

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA

BENIGNA PROSTAT HIPERPLASIA

 

Prostat terdiri dari    :

#     Kelenjar            50  -  70   %

#     Sroma

#     Musculer          30  -  50  %

Bentuk         :      Bentuk         :    terbalik,  terjepit

Basis            :      leher buli-buli, apex diafragma urogenetalia

Ukuran         :      P : 4 – 6 cm       L : 3 – 4 cm     T : 2 – 3 cm

Urethra         :      Poterior berjalan ditengahnya.

PATOFISIOLOGI

Sejalan dengan pertambahan umur, kelenjar prostat akan mengalami hiperplasia, jika prostat membesar akan meluas keatas ( bladder ), didalam mempersempit saluran uretra prostatica dan menyumbat aliran urine.

Respon Bladder terhadap tahanan ini  :

#   Hiperiritable : urgency dan frekuensi

#   Bladder mencoba kompensasi terhadap peningkatan beban kerja, otot dinding buli-buli hypertropi

#   Jika sumbatan aliran urine berlanjut                dilatasi ureter dan ginjal (hidrometer, hydronephrosis). Pembesaran prostat dapat juga menyumbat leher buli-buli atau urethra prostatica                  retensi urine                      UTI

ETIOLOGI

#   Sebab yang pasti belum diketahui

#   Faktor yang berperan  :

➢      Sifat Jaringan  : Berasal dari sinus urogenital yang berpotensi proliferasi

➢      Hormonal  ( pubertas                      BPH     θ   )

 

Kastrasi

➢      Usia (balance hormonal berubah)

Beberapa hypothesa  :

1. Dihidrotestosteron (DHT)

5  alpha reduktase meningkat              DHT meningkat + androgen reseptor

 

proliferasi sel prostat

2. Inbalace estrogen  -  testosteron

Usia meningkat             testosteron menurun           estrogen tetap

Estrogen bebas

testosteron bebas         meningkat           proliferasi sel, kematian sel

menurun.

3.   Berkurangnya sel yang mati

PENGKAJIAN

Riwayat Keperawatan

#   Suspect BPH           umur  ??

#   Pola urinari ; frekuensi, nocturia, disuria.

#   Gejala obstruksi leher buli-buli : prostatisme (Hesitansi, pancaran, melemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa) Jika frekuensi dan noctoria tak disertai gejala pembatasan aliran non Obstruktive seperti infeksi.

#   BPH  >  60 tahun              hematuri

Pemeriksaan fisik

#   Perhatian khusus pada abdomen ; Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.

#   Distensi kandung kemih

F         Inspeksi   :   menonjol                retensi urine

F         Palpasi     :  ballotement            retensi urine

F         Perkusi     :  redup

#    Pemeriksaan prostat               posisi knee chest

COLOK DUBUR

Syarat      :  buli-buli kosong / dikosongkan

Tujuan     :  Menentukan konsistensi  prostat

Menentukan besar prostat

Kreteria besarnya prostat

Derajat    I   :  berat        s.d.   20   gr           datar

II   :  berat         20 – 40   gr

III   :  berat           >  40    gr                cembung

Pemeriksaan laborat

# Urinalisis ( test glukosa, protein, bekuan darah dan PH )

Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap sel darah putih, SDM atau PUS.

# RFT         evaluasi fungsi renal

# Serum acid phosphatase             prostat malignancy

Pemeriksaan uroflowmetri

Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli

Q max    :   >         15    ml  /  detik           non obstruksi

10    -   15    ml  /  detik               border line

<         10    ml  /  detik                obstruktif

Intra Vena Pyelografi ( IVP )

# Indikasi       : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis

# Tanda BPH : Impresi prostat, hockey stick ureter

DIAGNOS KEPERAWATAN

1.    Potensial injury dan potensial infeksi  s.d obstruksi perkemihan

# Nyeri s.d obstruksi urinary

# Dysfungsi sexual s.d obstrusi perkemihan

# Kecemasan s.d obstruksi urinary

PERENCANAAN

Tujuan: klien tidak akan mengalami berbagai komplikasi dari pengobatan retensi

Urine.

Intervensi:

# Non Pembedahan

1.   Memperkecil gejala obstruksi              hal-hal yang menyebabkan pelepasan cairan prostat.

➢          Prostatic massage

➢          Frekuensi coitus meningkat

➢          Masturbasi

2.   Menghindari minum banyak dalam waktu singkat, menghindari alkohol dan diuretic mencegah oven distensi kandung kemih akibat tonus otot detrussor menurun.

3.      Menghindari obat-obat penyebab retensi urine seperti : anticholinergic,        anti histamin, decongestan.

4.   Terapi medikamentosa pada BPH

a.   Fito Terapi

*   Hypoxis rosperi (rumput)

*   Serenoa repens (palem)

*   Curcubita pepo (waluh )

b.      1). GOLONGAN SUPRESSOR ANDROGEN

  • Inhibitor 5 alfa reduktase
  • Anti androgen
  • Analog LHRH

2). GOLONGAN ALFA BLOKER

Prazosin, Alfulosin, Doxazonsin, Terazosin

#     Pembedahan

Indikasi pembedahan BPH

  • Retensi urine akut
  • Retensi urine kronis
  • Residual urine  >  100 ml
  • BPH dengan penyulit
  • Terapi medikamentosa tak berhasil
  • Flow metri obstruktif

#   Kontra indikasi

  • IMA
  • CVA akut

   #   Tujuan  :

  • Mengurangi gejala yang disertai dengan obstruksi leher buli-buli
  • Memperbaiki kualitas hidup

1).   TUR – P              90  -  95  %

Dilakukan bila pembesaran pada lobus medial

Keuntungan   :

  • Lebih aman pada klien yang mengalami resiko tinggi pembedahan
  • Tak perlu insisi pembedahan
  • Hospitalisasi dan penyebuhan pendek

Kerugian       :

  • Jaringan prostat dapat tumbuh kembali
  • Kemungkinan trauma urethra                      strictura urethra

2)     Retropubic atau extravesical prostatectomy

Prostat terlalu besar tetapi tak ada masalah kandung kemih

3)     Perianal prostatectomy

#   Pembesaran prostat disertai batu buli-buli

#   Mengobati abces prostat yang tak respon terhadap terapi conservatif

#   Memperbaiki komplikasi : laserasi kapsul prostat

4)     Suprapubic atau tranvesical prostatectomy

PRE OPERATIF CARE

Mengkaji kecemasan klien, mengoreksi miskonsepsi tentang pembedahan dan memberikan informasi yang akurat pada klien

  • Type pembedahan
  • Jenis anesthesi             TUR – P, general / spina anesthesi
  • Cateter : folly cateter, CBJ

POST OPERATIF CARE

  1. TUR – P
  • Setelah TUR – P klien dipasang tree way folley cateter dengan retensi balon 30 – 40 ml. Kateter di tarik untuk membantu hemostasis
  • Intruksikan klien untuk tidak mencoba mengosongkan bladder Otot bladder kontraksi           nyeri spasme
  • CBI (Continuous Bladder Irigation) dengan normal salin          mencegah obstruksi atau komplikasi lain CBI – P. Folley cateter diangkat 2 – 3 hari berikutnya
  • Ketika kateter diangkat timbul keluhan : frekuency, dribbling, kebocoran               normal
  • Post TUR – P : urine bercampur bekuan darah, tissue debris meningkat intake cairan minimal 3000 ml / hari                   membantu menurunkan disuria dan menjaga urine tetap jernih.

b.      OPEN PROSTATECTOMY

  • Resiko post operative bleeding pada 24 jam pertama oleh karena bladder spsme atau pergerakan

Monitor out put urine tiap 2 jam dan tanda vital tiap 4 jam

Arterial bleeding            urine kemerahan (saos) + clotting

Venous bleeding           urine seprti anggur                      traction kateter

  • Vetropubic prostatectomy

Observasi : drainage purulent, demam, nyeri meningkat            deep wound infection,  pelvic abcess

  • Suprapubic prostatectomy

= Perlu CBI via suprapubic                    klien diinstruksikan tetap tidur sampai CBI dihentikan

= Kateter uretra diangkat hari 3 – 4 post op

= Setelah kateter diangkat, kateter supra pubic di clamp dan klien disuruh miksi dan dicek residual urine, jika residual urine ± 75 ml, kateter diangkat

EVALUASI

Kreteria yang diharapkan terhadap diagnosis yang berhubungan dengan obstruksi urinari adalah  :

1).   Mengatasi obstruksi urine tanpa infeksi atau komplikasi yang permanen

2).   Tidak mengalami tekanan atau nyeri berkepanjangan

3).   Mengungkapkan penurunan atau tak adanya kecemasan tentang retensio urine.

4).   Menunjukan tingkat fungsi sexual kembali sebagaimana sebelumnya.

KASUS

Tn. X. usia 56 tahun, datang ke poli urologi dengan keluhan sering kencing, disuria, kesulitan memulai kencing,. Pada saat akhir kencing menetes, terasa ada sisa. Tekanan darah 150/130 mm Hg. Hasil uroflow metri 13 ml/detik.

  1. Apakah tn X mengalami BPH, ? Urolithiasis ?
  2. Keluhan / gejala apa yang mendukung ?
  3. Pemeriksaan apa yang diperlukan ?
  4. Masalah keperawatan apa yang lazim terjadi ?
  5. Bagaimana mekanisme terjadinya masalah tersebut ?
  6. Intervensi apa yang dilakukan sesuai masalah diatas ?

PENYULIT BPH

BPH YANG TIDAK DIRAWAT PADA SEBAGIAN KLIEN LAMA-LAMA AKAN DAPAT BERAKIBAT :

    1. MENURUNNYA KUALITAS HIDUP
    2. INFEKSI SALURAN KENCING
    3. TERBENTUKNYA BATU BULI-BULI
    4. HEMORROID
    5. RETENSIO URINE
    6. GANGGUAN FUNGSI GINJAL
    7. HIDRONEFROID
    8. HEMATURIA

Watchful Waiting

Indikasi        :   BPH dengan IPPS Ringan

Baseline data normal

Flowmetri non obstruksi

Follow – up :   Tiap 3 – 6 bulan

INDIKASI PEMBEDAHAN BPH

 

➢          Retensi urin akut

➢          Retensi urin kronis

➢          Residual urine > 100 ml

➢          BPH dengan penyulit

➢          Terapi medika mentosa tidak berhasil

➢          Flowmetri obstruktif

KONTRA INDIKASI PEMBEDAHAN

➢          Infark Miokard Akut

➢          CVA Akut

PEMBEDAHAN BPH

# TUR PROSTAT                   : 90    -   95   %

# OPEN PROSTATECTOMY :   5    -   10   %

BPH YANG BESAR  ( 50  -  100  GRAM )             Tidak habis direseksi dalam1 jam. Disertai BBB Besar (>2,5cm), multiple.Fasilitas TUR tak ada.

MORTALITAS PEMBEDAHAN BPH

0  -  1  % KAUSA  :  Infark Miokatd

Septikemia dengan Syok

Perdarahan Massive

Kepuasan Klien  :  66 – 95  %

PROSES MIKSI

FASE PENGISIAN

Pves   :        <  20 cm H2O

Pup    :   60 – 100 cm H2O

FASE EKSPULSI :

ISI BLADER 200 – 300 ml

Mulai terangsang ingin kencing

 

Reseptor Strecth

 

Syaraf Otonom PS S2 – 4

 

Tonus Bladder 60 – 120 cm H2O (ingin kencing)

 

Up membuka, sp. Eks masih menutup

BPH                    P up meningkat

Kontraksi Detrusor meningkat

 

Hipertropi

 

P Ves > P up                 P Ves < P up

 

Fase Kompensata                Fase Decompensata

Kualitas miksi masih baik                Retensio Urine

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2012 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag: , , , , , ,

TETANUS

A. TINJAUAN TEORI

 

I.  Pengertian

Tetanus adalah penyakit infeksi yang ditandai oleh kekakuan dan kejang otot, tanpa disertai gangguan kesadaran, sebagai akibat dari toksin kuman closteridium tetani

 

II. Etiologi

Sering kali tempat masuk kuman sukar dikteahui teteapi suasana anaerob seperti pada luka tusuk, lukakotor, adanya benda asing dalam luka yang menyembuh , otitis media, dan cairies gigi, menunjang berkembang biaknya kuman yang menghasilkan endotoksin.

 

III. Patofisiologi

Bentuk spora dalam suasana anaerob dapat berubah menjadi kuman vegetatif yang menghasilkan eksotoksin. Toksin ini menjalar intrakasonal sampai ganglin/simpul saraf dan menyebabkan hilangnya keseimbanngan tonus otot sehingga terjadi kekakuan otot baik lokal maupun mnyeluruh. Bila toksin banyak, selain otot bergaris, otot polos dan saraf otak juga terpengaruh.

 

Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebalikya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel.

 

Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :

Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular

Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya

 

Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10-15 % dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada orang dewasa  sirkulasi otak mencapai 15 % dari seluruh tubuh. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” dan terjadi kejang. Kejang yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan metabolisme otak meningkat.

 

IV. Prognosa

Bila periode”periode of onset” pendek penyakit dengan cepat akan berkembang menjadi berat

 

V. Manifestasi Klinik

-    Keluhan dimulai dengan kaku otot, disusul dengan kesukaran untuk membuka mulut (trismus)

-  Diikuti gejala risus sardonikus,kekauan otot dinding perut dan ekstremitas (fleksi pada lengan bawah, ekstensi pada telapak kaki)

-    Pada keadaan berat, dapat terjadi kejang spontan yang makin lam makin seinrg dan lama, gangguan saraf otonom seperti hiperpireksia, hiperhidrosis,kelainan irama jantung dan akhirnya hipoksia yan gberat

-   Bila  periode”periode of  onset” pendek  penyakit  dengan  cepat     akan berkembang menjadi berat

Untuk mudahnya tingkat berat penyakit dibagi :

1. ringan ; hamya trismus dan kejang lokal

2. sedang ; mulai terjadi kejang spontan yang semakin sering, trismus yang tampak nyata, opistotonus dankekauan otot yang menyeluruh.

 

VI. Penatalaksanaan Medik

Pada dasarnya , penatalaksanaan tetanus bertujuan :

a. eliminasi kuman

1. debridement

untuk menghilangkan suasana anaerob, dengan cara membuang jaringan yang rusak, membuang benda asing, merawat luka/infeksi, membersihkan liang telinga/otitis media, caires gigi.

 

2. antibiotika

penisilna prokain 50.000-100.000 ju/kg/hari IM, 1-2 hari, minimal 10 hari. Antibiotika lain ditambahkan sesuai dengan penyulit yang timbul.

b. netralisasi toksin

toksin yang dapat dinetralisir adalah toksin yang belum melekat di jaringan.

Dapat diberikan ATS 5000-100.000 KI

 

c. perawatan suporatif

perawatan penderita tetanus harus intensif dan rasional :

1.  nutrisi dan cairan

- pemberian cairan IV sesuaikan jumlah dan jenisnya dengan keadaan penderita, seperti sering kejang, hiperpireksia dan sebagainya.

- beri nutrisi tinggi kalori, bil a perlu dengan nutrisi parenteral

- bila sounde naso gastrik telah dapat dipasang (tanpa memperberat kejang) pemberian makanan peroral hendaknya segera dilaksanakan.

 

2. menjaga agar nafas tetap efisien

- pemebrsihan jalan nafas dari lendir

- pemberian xat asam tambahan

- bila perlu , lakukan trakeostomi (tetanus  berat)

 

3. mengurangi kekakuan dan mengatasi kejang

- antikonvulsan diberikan secara tetrasi, disesuaikan dengan kebutuhan dan respon klinis.

- pada penderita yang cepat memburuk (serangan makin sering dan makin lama), pemberian antikonvulsan dirubah seperti pada awal terapi yaitu mulai lagi dengan pemberian bolus, dilanjutkan dengan dosis rumatan.

Pengobatan rumat

Fenobarbital dosis maintenance : 8-10 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari pertama, kedua diteruskan 4-5 mg/kg BB dibagi 2 dosis pada hari berikutnya

- bila dosis maksimal telah tercapai namun kejang belum teratasi , harus dilakukan pelumpuhan obat secara totoal dan dibantu denga pernafasan maknaik (ventilator)

 

4. Pengobatan penunjang saat serangan kejang adalah :

1.      Semua pakaian ketat dibuka

2.      Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung

3.      Usahakan agar jalan napas bebas  untuk menjamin  kebutuhan oksigen

4.      Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen

.

 

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN  DENGAN TETANUS

 

I. Pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut. (Santosa. NI, 1989, 154)

Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa data serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik, psikososial dan lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga, teman, team kesehatan lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium. Metode pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan cara inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), wawancara (yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data yang diperlukan), catatan (berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang lama), literatur (mencakup semua materi, buku-buku, masalah dan surat kabar).

Pengumpulan data pada kasus tetenus  ini meliputi :

 

a. Data subyektif

1.      Biodata/Identitas

Biodata klien mencakup nama, umur, jenis kelamin.

Biodata dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.

2.      Keluhan utama kejang

3.      Riwayat Penyakit (Darto Suharso, 2000)

Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan :

Apakah disertai demam ?

Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka diketahui apakah infeksi infeksi memegang peranan dalam terjadinya bangkitan kejang. Jarak antara timbulnya kejang dengan demam..

Lama serangan

Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu berlangsung lama. Lama bangkitan kejang kita dapat mengetahui kemungkinan respon terhadap prognosa dan pengobatan.

Pola serangan

Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola serangan apakah bersifat umum, fokal, tonik, klonik ?

Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran seperti epilepsi mioklonik ?

Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai gangguan kesadaran seperti epilepsi akinetik ?

Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi sementara tangan naik sepanjang kepala, seperti pada spasme infantile ?

Pada kejang demam sederhana kejang ini bersifat umum.

Frekuensi serangan

Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang terjadi untuk pertama kali, dan berapa frekuensi kejang per tahun. Prognosa makin kurang baik apabila kejang timbul pertama kali pada umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.

Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan

Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah rangsangan tertentu yang dapat menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah, muntah, sakit kepala dan lain-lain. Dimana kejang dimulai dan bagaimana menjalarnya. Sesudah kejang perlu ditanyakan apakah penderita segera sadar, tertidur, kesadaran menurun, ada paralise, dan sebagainya ?

 

Riwayat penyakit sekarang yang menyertai

Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada penderita epilepsi), gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA, Morbili dan lain-lain.

4.      Riwayat Penyakit Dahulu

Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah penderita pernah mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang terjadi untuk pertama kali ?

Apakah ada riwayat trauma kepala, luka tusuk, lukakotor, adanya benda asing dalam luka yang menyembuh , otitis media, dan cairies gigi, menunjang berkembang biaknya kuman yang menghasilkan endotoksin.

5.      Riwayat kesehatan keluarga.

Kebiasaan perawatan luka dengan menggunakan bahan yang kurang aseptik.

6.      Riwayat sosial

Hubungan interaksi dengan keluarga dan pekrjaannya

7.      Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan

Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana ?

Pola kebiasaan dan fungsi ini meliputi :

Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat

Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan, pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan tindakan medis ?

Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang diderita, pelayanan kesehatan yang diberikan, tindakan apabila ada anggota keluarga yang sakit, penggunaan obat-obatan pertolongan pertama.

Pola nutrisi

Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi  Ditanyakan bagaimana kualitas dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh klien ?

Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak ? Bagaimana selera makan anak ? Berapa kali minum, jenis dan jumlahnya per hari ?

Pola Eliminasi :

BAK    :  ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis ditanyakan bagaimana warna, bau, dan apakah terdapat darah ? Serta ditanyakan apakah disertai nyeri saat  kencing.

BAB    :  ditanyakan kapan waktu BAB, teratur atau tidak ? Bagaimana konsistensinya lunak,keras,cair atau berlendir ?

Pola aktivitas dan latihan

Pola tidur/istirahat

Berapa jam sehari tidur ? Berangkat tidur jam berapa ? Bangun tidur jam berapa ? Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang ?

 

b.  Data Obyektif

1.      Pemeriksaan Umum (Corry S, 2000 hal : 36)

Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. Pada kejang demam sederhana akan didapatkan suhu tinggi sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum kejang tanpa kelainan neurologi.

2.      Pemeriksaan Fisik

Kepala

Rambut

Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut. Pasien dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang jarang, kemerahan seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada pasien.

Muka/ Wajah.

Adakah tanda rhisus sardonicus, opistotonus, trimus ? Apakah ada gangguan nervus cranial ?

Mata

Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ?

Telinga

Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga, keluar cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran.

Hidung

Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat jalan napas ? Apakah keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya ?

Mulut

Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana keadaan lidah? Adakah stomatitis? Berapa jumlah gigi yang tumbuh? Apakah ada caries gigi ?

Tenggorokan

Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi faring, cairan eksudat ?

Leher

Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah pembesaran vena jugulans ?

Thorax

Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan, frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi

Intercostale ? Pada auskultasi, adakah suara napas tambahan ?

Jantung

Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah bunyi tambahan ? Adakah bradicardi atau tachycardia ?

Abdomen

Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ? Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus ? Adakah tanda meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar ?

Kulit

Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah terdapat oedema, hemangioma ? Bagaimana keadaan turgor kulit ?

Ekstremitas

Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang? Bagaimana suhunya pada daerah akral ?

Genetalia

Adakah kelainan bentuk oedema, tanda-tanda infeksi ?

 

c.  Pemeriksaan Penunjang

Tergantung sarana yang tersedia dimana pasien dirawat, pemeriksaannya meliputi :

1.      Darah

Glukosa Darah        :  Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang  (N < 200 mq/dl)

BUN                      :  Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.

Elektrolit                 :  K, Na

Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang

Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )

Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )

2.         Skull Ray                       :    Untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan adanya lesi

3.         EEG                               :    Teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal.

 

d. Analisa dan Sintesa Data

Analisa data merupakan proses intelektual yang meliputi kegiatan mentabulasi, menyeleksi, mengelompokkan, mengaitkan data, menentukan kesenjangan informasi, melihat pola data, membandingakan dengan standar, menginterpretasi dan akhirnya membuat kesimpulan. Hasil analisa data adalah pernyataan masalah keperawatan atau yang disebut diagnosa keperawatan.  

 

 

 

 

 

 

e. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang jelas, singkat, dan pasti tentang masalah pasien/klien serta penyebabnya yang dapat dipecahkan atau diubah melalui tindakan keperawatan.

Diagnosa keperawatan yang muncul adalah :

1.         Risiko terjadinya cedera fisik berhubungan dengan serangan kejang berulang.

2.         Risiko terjadinya ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan sekunder dari depresi pernafasan

3.         Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi sekret yang berlebihan pad ajalan nafas atas.

4.         Kurangnya pengetahuan keluarga tentang penanganan penyakitnya berhubungan dengan keterbatasan informasi yang ditandai

5.         Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan reaksi eksotoksin

 

II. Perencanaan

Perencanaan merupakan keputusan awal tentang apa yang akan dilakukan, bagaimana, kapan itu dilakukan, dan siapa yang akan melakukan kegiatan tersebut. Rencana keperawatan yang memberikan arah pada kegiatan keperawatan. (Santosa. NI, 1989;160)

a. Diagnosa Keperawatan : Risiko terjadinya cedera fisik berhubungan dengan kejang berulang

Tujuan                 :  Klien tidak mengalami cedera selama perawatan

Kriteria hasil        :

1.      Klien tidak ada cedera akibat serangan kejang

2.      klien tidur dengan tempat tidur pengaman

3.      Tidak terjadi serangan kejang ulang.

4.      Suhu 36 – 37,5 º C , Nadi 60-80x/menit (bayi), Respirasi 16-20 x/menit

5.      Kesadaran composmentis

Rencana Tindakan :

INTERVENSI

RASIONAL

1.      Identifikasi dan hindari faktor pencetus

2.      tempatkan klien pada tempat tidur yang memakai pengaman di ruang yang tenang dan nyaman

3.      anjurkan klien istirahat

4.      sediakan disamping tempat tidur tongue spatel dan gudel untuk mencegah lidah jatuh ke belakng apabila klien kejang

5.      lindungi klien pada saat kejang dengan :

-         longgarakn pakaian

-         posisi miring ke satu sisi

-         jauhkan klien dari alat yang dapat melukainya

-         kencangkan pengaman tempat tidur

-         lakukan suction bila banyak sekret

6.      catat penyebab mulainya kejang, proses berapa lama, adanya sianosis dan inkontinesia, deviasi dari mata dan gejala-hgejala lainnya yang timbul.

7.      sesudah kejang observasi TTV setiap 15-30 menit dan obseervasi keadaan klien sampai benar-benar pulih dari kejang

8.      observasi efek samping dan keefektifan obat

9.      observasi adanya depresi pernafasan dan gangguan irama jantung

10.  lakukan pemeriksaan neurologis setelah kejang

11.  kerja sama dengan tim :

-         pemberian obat antikonvulsan dosis tinggi

-         pemeberian antikonvulsan (valium, dilantin, phenobarbital)

-         pemberian oksigen tambahan

-         pemberian cairan parenteral

-         pembuatan CT scan

 

1. Penemuan faktor pencetus untuk memutuskan rantai penyebaran toksin tetanus.

2. Tempat yang nyaman dan tenang dapat mengurangi stimuli atau rangsangan yang dapat menimbulkan kejang

4. efektivitas energi yang dibutuhkan untuk metabolisme.

5. lidah jatung dapat menimbulkan obstruksi jalan nafas.

 

5. tindakan untuk mengurangi atau mencegah terjadinya cedera fisik.

 

 

 

 

 

 

 

 

6. dokumentasi untuk pedoman dalam penaganan berikutnya.

 

 

 

 

7. tanda-tanda vital indikator terhadap perkembangan penyakitnya dan gambaran status umum klien.

 

 

8. efek samping dan efektifnya obat diperlukan motitoring untuk tindakan lanjut.

9 dan 10 kompliksi kejang dapat terjadi depresi pernafasan dan kelainan irama jantung.

 

11. untuk mengantisipasi kejang, kejang berulang dengan menggunakan obat antikonvulsan baik berupa bolus, syringe pump.

 

 

 

b. Diagnosa Keperawatan : Kurang pengetahuan klien dan keluarga tentang penanganan penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan              :  Pengetahuan klien dan keluarga tentang penanganan penyakitnya dapat meningkat.

Kriteria Hasil    :

1.         Klien dan keluarga dapat mengerti proses penyakit dan penanganannya

2.         klien dapat diajak kerja sama dalam program terapi

3.         klien dan keluarga dapat menyatakan melaksanakan penejlasan dna pendidikan kesehatan yang diberikan.

 

 

 

INTERVENSI

RASIONAL

1. Identifikasi tingkat pengetahuan klien dan keluarga

2. Hindari proteksi yang berlebihan terhadap klien , biarkan klien melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuannya.

3. ajarkan pada klein dan keluarga tentang peraawatan yang harus dilakukan sema kejang

4. jelaskan pentingnya mempertahankan status kesehatan yang optimal dengan diit, istirahat, dan aktivitas yang dapat menimbulkan kelelahan.

5. jelasakan tentang efek samping obat (gangguan penglihatan, nausea, vomiting, kemerahan pada kulit, synkope dan konvusion)

6. jaga kebersihan mulut dan gigi secara teratur

1. Tingkat pengetahuan penting untuk modifikasi proses pembelajaran orang dewasa.

2. tidak memanipulasi klien sehingga ada proses kemandirian yang terbatas.

 

3. kerja sama yang baik akanmembantu dalam proses penyembuhannnya

 

4. status kesehatan yang baik membawa damapak pertahanan tubuh baik sehingga tidak timbul penyakit penyerta/penyulit.

 

5. efek samping yang ditemukan secara dini lebih aman dalam penaganannya.

 

6. Kebersihan mulut dan gigi yang baik merupakan dasar salah satu pencegahan terjadinya infeksi berulang.

 

 

2.3.4        Pelaksanaan

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien ( Santosa. NI, 1989;162 )

 

2.3.5        Evaluasi

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya ( Santosa.NI, 1989;162).

 


DAFTAR  PUSTAKA

Lynda Juall C, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, Penerjemah Monica Ester, EGC, Jakarta

Marilyn E. Doenges, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, Penerjemah Kariasa I Made, EGC, Jakarta

Santosa NI, 1989, Perawatan I (Dasar-Dasar Keperawatan), Depkes RI, Jakarta.

Suharso Darto, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, F.K. Universitas Airlangga, Surabaya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2012 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag: , , , , ,

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KLIEN DENGAN LUKA BAKAR (COMBUSTIO)

 

A.     KONSEP DASAR MEDIS

1.      Definisi

Luka bakar adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas, arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih dalam (Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001).

 

2.      Etiologi

a.       Luka bakar termal (cedera terbakar, kontak dan kobaran api).

b.      Luka bakar listrik.

c.       Luka bakar kimia.

d.      Luka bakar radiasi.

 

3.      Fase Luka Bakar

a.      Fase akut.

Disebut sebagai fase awal atau fase syok. Secara umum pada fase ini, seorang penderita akan berada dalam keadaan yang bersifat relatif life thretening. Dalam fase awal penderita akan mengalami ancaman gangguan airway (jalan nafas), brething (mekanisme bernafas), dan circulation (sirkulasi). Gnagguan airway tidak hanya dapat terjadi segera atau beberapa saat setelah terbakar, namun masih dapat terjadi obstruksi saluran pernafasan akibat cedera inhalasi dalam 48-72 jam pasca trauma. Cedera inhalasi adalah penyebab kematian utama penderiat pada fase akut.

Pada fase akut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit akibat cedera termal yang berdampak sistemik. Problema sirkulasi yang berawal dengan kondisi syok (terjadinya ketidakseimbangan antara paskan O2 dan tingkat kebutuhan respirasi sel dan jaringan) yang bersifat hipodinamik dapat berlanjut dengan keadaan hiperdinamik yang masih ditingkahi denagn problema instabilitas sirkulasi.

 

b.      Fase sub akut.

Berlangsung setelah fase syok teratasi. Masalah yang terjadi adalah kerusakan atau kehilangan jaringan akibat kontak denga sumber panas. Luka yang terjadi menyebabkan:

1)      Proses inflamasi dan infeksi.

2)      Problempenuutpan luka dengan titik perhatian pada luka telanjang atau tidak berbaju epitel luas dan atau pada struktur atau organ – organ fungsional.

3)      Keadaan hipermetabolisme.

 

c.       Fase lanjut.

Fase lanjut akan berlangsung hingga terjadinya maturasi parut akibat luka dan pemulihan fungsi organ-organ fungsional. Problem yang muncul pada fase ini adalah penyulit berupa parut yang hipertropik, kleoid, gangguan pigmentasi, deformitas dan kontraktur.

 

 

 

 

 

4.      Klasifikasi Luka Bakar

a.      Dalamnya luka bakar.

Kedalaman

Penyebab

Penampilan

Warna

Perasaan

Ketebalan partial superfisial

(tingkat I)

Jilatan api, sinar ultra violet (terbakar oleh matahari). Kering tidak ada gelembung.

Oedem minimal atau tidak ada.

Pucat bila ditekan dengan ujung jari, berisi kembali bila tekanan dilepas.

Bertambah merah. Nyeri
Lebih dalam dari ketebalan partial

(tingkat II)

-      Superfisial

-      Dalam

 

Kontak dengan bahan air atau bahan padat.

Jilatan api kepada pakaian.

Jilatan langsung kimiawi.

Sinar ultra violet.

 

Blister  besar dan lembab yang ukurannya bertambah besar.

Pucat bial ditekan dengan ujung jari, bila tekanan dilepas berisi kembali.

Berbintik-bintik yang kurang jelas, putih, coklat, pink, daerah merah coklat. Sangat nyeri
Ketebalan sepenuhnya

(tingkat III)

Kontak dengan bahan cair atau padat.

Nyala api.

Kimia.

Kontak dengan arus listrik.

Kering disertai kulit mengelupas.

Pembuluh darah seperti arang terlihat dibawah kulit yang mengelupas.

Gelembung jarang, dindingnya sangat tipis, tidak membesar.

Tidak pucat bila ditekan.

Putih, kering, hitam, coklat tua.

Hitam.

Merah.

Tidak sakit, sedikit sakit.

Rambut mudah lepas bila dicabut.

 

b.      Luas luka bakar

Wallace membagi tubuh atas bagian 9% atau kelipatan 9 yang terkenal dengan nama rule of nine atua rule of wallace yaitu:

1) Kepala dan leher                                                : 9%

2) Lengan masing-masing 9%                                  : 18%

3) Badan depan 18%, badan belakang 18%            : 36%

4) Tungkai maisng-masing 18%                               : 36%

5) genetalia/perineum                                              : 1%

Total                                                                 : 100%

 

c.       Berat ringannya luka bakar

American college of surgeon membagi dalam:

1)      Parah – critical:

a) Tingkat II                 : 30% atau lebih.

b) Tingkat III                : 10% atau lebih.

c) Tingkat III pada tangan, kaki dan wajah.

d) Dengan adanya komplikasi penafasan, jantung, fractura, soft tissue yang luas.

 

2)      Sedang – moderate:

a) Tingkat II                 : 15 – 30%

b) Tingkat III                : 1 – 10%

 

3)      Ringan – minor:

a) Tingkat II                 : kurang 15%

b) Tingkat III                : kurang 1%

 

 

 

5.      Patofisiologi Luka Bakar

Eritrosit                                                                                               Metabolisme      anemia          Perubahan nutrisi:kurang kebutuhan                            Glukoneogenesis                                      Glikogenolisis

 

                                                                                                          Resiko   infeksi                                                                                     Kebutuhan O2

Luka bakar luas        Resiko kerusakan Pertukaran gas

 

  Aldosteron                                               Sekresi adrenal                                Depresi miokard/ MDF

 

                                                             Katekolamin release                          Insufisiensi miokard

 

                          Renal flow                         Vasokontriksi            H2O loss            cardiac output

 

Retensi Na+          GFR                                Splenic flow           hipovolemik           Ggn perfusi jar.

 

K+ loss          Gagal ginjal                       Hipoksia hepar                                          Asidosis

 

Gagal hepar    Gangguan perfusi jaringan

  Resiko kekurangan volume cairan

Nyeri

Ansietas

Kerusakan mobilitas fisik

 

 

 

( Hudak & Gallo; 1997)

 

 

 

 

 

 

 

 

6.      Perubahan Fisiologis Pada Luka Bakar

 

Peruba-

han

Tingkatan hipovolemik

( s/d 48-72 jam pertama)

Tingkatan diuretik

(12 jam – 18/24 jam pertama)

Mekanisme

Dampak dari…

Mekanisme

Dampak dari…

Pergeseran cairan ekstra

seluler.

Vaskuler ke insterstitial. Hemokonsentrasi oedem pada lokasi luka bakar. Interstitial ke vaskuler. Hemodilusi.
Fungsi renal. Aliran darah renal berkurang karena desakan darah turun dan CO berkurang. Oliguri. Peningkatan aliran darah renal karena desakan darah meningkat. Diuresis.
Kadar sodium/

natrium.

Na+ direabsorbsi oleh ginjal, tapi kehilangan Na+ melalui eksudat dan tertahan dalam cairan oedem. Defisit sodium. Kehilangan Na+ melalui diuresis (normal kembali setelah 1 minggu). Defisit sodium.
Kadar potas

sium.

K+ dilepas sebagai akibat cidera jarinagn sel-sel darah merah, K+ berkurang ekskresi karena fungsi renal berkurang. Hiperkalemi K+ bergerak kembali ke dalam sel, K+ terbuang melalui diuresis (mulai 4-5 hari setelah luka bakar). Hipokalemi.
Kadar protein. Kehilangan protein ke dalam jaringan akibat kenaikan permeabilitas. Hipoproteinemia. Kehilangan protein waktu berlangsung terus katabolisme. Hipoproteine-

mia.

Keseim-

bangan nitrogen.

Katabolisme jaringan, kehilangan protein dalam jaringan, lebih banyak kehilangan dari masukan. Keseimbangan nitrogen negatif. Katabolisme jaringan, kehilangan protein, immobilitas. Keseimbangan nitrogen negatif.
Keseim-

bnagan asam basa.

Metabolisme anaerob karena perfusi jarinagn berkurang peningkatan asam dari produk akhir, fungsi renal berkurang (menyebabkan retensi produk akhir tertahan), kehilangan bikarbonas serum. Asidosis metabolik. Kehilangan sodium bicarbonas melalui diuresis, hipermetabolisme disertai peningkatan produk akhir metabolisme. Asidosis metabolik.
Respon stres. Terjadi karena trauma, peningkatan produksi cortison. Aliran darah renal berkurang. Terjadi karena sifat cidera berlangsung lama dan terancam psikologi pribadi. Stres karena luka.
Eritrosit Terjadi karena panas, pecah menjadi fragil. Luka bakar termal. Tidak terjadi pada hari-hari pertama. Hemokonsentrasi.
Lambung. Curling ulcer (ulkus pada gaster), perdarahan lambung, nyeri. Rangsangan central di hipotalamus dan peingkatan jumlah cortison. Akut dilatasi dan paralise usus. Peningkatan jumlah cortison.
Jantung. MDF meningkat 2x lipat, merupakan glikoprotein yang toxic yang dihasilkan oleh kulit yang terbakar. Disfungsi jantung. Peningkatan zat MDF (miokard depresant factor) sampai 26 unit, bertanggung jawab terhadap syok spetic. CO menurun.

 

7.      Indikasi Rawat Inap Luka Bakar

a.       Luka bakar grade II:

1)      Dewasa > 20%

2)      Anak/orang tua > 15%

b.      Luka bakar grade III.

c.       Luka bakar dengan komplikasi: jantung, otak dll.

 

 

 

8.      Penatalaksanaan

Seperti menangani kasus emergency umum yaitu:

a.      Resusitasi A, B, C.

1)      Pernafasan:

a)      Udara panas à mukosa rusak à oedem à obstruksi.

b)      Efek toksik dari asap: HCN, NO2, HCL, Bensin à iritasi à Bronkhokontriksi à obstruksi à gagal nafas.

2)      Sirkulasi:

a)      gangguan permeabilitas kapiler: cairan dari intra vaskuler pindah ke ekstra vaskuler à hipovolemi relatif à syok à ATN à gagal ginjal.

 

b.      Infus, kateter, CVP, oksigen, Laboratorium, kultur luka.

c.       Resusitasi cairan  à  Baxter.

1)      Dewasa : Baxter.

RL 4 cc x BB x % LB/24 jam.

2)      Anak: jumlah resusitasi + kebutuhan faal:

RL : Dextran = 17 : 3

2 cc x BB x % LB.

3)      Kebutuhan faal:

< 1 tahun          : BB x 100 cc

1 – 3 tahun       : BB x 75 cc

3 – 5 tahun       : BB x 50 cc

½ à diberikan  8 jam pertama

½ à diberikan  16 jam berikutnya.

Hari kedua:

Dewasa            : Dextran 500 – 2000 + D5% / albumin.

( 3-x) x 80 x BB gr/hr

100

(Albumin 25% = gram x 4 cc) à 1 cc/mnt.

Anak                : Diberi sesuai kebutuhan faal.

 

d.      Monitor urine dan CVP.

e.       Topikal dan tutup  luka

-          Cuci luka dengan savlon : NaCl 0,9% ( 1 : 30 ) + buang jaringan nekrotik.

-          Tulle.

-          Silver sulfa diazin tebal.

-          Tutup kassa tebal.

-          Evaluasi 5 – 7 hari, kecuali balutan kotor.

f.        Obat – obatan:

- Antibiotika           : tidak diberikan bila pasien datang < 6 jam sejak kejadian.

- Bila perlu berikan antibiotika sesuai dengan pola kuman dan sesuai hasil kultur.

- Analgetik : kuat (morfin, petidine)

- Antasida  : kalau perlu

.

 

B.     KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian ( Doengoes, 2000 )

 

a.      Aktifitas/istirahat:

Tanda: Penurunan kekuatan, tahanan; keterbatasan rentang gerak pada area yang sakit; gangguan massa otot, perubahan tonus.

b.      Sirkulasi:

Tanda ( dengan cedera luka bakar lebih dari 20% APTT): hipotensi (syok); penurunan nadi perifer distal pada ekstremitas yang cedera; vasokontriksi perifer umum dengan kehilangan nadi, kulit putih dan dingin (syok listrik); takikardia (syok/ansietas/nyeri); disritmia (syok listrik); pembentukan oedema jaringan (semua luka bakar).

c.       Integritas ego:

Gejala: masalah tentang keluarga, pekerjaan, keuangan, kecacatan.

Tanda: ansietas, menangis, ketergantungan, menyangkal, menarik diri, marah.

d.      Eliminasi:

Tanda: haluaran urine menurun/tak ada selama fase darurat; warna mungkin hitam kemerahan bila terjadi mioglobin, mengindikasikan kerusakan otot dalam; diuresis (setelah kebocoran kapiler dan mobilisasi cairan ke dalam sirkulasi); penurunan bising usus/tak ada; khususnya pada luka bakar kutaneus lebih besar dari 20% sebagai stres penurunan motilitas/peristaltik gastrik.

e.       Makanan/cairan:

Tanda: oedema jaringan umum; anoreksia; mual/muntah.

f.        Neurosensori:

Gejala: area batas; kesemutan.

Tanda: perubahan orientasi; afek, perilaku; penurunan refleks tendon dalam (RTD) pada cedera ekstremitas; aktifitas kejang (syok listrik); laserasi korneal; kerusakan retinal; penurunan ketajaman penglihatan (syok listrik); ruptur membran timpanik (syok listrik); paralisis (cedera listrik pada aliran saraf).

g.      Nyeri/kenyamanan:

Gejala: Berbagai nyeri; contoh luka bakar derajat pertama secara eksteren sensitif untuk disentuh; ditekan; gerakan udara dan perubahan suhu; luka bakar ketebalan sedang derajat kedua sangat nyeri; smentara respon pada luka bakar ketebalan derajat kedua tergantung pada keutuhan ujung saraf; luka bakar derajat tiga tidak nyeri.

h.      Pernafasan:

Gejala: terkurung dalam ruang tertutup; terpajan lama (kemungkinan cedera inhalasi).

Tanda: serak; batuk mengii; partikel karbon dalam sputum; ketidakmampuan menelan sekresi oral dan sianosis; indikasi cedera inhalasi.

Pengembangan torak mungkin terbatas pada adanya luka bakar lingkar dada; jalan nafas atau stridor/mengii (obstruksi sehubungan dengan laringospasme, oedema laringeal); bunyi nafas: gemericik (oedema paru); stridor (oedema laringeal); sekret jalan nafas dalam (ronkhi).

i.        Keamanan:

Tanda:

Kulit umum: destruksi jarinagn dalam mungkin tidak terbukti selama 3-5 hari sehubungan dengan proses trobus mikrovaskuler pada beberapa luka.

Area kulit tak terbakar mungkin dingin/lembab, pucat, dengan pengisian kapiler lambat pada adanya penurunan curah jantung sehubungan dengan kehilangan cairan/status syok.

Cedera api: terdapat area cedera campuran dalam sehubunagn dengan variase intensitas panas yang dihasilkan bekuan terbakar. Bulu hidung gosong; mukosa hidung dan mulut kering; merah; lepuh pada faring posterior;oedema lingkar mulut dan atau lingkar nasal.

Cedera kimia: tampak luka bervariasi sesuai agen penyebab.

Kulit mungkin coklat kekuningan dengan tekstur seprti kulit samak halus; lepuh; ulkus; nekrosis; atau jarinagn parut tebal. Cedera secara mum ebih dalam dari tampaknya secara perkutan dan kerusakan jaringan dapat berlanjut sampai 72 jam setelah cedera.

Cedera listrik: cedera kutaneus eksternal biasanya lebih sedikit di bawah nekrosis. Penampilan luka bervariasi dapat meliputi luka aliran masuk/keluar (eksplosif), luka bakar dari gerakan aliran pada proksimal tubuh tertutup dan luka bakar termal sehubungan dengan pakaian terbakar.

Adanya fraktur/dislokasi (jatuh, kecelakaan sepeda motor, kontraksi otot tetanik sehubungan dengan syok listrik).

 

j.        Pemeriksaan diagnostik:

LED: mengkaji hemokonsentrasi.

Elektrolit serum mendeteksi ketidakseimbangan cairan dan biokimia. Ini terutama penting untuk memeriksa kalium terdapat peningkatan dalam 24 jam pertama karena peningkatan kalium dapat menyebabkan henti jantung.

Gas-gas darah arteri (GDA) dan sinar X dada mengkaji fungsi pulmonal, khususnya pada  cedera inhalasi asap.

BUN dan kreatinin mengkaji fungsi ginjal.

Urinalisis menunjukkan mioglobin dan hemokromogen menandakan kerusakan otot pada luka bakar ketebalan penuh luas.

Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.

Koagulasi memeriksa faktor-faktor pembekuan yang dapat menurun pada luka bakar masif.

Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi asap.

 

 

2.      Diagnosa Keperawatan ( Doengoes ; 2000)

a.       Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif  berhubungan dengan obtruksi trakeabronkial;edema mukosa dan hilangnya kerja silia ; luka bakar daerah leher; kompresi jalan nafas thorak dan dada.

b.      Resiko tinggi  kekurangan volume cairan b/d. Kehilangan cairan melalui rute abnormal; status hypermetabolik

c.       Resiko kerusakan pertukaran gas b/d cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.

d.      Resiko infeksi b/d. Pertahanan primer tidak adequat; kerusakan perlinduingan kulit; jaringan traumatik.

e.       Nyeri b/d. Kerusakan kulit/jaringan; bentukam edem; manifulasi jaringan cidera.

f.        Resiko kerusakan perfusi jarinagn b/d luka bakar melingkari ekstremitas atau luka bakar listrik dalam.

g.       Gangguan citra tubuh (penampilan peran) b/d krisis situasi; kecacatan ;nyeri.

h.       Kerusakan  integritas kulit b/d destruksi lapisan kulit

 

 

3.      Rencana Intervensi dan Rasional

Diagnosa Keperawatan

Rencana Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

 

Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif b/d obstruksi trakheobronkhial; oedema mukosa; kompressi jalan nafas .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Resiko kekurangan volume cairan b/d luka bakar luas.

 

Bersihan jalan nafas tetap efektif.

Kriteria Hasil : Bunyi nafas vesikuler, RR dalam batas normal, bebas dispnoe/cyanosis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasien dapat mendemostrasikan status cairan dan biokimia membaik.

Kriteria evaluasi: tak ada manifestasi dehidrasi, resolusi oedema, elektrolit serum dalam batas normal, haluaran urine di atas 30 ml/jam.

 

Awasi tanda vital, CVP. Perhatikan kapiler dan kekuatan nadi perifer.

 

Awasi pengeluaran urine dan berat jenisnya. Observasi warna urine dan hemates sesuai indikasi.

 

 

 

Pantau drainase luka dan kejilangan yang tampak

 

 

 

 

Timbang berat badan setiap hari

 

 

 

Ukur lingkar ekstremitas yang terbakar tiap hari sesuai indikasi

 

 

Selidiki perubahan mental

 

 

 

Observasi distensi abdomen,hematomesis,feces hitam.

Hemates drainase NG dan feces secara periodik.

 

 

Lakukan program kolaborasi meliputi :

 

Pasang / pertahankan kateter urine

 

Berikan penggantian cairan IV yang dihitung, elektrolit, plasma, albumin.

Awasi hasil pemeriksaan laboratorium ( Hb, elektrolit, natrium ).

Berikan obat sesuai idikasi :

-          Diuretiaka

 

-          Kalium

 

-          Antasida

 

 

 

 

 

 

Pantau:

-    Tanda-tanda vital setiap jam selama periode darurat, setiap 2 jam selama periode akut, dan setiap 4 jam selama periode rehabilitasi.

-    Warna urine.

-    Masukan dan haluaran setiap jam selama periode darurat, setiap 4 jam selam aperiode akut, setiap 8 jam selama periode rehabilitasi.

-    Hasil-hasil JDL dan laporan elektrolit.

-    Berat badan setiap hari.

-    CVP (tekanan vena sentral) setiap jam bial diperlukan.

-    Status umum setiap 8 jam.

 

Pada penerimaan rumah sakit, lepaskan semua pakaian dan perhiasan dari area luka bakar.

Mulai terapi IV yang ditentukan dengan jarum lubang besar (18G), lebih disukai melalui kulit yang telah terluka bakar. Bila pasien menaglami luka bakar luas dan menunjukkan gejala-gejala syok hipovolemik, bantu dokter dengan pemasangan kateter vena sentral untuk pemantauan CVP.

 

Beritahu dokter bila: haluaran urine < 30 ml/jam, haus, takikardia, CVP < 6 mmHg, bikarbonat serum di bawah rentang normal, gelisah, TD di bawah rentang normal, urine gelap atau encer gelap.

 

Konsultasi doketr bila manifestasi kelebihan cairan terjadi.

 

 

 

 

 

Tes guaiak muntahan warna kopi atau feses ter hitam. Laporkan temuan-temuan positif.

 

 

 

Berikan antasida yag diresepkan atau antagonis reseptor histamin seperti simetidin.

 

 

Memberikan pedoman untuk penggantian cairan dan mengkaji respon kardiovaskuler.

 

Penggantian cairan dititrasi  untuk meyakinkan rata-2 pengeluaran urine 30-50 cc/jam pada orang dewasa. Urine berwarna merah pada kerusakan otot masif karena adanyadarah dan keluarnya mioglobin.

 

Peningkatan permeabilitas kapiler, perpindahan protein, proses inflamasi dan kehilangan cairan melalui evaporasi mempengaruhi volume sirkulasi dan pengeluaran urine.

 

 

Penggantian cairan tergantung pada berat badan pertama dan perubahan selanjutnya

 

 

Memperkirakan luasnya oedema/perpindahan cairan yang mempengaruhi volume sirkulasi dan pengeluaran urine.

 

 

Penyimpangan pada tingkat kesadaran dapat mengindikasikan ketidak adequatnya volume sirkulasi/penurunan perfusi serebral

 

Stres (Curling) ulcus terjadi pada setengah dari semua pasien yang luka bakar berat(dapat terjadi pada awal minggu pertama).

 

 

 

Observasi ketat fungsi ginjal dan mencegah stasis atau refleks urine.

Resusitasi cairan menggantikan kehilangan cairan/elektrolit dan membantu mencegah komplikasi.

Mengidentifikasi kehilangan darah/kerusakan SDM dan kebutuhan penggantian  cairan dan elektrolit.

 

Meningkatkan pengeluaran urine dan membersihkan tubulus dari debris /mencegah nekrosis.

Penggantian lanjut karena kehilangan urine dalam jumlah besar

Menurunkan keasaman gastrik sedangkan inhibitor histamin menurunkan produksi asam hidroklorida untuk menurunkan produksi asam hidroklorida untuk menurunkan iritasi gaster.

 

 

 

Mengidentifikasi penyimpangan indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Periode darurat (awal 48 jam pasca luka bakar) adalah periode kritis yang ditandai oleh hipovolemia yang mencetuskan individu pada perfusi ginjal dan jarinagn tak adekuat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Inspeksi adekuat dari luka bakar.

 

Penggantian cairan cepat penting untuk mencegah gagal ginjal. Kehilangan cairan bermakna terjadi melalui jarinagn yang terbakar dengan luka bakar luas. Pengukuran tekanan vena sentral memberikan data tentang status volume cairan intravaskular.

 

 

Temuan-temuan ini mennadakan hipovolemia dan perlunya peningkatan cairan. Pada lka bakar luas, perpindahan cairan dari ruang intravaskular ke ruang interstitial menimbukan hipovolemi.

 

Pasien rentan pada kelebihan beban volume intravaskular selama periode pemulihan bila perpindahan cairan dari kompartemen interstitial pada kompartemen intravaskuler.

Temuan-temuan guaiak positif ennandakan adanya perdarahan GI. Perdarahan GI menandakan adaya stres ulkus (Curling’s).

 

Mencegah perdarahan GI. Luka bakar luas mencetuskan pasien pada ulkus stres yang disebabkan peningkatan sekresi hormon-hormon adrenal dan asam HCl oleh lambung.

Resiko kerusakan pertukaran gas b/d cedera inhalasi asap atau sindrom kompartemen torakal sekunder terhadap luka bakar sirkumfisial dari dada atau leher.

 

Pasien dapat mendemonstrasikan oksigenasi adekuat.

Kriteroia evaluasi: RR 12-24 x/mnt, warna kulit normal, GDA dalam renatng normal, bunyi nafas bersih, tak ada kesulitan bernafas.

Pantau laopran GDA dan kadar karbon monoksida serum.

 

 

Beriakan suplemen oksigen pada tingkat yang ditentukan. Pasang atau bantu dengan selang endotrakeal dan temaptkan pasien pada ventilator mekanis sesuai pesanan bila terjadi insufisiensi pernafasan (dibuktikan dnegna hipoksia, hiperkapnia, rales, takipnea dan perubahan sensorium).

 

Anjurkan pernafasan dalam dengan penggunaan spirometri insentif setiap 2 jam selama tirah baring.

 

Pertahankan posisi semi fowler, bila hipotensi tak ada.

Untuk luka bakar sekitar torakal, beritahu dokter bila terjadi dispnea disertai dengan takipnea. Siapkan pasien untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan.

Mengidentifikasi kemajuan dna penyimpangan dari hasil yang diharapkan. Inhalasi asap dapat merusak alveoli, mempengaruhi pertukaran gas pada membran kapiler alveoli.

Suplemen oksigen meningkatkan jumlah oksigen yang tersedia untuk jaringan. Ventilasi mekanik diperlukan untuk pernafasan dukungan sampai pasie dapat dilakukan secara mandiri.

 

 

 

Pernafasan dalam mengembangkan alveoli, menurunkan resiko atelektasis.

 

Memudahkan ventilasi dengan menurunkan tekanan abdomen terhadap diafragma.

Luka bakar sekitar torakal dapat membatasi ekspansi adda. Mengupas kulit (eskarotomi) memungkinkan ekspansi dada.

Resiko infeksi b/d pertahanan primer tidak adekuat, kerusakan perlindunga kulit.

 

Pasien bebas dari infeksi.

Kriteria evaluasi: tak ada demam, pembentukan jaringan granulasi baik.

Pantau:

-    Penampilan luka bakar (area luka bakar, sisi donor dan status balutan di atas sisi tandur bial tandur kulit dilakukan) setiap 8 jam.

-    Suhu setiap 4 jam.

-    Jumlah makanan yang dikonsumsi setiap kali makan.

-

Bersihakn area luka bakar setiap hari dan lepaskan jarinagn nekrotik (debridemen) sesuai pesanan. Berikan mandi kolam sesuai pesanan, implementasikan perawatan yang ditentukan untuk sisi donor, yang dapat ditutup dengan balutan vaseline atau op site.

 

Lepaskan krim lama dari luka sebelum pemberian krim baru. Gunakan sarung tangan steril dan beriakn krim antibiotika topikal yang diresepkan pada area luka bakar dengan ujung jari. Berikan krim secara menyeluruh di atas luka.

 

Beritahu dokter bila demam drainase purulen atau bau busuk dari area luka bakar, sisi donor atau balutan sisi tandur. Dapatkan kultur luka dan berikan antibiotika IV sesuai ketentuan.

 

 

Tempatkan pasien pada ruangan khusus dan lakukan kewaspadaan untuk luka bakar luas yang mengenai area luas tubuh. Gunakan linen tempat tidur steril, handuk dan skort untuk pasien. Gunakan skort steril, sarung tangan dan penutup kepala dengan masker bila memberikan perawatan pada pasien. Tempatkan radio atau televisis pada ruangan pasien untuk menghilangkan kebosanan.

 

Bial riwayat imunisasi tak adekuat, berikan globulin imun tetanus manusia (hyper-tet) sesuai pesanan.

 

Mulai rujukan pada ahli diet, beriakn protein tinggi, diet tinggi kalori. Berikan suplemen nutrisi seperti ensure atau sustacal dengan atau antara makan bila masukan makanan kurang dari 50%. Anjurkan NPT atau makanan enteral bial pasien tak dapat makan per oral.

 

Mengidentifikasi indikasi-indikasi kemajuan atau penyimapngan dari hasil yang diharapkan.

 

 

 

 

 

 

Pembersihan dan pelepasan jaringan nekrotik meningkatkan pembentukan granulasi.

 

 

 

 

Antimikroba topikal membantu mencegah infeksi. Mengikuti prinsip aseptik melindungi pasien dari infeksi. Kulit yang gundul menjadi media yang baik untuk kultur pertumbuhan baketri.

 

 

Temuan-temuan ini mennadakan infeksi. Kultur membantu mengidentifikasi patogen penyebab sehingga terapi antibiotika yang tepat dapat diresepkan. Karena balutan siis tandur hanya diganti setiap 5-10 hari, sisi ini memberiakn media kultur untuk pertumbuhan bakteri.

 

Kulit adalah lapisan pertama tubuh untuk pertahanan terhadap infeksi. Teknik steril dan tindakan perawatan perlindungan lainmelindungi pasien terhadap infeksi. Kurangnya berbagai rangsang ekstrenal dan kebebasan bergerak mencetuskan pasien pada kebosanan.

 

 

 

 

Melindungi terhadap tetanus.

 

 

Ahli diet adalah spesialis nutrisi yang dapat mengevaluasi paling baik status nutrisi pasien dan merencanakan diet untuk emmenuhi kebuuthan nutrisi penderita. Nutrisi adekuat memabntu penyembuhan luka dan memenuhi kebutuhan energi.

Nyeri b/d kerusakan kulit/jaringan, pembentukan oedema, manipulasi jaringan cedera.

 

Pasien dapat mendemonstrasikan hilang dari ketidaknyamanan.

Kriteria evaluasi: menyangkal nyeri, melaporkan perasaan nyaman, ekspresi wajah dan postur tubuh rileks.

Berikan anlgesik narkotik yang diresepkan prn dan sedikitnya 30 menit sebelum prosedur perawatan luka. Evaluasi keefektifannya. Anjurkan analgesik IV bila luka bakar luas.

 

 

Pertahankan pintu kamar tertutup, tingkatkan suhu ruangan dan berikan selimut ekstra untuk memberikan kehangatan.

 

Berikan ayunan di atas temapt tidur bila diperlukan.

 

 

Bnatu dengan pengubahan posisi setiap 2 jam bila diperlukan. Dapatkan bantuan tambahan sesuai kebutuhan, khususnya bila pasien tak dapat membantu membalikkan badan sendiri.

 

Analgesik narkotik diperlukan utnuk memblok jaras nyeri dengan nyeri berat. Absorpsi obat IM buruk pada pasien dengan luka bakar luas yang disebabkan oleh perpindahan interstitial berkenaan dnegan peningkatan permeabilitas kapiler.

 

Panas dan air hilang melalui jaringan luka bakar, menyebabkan hipoetrmia. Tindakan eksternal ini membantu menghemat kehilangan panas.

 

Menururnkan neyri dengan mempertahankan berat badan jauh dari linen temapat tidur terhadap luka dan menuurnkan pemajanan ujung saraf pada aliran udara.

Menghilangkan tekanan pada tonjolan tulang dependen. Dukungan adekuat pada luka bakar selama gerakan membantu meinimalkan ketidaknyamanan.

Resiko kerusakan perfusi jaringan b/d luka bakar melingkari ekstremitas atau luka bakar listrik dalam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kerusakan integritas kulit b/d kerusakan permukaan kulit sekunder destruksi lapisan kulit.

 

Pasien menunjukkan sirkulasi tetap adekuat.

Kriteria evaluasi: warna kulit normal, menyangkal kebas dan kesemutan, nadi perifer dapat diraba.

 

 

 

 

 

 

 

 

Memumjukkan regenerasi jaringan

Kriteria hasil:  Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka bakar.

Untuk luka bakar yang mengitari ekstermitas atau luka bakar listrik, pantau status neurovaskular dari ekstermitas setaip 2 jam.

 

Pertahankan ekstermitas bengkak ditinggikan.

 

 

Beritahu dokter dengan segera bila terjadi nadi berkurang, pengisian kapiler buruk, atau penurunan sensasi. Siapkan untuk pembedahan eskarotomi sesuai pesanan.

 

Kaji/catat ukuran, warna, kedalaman luka, perhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.

 

 

Lakukan perawatan luka bakar yang tepat dan tindakan kontrol infeksi.

 

Pertahankan penutupan luka sesuai indikasi.

 

 

 

Tinggikan area graft bila mungkin/tepat. Pertahankan posisi yang diinginkan dan imobilisasi area bila diindikasikan.

 

Pertahankan balutan diatas area graft baru dan/atau sisi donor sesuai indikasi.

 

Cuci sisi dengan sabun ringan, cuci, dan minyaki dengan krim, beberapa waktu dalam sehari, setelah balutan dilepas dan penyembuhan selesai.

 

Lakukan program kolaborasi :

- Siapkan / bantu prosedur bedah/balutan biologis.

Mengidentifikasi indikasi-indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.

 

 

Meningkatkan aliran balik vena dan menurunkan pembengkakan.

 

Temuan-temuan ini menandakan keruskana sirkualsi distal. Dokter dapat mengkaji tekanan jaringan untuk emnentukan kebutuhan terhadap intervensi bedah. Eskarotomi (mengikis pada eskar) atau fasiotomi mungkin diperlukan untuk memperbaiki sirkulasi adekuat.

 

Memberikan informasi dasar tentang kebutuhan penanaman kulit dan kemungkinan petunjuk tentang sirkulasi pada aera graft.

 

Menyiapkan jaringan untuk penanaman dan menurunkan resiko infeksi/kegagalan kulit.

 

Kain nilon/membran silikon mengandung kolagen porcine peptida yang melekat pada permukaan luka sampai lepasnya atau mengelupas secara spontan kulit repitelisasi.

 

Menurunkan pembengkakan /membatasi resiko pemisahan graft. Gerakan jaringan dibawah graft dapat mengubah posisi yang mempengaruhi penyembuhan optimal.

 

Area mungkin ditutupi oleh bahan dengan permukaan tembus pandang tak reaktif.

 

Kulit graft baru dan sisi donor yang sembuh memerlukan perawatan khusus untuk mempertahankan kelenturan.

 

 

 

Graft kulit diambil dari kulit orang itu sendiri/orang lain untuk penutupan sementara pada luka bakar luas sampai kulit orang itu siap ditanam.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

1.        Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah: Suatu Pendekatan Proses Keperawatan, The C.V Mosby Company St. Louis, USA.

2.        Barbara Engram (1998), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal – Bedah Jilid II Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

3.        Donna D. Ignatavicius (1991), Medical Surgical Nursing: A Nursing Process Approach, WB. Sauders Company, Philadelphia.

4.        Guyton & Hall (1997), Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 9, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta

5.        Hudak & Gallo (1997), Keperawatan Kritis: Pendekatan Holistik Volume I, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.

6.        Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Soetomo Surabaya (2001), Pendidikan Keperawatan Berkelanjutan (PKB V) Tema: Asuhan Keperawatan Luka Bakar Secara Paripurna, Instalasi Rawat Inap Bedah RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

7.        Marylin E. Doenges (2000), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta.

8.        R. Sjamsuhidajat, Wim De Jong (1997), Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

9.       Sylvia A. Price (1995), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Edisi 4 Buku 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2012 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag: , , , , , ,

CHOLELITHIASIS ( BATU EMPEDU )

CHOLELITHIASIS

( BATU EMPEDU )

 

I.                               Pengertian :

a.       Batu saluran empedu : adanya batu yang terdapat  pada sal. empedu (Duktus Koledocus ).

b.      Batu Empedu(kolelitiasis) : adanya batu yang terdapat pada kandung empedu.

c.       Radang empedu (Kolesistitis) : adanya radang pada kandung empedu.

d.      Radang saluran empedu (Kolangitis) : adanya radang pada saluran empedu.

 

II.                            Penyebab:

Batu di dalam kandung empedu. Sebagian besar batu tersusun dari pigmen-pigmen empedu dan kolesterol, selain itu juga tersusun oleh bilirubin, kalsium dan protein.

Macam-macam batu yang terbentuk antara lain:

1.      Batu empedu kolesterol, terjadi karena : kenaikan sekresi kolesterol dan penurunan produksi empedu.

Faktor lain yang berperan dalam pembentukan batu:

  • Infeksi kandung empedu
  • Usia yang bertambah
  • Obesitas
  • Wanita
  • Kurang makan sayur
  • Obat-obat untuk menurunkan kadar serum kolesterol

2.  Batu pigmen empedu , ada dua macam;

  • Batu pigmen hitam : terbentuk di dalam kandung empedu dan disertai hemolisis kronik/sirosis hati tanpa infeksi
  • Batu pigmen coklat  :  bentuk lebih besar , berlapis-lapis, ditemukan disepanjang saluran empedu, disertai bendungan dan infeksi

3. Batu saluran empedu

Sering dihubungkan dengan divertikula duodenum didaerah vateri. Ada dugaan bahwa kelainan anatomi atau pengisian divertikula oleh makanan akan menyebabkan obstruksi intermiten duktus koledokus dan bendungan ini memudahkan timbulnya infeksi dan pembentukan batu.

 

III.                         Pathofisiologi :

Batu empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang pada saluran empedu lainnya.

Faktor predisposisi yang penting adalah :

  • Perubahan metabolisme yang disebabkan oleh perubahan susunan empedu
  • Statis empedu
  • Infeksi kandung empedu

Perubahan susunan empedu mungkin merupakan faktor yang paling penting  pada pembentukan batu empedu. Kolesterol yang berlebihan akan mengendap dalam kandung empedu .

Stasis empedu dalam kandung empedu dapat mengakibatkan supersaturasi  progresif, perubahan susunan kimia dan pengendapan unsur tersebut. Gangguan kontraksi kandung empedu dapat menyebabkan stasis. Faktor hormonal khususnya selama kehamilan dapat dikaitkan dengan perlambatan pengosongan kandung empedu dan merupakan insiden yang tinggi pada kelompok ini.

Infeksi bakteri dalam  saluran empedu dapat memegang peranan sebagian  pada pembentukan batu dengan meningkatkan deskuamasi seluler dan pembentukan mukus. Mukus meningkatkan viskositas dan unsur seluler sebagai pusat presipitasi. Infeksi lebih sering sebagai akibat pembentukan batu empedu dibanding infeksi yang menyebabkan pembentukan batu.

 

IV.                          Perjalanan Batu

Batu empedu asimtomatik dapat ditemukan secara kebetulan pada pembentukan foto polos abdomen dengan maksud lain. Batu baru akan memberikan keluhan bila bermigrasi ke leher kandung empedu (duktus sistikus) atau ke duktus koledokus. Migrasi keduktus sistikus akan menyebabkan obstruksi yang dapat menimbulkan iritasi zat kimia dan infeksi. Tergantung beratnya efek yang timbul, akan memberikan gambaran klinis kolesistitis akut atau kronik.

 

Batu yang bermigrasi ke duktus koledokus dapat lewat ke doudenum atau tetap tinggal diduktus yang dapat menimbulkan ikterus obstruktif.

 

V.                             Gejala Klinis

Penderita batu saluran empedu sering mempunyai gejala-gejala kronis dan akut.

 

GEJALA AKUT

GEJALA KRONIS

TANDA :

1.      Epigastrium kanan terasa nyeri dan spasme

2.      Usaha inspirasi dalam waktu diraba pada kwadran kanan atas

3.      Kandung empedu membesar  dan nyeri

4.      Ikterus ringan

 

TANDA:

1.      Biasanya tak tampak gambaran pada abdomen

2.      Kadang terdapat nyeri di kwadran kanan atas

GEJALA:

1.      Rasa nyeri (kolik empedu) yang

Menetap

2.      Mual dan muntah

3.      Febris (38,5°°C)

 

GEJALA:

1.      Rasa nyeri (kolik empedu), Tempat : abdomen bagian atas (mid epigastrium), Sifat : terpusat di epigastrium menyebar ke arah skapula kanan

2.      Nausea dan muntah

3.      Intoleransi dengan makanan berlemak

4.      Flatulensi

5.      Eruktasi (bersendawa)

 

 

 

VI.                          Pemeriksaan penunjang

Tes laboratorium :

1.      Leukosit : 12.000 – 15.000 /iu (N : 5000 – 10.000 iu).

2.      Bilirubin : meningkat ringan, (N : < 0,4 mg/dl).

3.      Amilase serum meningkat.( N: 17 – 115 unit/100ml).

4.      Protrombin menurun, bila aliran dari empedu intestin menurun karena obstruksi  sehingga menyebabkan penurunan absorbsi vitamin  K.(cara Kapilar : 2 – 6 mnt).

5.      USG : menunjukkan adanya bendungan /hambatan , hal ini karena adanya batu empedu dan distensi saluran empedu  ( frekuensi sesuai dengan prosedur diagnostik)

6.      Endoscopic Retrograde choledocho pancreaticography (ERCP), bertujuan untuk melihat kandung empedu, tiga cabang saluran empedu melalui ductus duodenum.

7.      PTC (perkutaneus transhepatik cholengiografi): Pemberian cairan kontras untuk menentukan adanya batu dan cairan pankreas.

8.      Cholecystogram (untuk Cholesistitis kronik) : menunjukkan adanya batu di sistim billiar.

9.      CT Scan : menunjukkan gellbalder pada cysti, dilatasi pada saluran empedu, obstruksi/obstruksi joundice.

10.  Foto Abdomen :Gambaran radiopaque (perkapuran ) galstones, pengapuran pada saluran atau pembesaran pada gallblader.

 

 

Daftar Pustaka :

 

1.      Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI 1990, Jakarta, P: 586-588.

2.      Sylvia Anderson Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa AdiDharma, Edisi II.P: 329-330.

3.      Marllyn E. Doengoes, Nursing Care Plan, Fa. Davis Company, Philadelpia, 1993.P: 523-536.

4.      D.D.Ignatavicius dan M.V.Bayne, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, W. B. Saunders Company, Philadelpia, 1991.

5.      Sutrisna Himawan, 1994, Pathologi (kumpulan kuliah), FKUI, Jakarta 250 – 251.

6.      Mackenna & R. Kallander, 1990, Illustrated Physiologi, fifth edition, Churchill Livingstone, Melborne : 74 – 76.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VII.                       Pengkajian

1.      Aktivitas dan istirahat:

  • subyektif : kelemahan
  • Obyektif  : kelelahan

2.      Sirkulasi :

  • Obyektif : Takikardia, Diaphoresis

3.      Eliminasi :

  • Subektif : Perubahan pada warna urine dan feces
  • Obyektif : Distensi abdomen, teraba massa di abdomen atas/quadran kanan atas, urine pekat .

4.      Makan / minum (cairan)

Subyektif : Anoreksia, Nausea/vomit.

  • Tidak ada toleransi makanan lunak dan mengandung gas.
  • Regurgitasi ulang, eruption, flatunasi.
  • Rasa seperti terbakar pada epigastrik (heart burn).
  • Ada peristaltik, kembung dan dyspepsia.

Obyektif :

  • Kegemukan.
  • Kehilangan berat badan (kurus).

5.      Nyeri/ Kenyamanan :

Subyektif :

  • Nyeri abdomen menjalar  ke punggung sampai ke bahu.
  • Nyeri apigastrium setelah makan.
  • Nyeri tiba-tiba dan mencapai puncak setelah 30 menit.

Obyektif :

Cenderung teraba lembut pada klelitiasis, teraba otot meregang /kaku hal ini dilakukan pada pemeriksaan RUQ dan menunjukan tanda marfin (+).

6.      Respirasi :

Obyektif : Pernafasan panjang, pernafasan pendek, nafas dangkal, rasa tak nyaman.

7.      Keamanan :

Obyektif : demam menggigil, Jundice, kulit kering dan pruritus , cenderung perdarahan ( defisiensi Vit K ).

8.      Belajar mengajar :

Obyektif : Pada keluarga juga pada kehamilan cenderung mengalami batu kandung empedu. Juga pada riwayat DM dan gangguan / peradangan pada saluran cerna bagian bawah.

 

Prioritas Perawatan :

a.       Meningkatkan fungsi pernafasan.

b.      Mencegah komplikasi.

c.       Memberi informasi/pengetahuan tentang penyakit, prosedur, prognosa dan pengobatan

 

Tujuan Asuhan Perawatan :

a.       Ventilasi/oksigenasi yang adekwat.

b.      Mencegah/mengurangi komplikasi.

c.       Mengerti tentang proses penyakit, prosedur pembedahan, prognosis dan pengobatan

 

Diagnosa Perawatan:

A.     Pola nafas tidak efektif sehubungan dengan nyeri, kerusakan otot, kelemahan/ kelelahan, ditandai dengan :

  • Takipneu
  • Perubahan pernafasan
  • Penurunan vital kapasitas.
  • Pernafasan tambahan
  • Batuk terus menerus

 

B.     Potensial Kekurangan cairan sehubungan dengan :

  • Kehilangan cairan dari nasogastrik.
  • Muntah.
  • Pembatasan intake
  • Gangguan koagulasi, contoh : protrombon menurun, waktu beku lama.

 

C.     Penurunan integritas kulit/jaringan sehubungan dengan

  • Pemasanagan drainase T Tube.
  • Perubahan metabolisme.
  • Pengaruh bahan kimia (empedu)

ditandai dengan :

  • adanya gangguan kulit.

 

D.     Kurangnya pengetahuan tentang prognosa dan kebutuhan pengobatan, sehubugan dengan :

  • Menanyakan kembali tentang imformasi.
  • Mis Interpretasi imformasi.
  • Belum/tidak kenal dengan sumber imformasi.

ditandai :  . pernyataan yang salah.

. permintaan terhadap informasi.

. Tidak mengikuti instruksi.

 

Daftar Pustaka :

 

7.      Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Balai Penerbit FKUI 1990, Jakarta, P: 586-588.

8.      Sylvia Anderson Price, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Alih Bahasa AdiDharma, Edisi II.P: 329-330.

9.      Marllyn E. Doengoes, Nursing Care Plan, Fa. Davis Company, Philadelpia, 1993.P: 523-536.

10.  D.D.Ignatavicius dan M.V.Bayne, Medical Surgical Nursing, A Nursing Process Approach, W. B. Saunders Company, Philadelpia, 1991.

11.  Sutrisna Himawan, 1994, Pathologi (kumpulan kuliah), FKUI, Jakarta 250 – 251.

12.  Mackenna & R. Kallander, 1990, Illustrated Physiologi, fifth edition, Churchill Livingstone, Melborne : 74 – 76.

 

Asuhan keperawatan :

I.        Indentitas klien :

  • Nama :Tuan IL , 38 tahun, laki-laki.
  • Alamat : Jalan Makmur, Bekasi.
  • Status : Kawin.
  • Agama : Islam
  • Pendidikan : SMP
  • Pekerjaan : Pedagang.
  • Suber informasi : Klien dan istri.
  • Tanggal masuk RS : 29 April 1998.
  • Diagnosa Masuk : Kolangitis, Kolesistitis, Kolelitiasis.

 

II.     Status Kesehatan saat ini :

Alasan kunjungan/ keluhan utama : 1 bulan sebelum masuk RS. Klien merasa nyeri perut kanan atas, nyeri tidak menjalar, nyeri bila menarik nafas, nyeri seperti ditusuk. Panas naik turun hingga menggigil, bila nyeri klien menjadi sesak. selama di rumah diberikan obat promag keluhan hilang tetapi hanya sementara. sehari sebelum masuk RS dirasa nyeri timbul lagi shg klien.

 

III.   Riwayat Kesehatan yang lalu : Pada usia 12 tahun klien pernah bengkak diseluruh tubuh dan tidak pernah berobat, sembuh sendiri. belum pernah operasi dan dirawat di RS, tak ada alergi terhadap makanan dan obat-obatan , Klien merokok 1/2 bungkus per hari dan minum kopi 2x sehari. Kien terbiasa minum obat sendiri bila sakit tak pernah berobat ke dokter atau ke puskesmas . Frehuensi makan 3x sehari , berat badan waktu masuk ke RS 50 kg. makanan yang disukai supermi, Tak ada makanan yang  pantangan. sedangkan makanan yang tidak disukai adalah gorengan dan makanan yang mengandung santan. nafsu makan baik. Frekuensi bab 1 x sehari konsistensi padat, sedangkan kencing rata-rata 6 x sehari, tak ada keluhan dalam eliminasi. klien tidak terjadwal dalam memenuhi pola istirahat dan tidur, kadang-kadang sampai pk. 23.00 Kegiatan waktu luang membuat meja dan kursi. Klien hidup bersama seorang istri dan 4 orang anaknya, 2 orang laki-laki dan 2 orang perempuan.

 

IV.  Riwayat lingkungan

Kebersihan,lingkungan cukup, kondisi rumah luas, dengan enam kamar, tinggal dirumah dengan lingkungan yang ramai (padat bukan karena polusi atau kendaraan bermotor).

 

V.     Aspek PsikoSosial :

Pola pikir sangat sederhana karena ketidaktahuan informasi dan mempercayakan sepenuhnya dengan rumah sakit. Klien pasrah terhadap tindakan yang dilakukan oleh rumah sakit asal cepat sembuh.  Persepsi diri baik, klien merasa nyaman, nyeri tidak timbul sehubungan telah dilakukan tindakan cholesistektomi. Hubungan klien dan perawat baik, akomodatif, dengan bahasa indonesia yang cukup baik. Klien tidak mengeluh tentang biaya pengobatan/perawatan karena klien sudah menyiapkan sebelum masuk rumah sakit. Klien beragama Islam, sholat lima wakt, hanya kadang-kadang ia lakukan.  Dirumah sakit klien tidak sholat karena menurutnya ia sakit.

 

Pengkajian Fisik :

1.      Aktivitas/istirahat:

Klien merasakan lemah, mobilisasi duduk, merasa sakit pada lokasi drain bila posisi berubah dari berbaring ke duduk. Sore tidur 2 jam, malam tidur mulai jam 10.00. Kadang-kadang terganggu oleh keramaian pasien lain.

2.      Sirkulasi :

Sinus normokardia, suhu subfebris 37,5  c , Denyut nadi :90 kali permenit.

3.      Eliminasi

Klien bab 1 kali sehari, konsistensi lembek, warna kuning, jumlah urine 1500 cc/24 jam.

4.      Makan/minum ( cairan )

  • Sering regurgitasi, keluar cairan kurang lebih 200 cc/24 jam
  • Diet cair (DH I) dihabiskan , 1200 kalori dalam 900 cc /24 jam
  • Minum air putih 1500 cc/24 jam
  • Peristaltik normal  (20 30 kali/menit)
  • Selama tujuh hari  intake scara parenteral , yaitu amilase dan RD
  • tidak kembung
  • Klien tampak kurus  (BB: 47,7Kg)

5.      Nyeri/Kenyamanan

Tidak timbul rasa nyeri, hanya kadang-adang sakit, pada waktu perubahan posisi dari baring ke duduk.

6.      Respirasi :

  • Respirasi normal : 20 kali /menit
  • Klien merasa nyaman bernafas bila duduk.

7.      Keamanan :

  • Suhu klien 37,5 C (subfebris)
  • Sklera tampak icterik, kulit agak kering
  • Tampak plebitis (kemerahan) pada bekas infus dilengan kiri dan kanan

8.      Klien telah dilakukan operasi Cholecistektomi tanggal 30 April 1998. Sekarang ia mengalami perawatan hari ke delapan . Terpasang drainase T. Tube, produksi cairan hijau pekat 500cc/24 jam

 

Pemeriksaan Penunjang

1.      Pemeriksaan laboratorium tanggal 29 April 1998 :

  • H B . 10,7   (13-16)
  • Hematokrit : 31  ( 40 – 48 )
  • Leukosit  : 154.00   ( 50,00 – 100,00)
  • Trombosit : 328,00    ( 200.00 – 500.00)
  • Bilirubin Direck  : 6,1  ( </= 0,4)
  • Bilirubin Indireck : 1,8  (</= 0,6)
  • Bilirubin total  :7,9     (0,3  -  1,0)
  • Protein total  : 5,7   ( 6 – 7,8 )
  • Albumin  :2,7    ( 4 – 5,2)
  • Globulin  : 3,0   (1,3 – 2,7 )
  • Amilase   darah :108  (17 – 115)
  • SGOT    : 70     ( < 37), SGPT   : 58  (< 41 )
  • Natrium darah  :132    (135 – 147)
  • kalium darah     :3,2      (3,5 – 5,5 )
  • Klorida darah     : 105    (100 – 106)

2.      Pemeriksaan Diagnostik lain:

  • Ultrasonografi tanggal: 24 April l998

Kesan:Batu pada CBD yang menyebabkan  obstruksi

Cholesistitis

  • Cholesistografi tanggal 29 April 1998

Hasil : Tampak selang T-tube setinggi Thoracal XII kanan

3.  Elektro kardiografi tanggal: 28 April 1998

Hasil : SR, QRS rate 60/menit

ST, T Changes negatif

4.  Cholesistektomy, 29 April 1996 :

  • keluar pus 10 cc, di kultur belum ada hasil
  • ekstrasi batu, keluar batu besar dan kecil dan lumpur.
  • dipasang T-tube dan CBD  (Commond Bile Duct)

 

Pengobatan :

  • 2 x 1 gr Cefobid (IV)
  • 1 x 2 cc Vit B Comp (IM)
  • 1 x 200 mg Vit. C (IV)

 

Persepsi klien terhadap penyakitnya :

Klien merasa optimis untuk sembuh dengan upaya pembedahan dan saat ini tidak merasakan sakit atau nyeri seperti sebelum operasi.

 

Kesan perawat terhadap klien :

Klien koperatif dan komunikatif, dan mempunyai motivasi untuk sembuh

 

Kesimpulan :

Dari data yang didapatkan dapat disimpulkan masalah yang ada saat ini adalah:

1.      Potensial gangguan keseimbangan cairan

2.      Gangguan integritas kulit

3.     Kurangnya pengetahuan tentang penyakit prognosis dan program pengobatan

 

 

NAMA KLIEN           :                                                              ASUHAN KEPERAWATAN                                             

BANGSAL/TEMPAT:                                                                                                                                                                                                             MATA AJARAN :  KMB

No

DIAGNOSA PERAWATAN

TUJUAN

INTERVENSI

RASIONAL

IMPLEMENTASI

EVALUASI

 1. Potensial gangguan keseimbangan cairan sehubungan dengan :

  • Kehilangan cairan dr nasogatric.
  • Muntah
  • Gangguan koagulasi darah : protrombin menurun, waktu beku lama.

Data Subyektif :

 

Data Obyektif :

  • Muntah 200 cc
  • Diit cair : DiitHepar I 900 cc
  • Plebitis positf bekas infus pada tangan kiri.
  • T-tube : keluar cairan 200 cc, warna hijau keruh
  • Suhu 37,5  C
  • Turgor kulit sedikit menurun
  • Mukosa mulut baik
  • Hb : 10,7 gr%
  • Ht  : 31 gr/dl
  • Natrium : 132 meq/L
  • Kalium : 3,2 meq/L
  • Chlorida : 105 meq/L
Menunjukkan keseimbangan cairan yg adekuat, ditandai dengan :

  • Selaput membran yg lembab.
  • Turgor kulit baik.
  • Urine normal 1500 cc/24 jam
  • Out put normal, tdk ada muntah.

 

1.      Monitor intake & output,  drainase dari T-tube, dan luka operasi. Timbang BB secara periodik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Monitor tanda vital,  kaji mukosa membran, tur-gor kulit, nadi perifer.

 

 

 

3.      Observasi tanda perda-rahan contoh: hemate-mesis, ptekie, ekimosis

 

 

 

4.      Gunakan jarum injeksi yang kecil dan tekan bekas tusukan  dalam waktu yang lama

 

5.      Gunakan sikat gigi yang lembut

 

KOLABORASIi :

6.      Monitor hasil pemeri-ksaan Hb, elektrolit, pro-trombin, Cloting time dan bleeding time

 

7.      Berikan cairan intra-vena, produksi darah sesuai dengan indikasi

 

8.      Berikan cairan elektrolit

 

 

9.      Beri Vitamin K (IV)

 

 

 

 

1.      Memberikan imformasi ttg kebutuhan & fungsi organ tubuh. Khususnya cairan empedu yang keluar 200 – 500 ml, penurunan cairan empedu yang masuk ke intestine.  Keluarnya cairan empedu terus menerus dalam jumlah yg banyak, menandakan adanya ob-struksi, kadang – kadang adanya fistula pd empedu. Indikasi yg adekuat pada volume sirkulasi /perfusi.

 

2.      Protrombin menurun dan terjadi waktu pembekuan lama ketika adanya ob struksi saluran empedu. Meningkat pada resiko perdarahan.

3.      Mengurangi trauma, resiko perdarahan / hematom

 

 

 

 

4.      Menghindari trauma dan perdarahan gusi

 

 

 

5.      Memberikan informasi volu me sirkulasi , keseimbangan elektrolit dan faktor pem bekuan darah

6.      Mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat dan mengembalikan faktor pembekuan yang adekuat

 

7.      Mengoreksi hasil dari ketidak seimbangan dari pengeluaran gastrik dan luka

8.      volume sirkulasi & mem-perbaiki ketidak seimba-ngan.

9.      Meningkatkan atau mem- percepat proses pem- bekuan.

 

 

 

 

 

 

1.      Memonitor dan mencatat intake cairan atau minum ,output dari T-tube, perda rahan luka operasi dan urine.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.      Mengobservasi tanda vital Tekanan darah, denyut nadi, suhu, dan respirasi, turgor dan mukosa mem-bran.

 

3.      Melakukan observasi ada nya perdarahan pd daerah luka operasi, ple-bitis / hematom pada bekas pemasangan infus di lengan.

4.      Memberikan suntikan dgn jarum kecil  dan menekan bekas tusukan kurang lebih 5 menit.

 

5.      Menganjurkan klien untuk menggosok gigi dengan sikat gigi yang lembut

 

6.      Melakukan pemganbilan darah untuk pemeriksaan : albmin, globulin, Hb, Ht, Lekosit, trombosit, Na,K, Cl.

 

7.      Infus amilase dan RD telah dilepas satu hari yang lalu (30 April 1996)

 

8.      Tidak diberikan karena tidak ada indikasi

 

9.      Tidak diberikan karena klien tidak dapat terapi tersebut

 

Tgl 1 Mei 1996

S : Klien masih me rasa mual , sang- gup mengosok gigi dan berkumur.

O : Klien muntah  50 cc . Turgor kulit membaik, Intake :2500 cc, output 1500 cc, IWL 600 cc, T-tube 200 cc,Balance cairan -200 cc. TD: 120/80 mmHg, Nadi : 88x/menit, Suhu: 37.5 C, RR : 20x/menit,  ple bitis pada tangan kiri bekas pengam bilan darah dan infus

A: Klien masih me merlukan penga wasan dalam ke seimbangan cai ran

P: Intervensi tetap diteruskan sambil observasi intake dan out put dan tanda-tanda vital. Sambil menunggu hasil laboratorium yang lain.

 

 

2.

 

 

Penurunan integritas kulit atau jaringan sehubu ngan dengan :

  • Pemasangan drai-                                                                                                                                                      nase (T-tube)
  • Perubahan metabo-lisme.
  • Pengaruh bahan kimia (empedu)

Ditandai adanya gang-guan kulit :

Data Subyektif :

  • Klien mengatakan : Kapan selang saya dicabut dan lukanya dapat capat sembuh karena ingin mandi bebas selama ini hanya dilap dgn whaslap.
  • Banyak berkeringat & membuat badan tdk enak & gatal-gatal.
  • Posisi tidur tdk enak krn ada luka operasi & selang.
  • Matanya masih kuning tapi sudah berkurang dr sebelumnya.

Data Obyektif :

  • Masih terpasang T-tube difiksasi ke tempat tidur.
  • Jumlah cairan empe du yg keluar 200cc.
  • Badan masih ikterus terutama sklera mata.
  • Posisi tidur/ istirahat semifowler dan ber sandar di tempat tidur diganjal dgn bantal.
  • Luka Operasi tdk tampak tanda-tan da infeksi.
  • Terapi 2 x 1gram Ce fobit (IV).
  • Lab Hasil bilirubin tgl 30-4-96. meningkat.
  • Klien imobolisasi su dah 7 hari
 

 

Adanya pemulihan lu- ka tanpa komplikasi

Kriteria:

Perilaku yg meningkat terhadap pemulihan luka

 

 

 

 

1.      Cek T-tube dan luka insisi, upayakan agar aliran bebas/lancar .

 

 

 

 

 

 

 

2.      Observasi warna dan sifat drainase. Gunakan ostotomi bag yang disposible

 

 

 

 

 

 

3.      Pertahankan posisi selang drainase tube di tempat tidur

 

4.      Atur posisi  semi fowler

 

 

5.      Observasi sedakan,   distensi abdomen, peritonitis dan pankreatitis

 

 

 

 

 

6.      Ganti pakaian klien, higiene kulit, disekitar luka insisi.

 

 

 

7.      Observasi perubahan warna kulit sclera dan urin

 

KOLABORASI :

1.      Beri antibiotik sesuai indikasi.

2.      lakukan penghentian T tube secara berkala mencoba slang saluran empedu sebelum di-angkat

3.      Siapkan pembedahan bila diperlukan.

 

 

4.      Monitor hasil lab: Contoh : Leukosit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1.      Pemasangan T-tube di CBD selama 7 – 10 hari untuk mengeluarkan sisa-sisa batu. Tempat insisi untuk mengeluarkan sisa-sisa cairan pada empedu. Koreksi posisi untuk mencegah cairan kembali ke empedu.

 

2.      Drainase berisi darah dan sisa darah, secara normal berubah warna hijau tua (warna empedu) sesudah beberapa jam pertama. Ostotomi mungkin digunakan untuk mengumpulkan cairan dan melindungi kulit

 

3.      Mempertahankan lepasnya selang atau pembentukan lumen

 

4.      Mempermudah aliran em pedu

 

5.      Lepasnya T-tube dapat menyebabkan iritasi dia fragma atau komplikasi yg serius jika saluran empedu masuk ke dalam perut atau sumbatan pada salu ran pankreas

 

 

6.      Menjaga kebersihan kulit disekitar insisi dapat mening katkan perlindungan kulit ter hadap ulserasi.

 

 

7.      Perkembangan ikterik dpt diindikasikan sebagai ob- struksi sal. empedu.

 

 

  • Untuk mengurangi infeksi atau abses
  • Untuk mengetes kemam- puan saluran CBD sebelum T tube diangkat.

 

 

  • Tindakan insisi atau dra inase/fistulektomi dilakukan untuk mengobati abses atau fistula.
  • Peningkatan leukosit seba

gai gambaran adanya proses imflamasi contoh abses atau terjadinya peritonitis/pankeatitis.

 

 

 

 

 

1.      Dressing luka insisi tiap pagi dan atur posisi drain agar tetap lancar

 

 

 

 

 

 

 

2.      Melakukan observasi war-na, jumlah cairan drainase.

 

 

 

 

 

 

 

 

3.      Mencek posisi selang dan memfiksasi selang drainase ditempat tidur

 

4.       Mengatur klien posisi semi fowler dan posisi duduk

 

5.         Mengobservasi adanya sedakan, distensi abdomen, peritonitis dan pankreatitis

 

 

 

 

 

6.      Mengganti pakaian tiap pagi dan sore, bersama istri klien membersihkan kulit dengan sabun dan air.

 

 

7.      Melakukan observasi ter hadap kulit, sclera mata dan warna urin.

 

 

  • Memberikan injeksi Cefobit  1 gram (IV) jam 08.00 pagi.
  • Melakukan klem pada slang saluran empedu

 

 

 

  • Tindakan tidak dilakukan sebab tidak ada indikasi.

 

 

  • Melakukan pengambilan untuk pemeriksaan peme riksaan leukosit.
tanggal 1`mei 96.

S: Kliem mengatakan masih merasa terganggu dgn adanya drain t-tube, sudah dpt istirahat/tidur dgn posisi semofowler.

O: Mandi 2x sehari dibantu istri menggunakan sabun & sikat gigi yg lembut. menggunakan bedak/powder utk tubuh, baju bersih & kering, dapat tidur siang selama 2 jam dgn posisi semifowler, luka operasi/daerah pemasangan drain tdk ada tanda infeksi & balutan dlm keadaan bersih & kering. Lingkungan klien (tempat tidur) dalam keadaan bersih dan rapih. Injeksi antibiotik 1 gram Cefobit sudah diberikan.

Hasil lab. ulang belum ada.

A: Masalah penurunan integritas kulit masih ada.

P : Lanjutkan intervensi terutama pertahankan/tingkatkan personal higiene , tingkatkan mobilisasi/jalan sesuai kemampuan.

 

 

 

3.

 

 

Kurang pengetahuan tentang kondisi prog nosa dan kebutuhan pengobatan, sehubu ngan dgn : menanya kan kembali ttg imfor masi, menanyakan kem bali informasi, belum /tidak kenal dengan sumber imformasi ditan- dai :

  • Pernyataan yang salah.
  • Permintaan thd im- formasi.
  • Tidak mengikuti ins- truksi.

Data subyektif :

  • klien menyatakan bahwa tdk mengerti ttg proses penyakit, prosedur pembe-dahan & pengoba-tan karena tdk ada yg memberi tahu, dan dokter memberi tahu bahwa saya harus operasii.
 

 

  • Secara verbal me ngerti akan proses penyakit, pengoba tan dan prognosis pembedahan.
  • Melakukan koreksi thd prosedur yang penting & menjelaskan reaksi dr tindakan.
  • Menilai perubahan gaya hidup dan ikut serta dalam pengobatan
 

 

1.      Kaji ulang  pada klien ttg pengetahuan  pro- ses penyakit , prosedur pembedahan , prog- nosa.

 

2.      Ajarkan perawatan insisi atau membersihkan luka .

 

 

3.      Anjurkan agar aliran T Tube dikumpul;kan dlm kantong dan catat pengeluarannya.

 

 

4.      Pertahankan diit rendah lemak selama ± 4 – 6 bulan.

 

 

 

 

5.      Hindari alkohol,

 

 

6.      Anjurkan klien utk men-catat dan menghindari makanan yg dpt me-nyebabkan deare.

 

 

 

 

7.      Identifikasi tanda/ gejala : urine keruh, warna kuning pada mata/kulit, warna feses.

 

8.      Kaji ulang keterbatsan aktifitas, tergantung situasi individu.

 

 

1.      beri pengetahuan dasar pada klien sehingga klien dapat memilih imformasi yang dibutuhkan.

 

 

2.      Akan mengurangi ketergan ungan dalam perawatan, dan menurunkan resiko kom likasi. (infeksi, obstruksi empedu)

3.      Menurunkan resiko aliran balik pada slang T-tube. Memberi informasi ttg kembalinya edema saluran/ fungsi saluran.

 

4.      Selama enam bulan setelah pembedahan  bo-leh sedikit diberikan rendah makanan rendah lemak utk memberikan rasa nyaman karena ggn sistim pencernaan lemak.

5.      Meminimalkan resiko terja- dinya penkreatitis

 

6.      Pembatasan diityang pasti mungkin dapat menolong misalnya dgn diit rendah lemak. Sesudah periode pemulihan pasien tdk me-ngalami masalah yg ber-hubungan dgn makanan.

 

7.      Merupakan indikai sumba-tan saluran empedu/ ggn degestif, dpt digunakan utk evaluasi & intervensi

 

8.      Kebiasaan aktifitas dapat dimulai lagi secara normal dalam waktu 4 – 6 minggu

 

 

 

 

1.      Menanyakan seberapa jauh klien mengetahui ttg proses penyakit, prosedur pembedahan serta prog-nosa.

 

2.      Menganjurkan klien untuk menjaga balutan luka agar tetap bersih dan kering.

 

3.      Menganjurkan klien untuk mencatat pengeluaran cairan yang terkumpul di kantong T tube.

 

 

4.      Memberitahu pasien agar 4 – 6 bulan diberi diit rendah lemak.

 

 

 

 

5.      Menganjurkan klien utk tidak minum alkohol.

 

6.      Melakukan diskusi dengan klien dan keluarga utk menghindari makanan yg dpt menimbulkan deare.

 

 

 

 

7.      Memberitahu utk mengi-dentifikasi & mencatat tan-da & gejala : urin keruh, warna kuning pada mata dan kulit & warna feses.

8.      Menganjurkan klien utk membatasi aktifitas selama 4 – 6 minggu

Tgl 1 mei 1996

 

S :Klien menga-takan bahwa telah mengerti ttg pro-ses penyakit & prosedur pembe-dahan yg telah dilakukan, klien sanggup utk men-jaga luka tetap bersih & kering, klien sanggup me-ngikuti diit lemak & tdk merokok.& tdk akan minum al kohol.

O:Kien dapat menyebutkan atau menjawab dengan benar : operasi tujuannya utk mengeluarkan batu empedu, dipasang drain utk mengeluarkan cairan sisa -sisa operasi, posisi se-mifowlwer/duduk agar cairan keluar lancar, suntikan agar lukanya capat sembuh. Balutan luka ke-ring, urine kuning , mata sedikit ikte-rus feses lembek kuning.

A: Pengetahuan kli en ttg. peny, pe nyebab, prognosa , faktor resiko yg terjadi.

P :lanjutkan Inter-vensi nomor 4, 5, 7, 8 ,9. diteruskan. Dischart planing :

1.      Diit rendah le-mak (kola-borasi).

2.      Mengurangi aktifitas sesuai anjuran 4 – 6 bln.

3.      Control teratur

 

 

 

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada April 4, 2012 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag: , , , , , ,

Asuhan Keperawatan Osteosarkoma

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

    Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price, 1962:1213 )

    Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun jumlah penderita kanker ± 6.25 juta orang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker diantara 100.000 penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat sekitar 11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita kanker per tahun. ( www.mail-archive.com
    )

    Menurut Errol untung hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. (www.kompas.com
    )

    Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy.

    Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui. ( www.medicastore.com
    )

    Melihat jumlah kejadian diatas serta kondisi penyakit yang memerlukan pendeteksian dan penanganan sejak dini, penulis tertarik untuk melakukan ” Asuhan Keperawatan pada Tn.H dengan Osteosarkoma pada tibia proximal kiri di ruang 412 lantai 4 Public Wing RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta”.

    B. Tujuan penulisan

    1. Tujuan Umum

    Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata dalam melakukan asuhan keperawatan osteosarkoma pada Tn.H di ruang 412 lantai 4 Public Wing RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo Jakarta.

    1. Tujuan Khusus

      Diharapkan mahasiswa mampu memberikan gambaran asuhan keperawatan meliputi :

    2. Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan osteosarkoma
    3. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan

      Osteosarkoma.

      1. Mampu membuat rencana keparawatan pada pasien dengan osteosarkoma.
      2. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma.
      3. Mampu mengevaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma.
      4. Mampu menyebutkan faktor pendukung dan penghambat dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma.
      5. Mampu mengidentifikasi solusi dalam faktor-faktor penghambat pada pasien dengan Osteosarkoma.
    1. Metode Penulisan

      Metode yang digunakan penulis dalam laporan studi kasus ini adalah metode deskriptif yaitu menggambarkan secara langsung melalui pendekatan proses keperawatan dengan cara teknik pengumpulan data seperti wawancara, pemeriksaan fisik, kolaborasi dengan tim kesehatan yang lain serta data dari catatan medik klien.

    1. Sistematika Penulisan

      Untuk memudahkan pengertian dan pemahaman terhadap isi dari laporan kasus ini, maka penulisannya dibuat secara sistematis, dibagi menjadi 5 bab yaitu :

      BAB I. Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.

      BAB II. Tinjauan teoritis meliputi konsep dasar penyakit dan konsep dasar asuhan keperawatan.

      BAB III. Tinjauan kasus meliputi gambaran kasus dan diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan.

      BAB IV. Pembahasan yang membahas tentang kesenjangan antara kasus yang ditemukan dengan teori yang didapatkan meliputi definisi, rasional terhadap diagnosa keperawatan yang ditemukan, faktor penunjang, faktor penghambat serta solusi ( pemecahan masalah ).

      BAB V. Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.

    BAB II

    LANDASAN TEORI

  • Konsep Dasar Osteosarkoma
    • Pengertian

      Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung (Danielle. 1999: 244 ). Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh.( Wong. 2003: 595 )

      Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) adalah tumor yang muncul dari mesenkim pembentuk tulang. ( Wong. 2003: 616 )

      Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213 )

      Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.( Smeltzer. 2001: 2347 )

      Tempat-tempat yang paling sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal. Tempat yang paling jarang adalah pelvis, kolumna, vertebra, mandibula, klavikula, skapula, atau tulang-tulang pada tangan dan kaki. Lebih dari 50% kasus terjadi pada daerah lutut. ( Otto.2003 : 72 )

      2. Etiologi

      • Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
      • Keturunan
      • Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat pajanan radiasi ).

        ( Smeltzer. 2001: 2347 )

  1. Patofisiologi

    Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal.. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.

Adanya tumor tulang

Jaringan lunak di invasi

oleh tumor

Reaksi tulang normal

Osteolitik (destruksi tulang) Osteoblastik (pembentukan tulang)

destruksi tulang lokal Periosteum tulang yang baru dapat tertimbun dekat tempat lesi

Pertumbuhan tulang yang abortif

( sumber : Price.1998: 1213 )

  1. Manifestasi klinik
    1. Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit)
    2. Fraktur patologik
    3. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas

      ( Gale. 1999: 245 )

    4. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena
    5. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise.

      ( Smeltzer. 2001: 2347 )

  1. Penatalaksanaan
  • Penatalaksanaan medis

    Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi kombinasi.

    Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi.

    Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena, diurelika, mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid.

    ( Gale. 1999: 245 ).

  • Tindakan keperawatan
    • Manajemen nyeri

      Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi ) dan farmakologi ( pemberian analgetika ).

    • Mengajarkan mekanisme koping yang efektif

      Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan.

      • Memberikan nutrisi yang adekuat

      Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter.

    • Pendidikan kesehatan

      Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah.

      ( Smeltzer. 2001: 2350 )

  1. Pemerikasaan Diagnostik
    1. CT Scan
    2. Mielogram
    3. Asteriografi
    4. MRI
    5. Biopsi,
    6. Pemeriksaan biokimia darah dan urine
    7. Pemeriksaan foto toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk follow-up adanya stasis pada paru-paru.

    ( Rasjad. 2003 )

  • Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Osteosarkoma
    • Pengkajian

a. Wawancara

Dapatkan riwayat kesehatan, proses penyakit, bagaimana keluarga dan pasien mengatasi masalahnya dan bagaimana pasien mengatasi nyeri yang dideritanya. Berikan perhatian khusus pada keluhan misalnya : keletihan, nyeri pada ekstremitas, berkeringat pada malam hari, kurang nafsu makan, sakit kepala, dan malaise.

b. Pemeriksaan fisik

  • Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena
  • Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas
  • Nyeri tekan / nyeri lokal pada sisi yang sakit
    • mungkin hebat atau dangkal
    • sering hilang dengan posisi flexi
    • anak berjalan pincang, keterbatasan dalam melakukan aktifitas, tidak mampu menahan objek berat
  • Kaji status fungsional pada area yang sakit, tanda-tanda inflamasi, nodus limfe regional

c. Pemeriksaan Diagnostik

  • Radiografi

    Adalah penggunaan sinar pengionan (sinar X, sinar gama) untuk membentuk bayangan benda yang dikaji pada film

    .

  • Tomografi,

    Adalah sebuah metode penggambaran medis menggunakan tomografi di mana pemrosesan geometri digunakan untuk menghasilkan sebuah gambar tiga dimensi bagian dalam sebuah objek dari satu seri besar gambar sinar-X dua dimensi diambil dalam satu putaran “axis”

  • Pemindaian tulang,
  • Radioisotop, atau biopsi tulang bedah,
  • Tomografi paru,
  • Aspirasi sumsum tulang (sarkoma ewing).

( Wong. 2003: 616 )

  • Diagnosa
    • Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan
    • Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat
    • Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker.
    • Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja peran

      ( Doenges. 1999: 1000 )

    • Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak

      ( Wong. 2003: 617 )

  • Intervensi

    Dx 1

    Tujuan: klien mengalami pengurangan nyeri

KH :

  • Mengikuti aturan farmakologi yang ditentukan
  • Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai indikasi situasi individu.

Intervensi :

  • Kaji status nyeri ( lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri )

    R/ memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang diberikan.

  • Berikan lingkungan yang nyaman, dan aktivitas hiburan ( misalnya : musik, televisi )

    R/ meningkatkan relaksasi klien.

  • Ajarkan teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi.

    R/ meningkatkan relaksasi yang dapat menurunkan rasa nyeri klien

Kolaborasi :

  • Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri.

    R/ mengurangi nyeri dan spasme otot

    ( Doenges. 1999: 1005 )

Dx 2

Tujuan : Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam aturan pengobatan

KH :

  • Pasien tampak rileks
  • Melaporkan berkurangnya ansietas
  • Mengungkapkan perasaan mengenai perubahan yang terjadi pada diri klien

Intervensi :

  • Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan.

    R/ memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa takut serta kesalahan konsep tentang diagnosis

  • Berikan lingkungan yang nyaman dimana pasien dan keluarga merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk berbicara.

    R/ membina hubungan saling percaya dan membantu pasien untuk merasa diterima dengan kondisi apa adanya

  • Pertahankan kontak sering dengan pasien dan bicara dengan menyentuh pasien.

    R/ memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak.

  • Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis.

    R/ dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan atau pilihan sesuai realita.

    ( Doenges. 1999: 1000 )

Dx 3

Tujuan : mengalami peningkatan asupan nutrisi yang adekuat

KH : penambahan berat badan

bebas tanda malnutrisi

nilai albumin dalam batas normal ( 3,5 – 5,5 g% )

Intervensi :

  • Catat asupan makanan setiap hari

    R/ mengidentifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi.

  • Ukur tinggi, berat badan, ketebalan kulit trisep setiap hari.

    R/ mengidentifikasi keadaan malnutrisi protein kalori khususnya bila berat badan dan pengukuran antropometrik kurang dari normal

  • Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat.

    R/ memenuhi kebutuhan metabolik jaringan. Asupan cairan adekuat untuk menghilangkan produk sisa.

Kolaborasi :

  • Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi.

    R/ membantu mengidentifikasi derajat malnutrisi

    ( Doenges. 1999: 1006 )

Dx 4

Tujuan : mengungkapan perubahan pemahaman dalam gaya hidup tentang tubuh, perasaan tidak berdaya, putus asa dan tidak mampu.

KH :

  • Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif.

Intervensi :

  • Diskusikan dengan orang terdekat pengaruh diagnosis dan pengobatan terhadap kehidupan pribadi pasien dan keluarga.

    R/ membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah.

  • Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang efek kanker atau pengobatan.

    R/ membantu dalam pemecahan masalah

  • Pertahankan kontak mata selama interaksi dengan pasien dan keluarga dan bicara dengan menyentuh pasien

    R/ menunjukkan rasa empati dan menjaga hubungan saling percaya

    dengan pasien dan keluarga. ( Doenges. 1999: 1004 )

Dx. 5

Tujuan : Keluarga dan klien siap menghadapi kemungkinan kehilangan anggota gerak.

KH : Pasien menyesuaikan diri terhadap kehilangan anggota gerak

Mengalami peninggkatan mobilitas

Intervensi :

  • Lakukan pendekatan langsung dengan klien.

    R/ meningkatkan rasa percaya dengan klien.

  • Diskusikan kurangnya alternatif pengobatan.

    R/ memberikan dukungan moril kepada klien untuk menerima pembedahan.

  • Ajarkan penggunaan alat bantu seperti kursi roda atau kruk sesegera mungkin sesuai dengan kemampuan pasien.

    R/ membantu dalam melakukan mobilitas dan meningkatkan kemandirian pasien.

  • Motivasi dan libatkan pasien dalam aktifitas bermain

    R/ secara tidak langgsung memberikan latihan mobilisasi

    ( Wong. 2003: 617 )

  • Evaluasi
    • Pasien mampu mengontrol nyeri
      • Melakukan teknik manajemen nyeri,
      • Patuh dalam pemakaian obat yang diresepkan.
      • Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari
    • Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif.
      • Mengemukakan perasaanya dengan kata-kata
      • Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien
      • Keluarga mampu membuat keputusan tentang pengobatan pasien
    • Masukan nutrisi yang adekuat
      • Mengalami peningkatan berat badan
      • Menghabiskan makanan satu porsi setiap makan
      • Tidak ada tanda – tanda kekurangan nutrisi
    • Memperlihatkan konsep diri yang positif
      • Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuan yang dimiliki pasien
    • Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri
    • Klien dan keluarga siap untuk menghadapi kemungkinan amputasi
  • Konsep Dasar Amputasi
  1. Pengertian

    Amputasi berasal dari kata “amputare” yang kurang lebih diartikan “pancung”.

    Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi.

    Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas.

  2. Penyebab / faktor predisposisi terjadinya amputasi

Tindakan amputasi dapat dilakukan pada kondisi :

  1. Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki.
  2. Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki.
  3. Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat.
  4. Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya.
  5. Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif.
  6. Deformitas organ.
  1. Jenis Amputasi

Berdasarkan pelaksanaan amputasi, dibedakan menjadi :

  1. Amputasi selektif/terencana

    Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir

  2. Amputasi akibat trauma

    Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien.

  3. Amputasi darurat

    Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas.

Jenis amputasi yang dikenal adalah :

  1. Amputasi terbuka (guillotine amputasi)

    Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengembang. Bentuknya benar-benar terbuka dan dipasang drainage agar luka bersih, dan luka dapat ditutup setelah tidak terinfeksi.

  2. Amputasi tertutup (flap amputasi)

    Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan otot dan tulang. Pada metode ini, kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada daerah yang diamputasi.

Setelah dilakukan tindakan pemotongan, maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi/mencegah terjadinya infeksi, menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur, dan mempertahankan intaks jaringan.

  1. Tingkatan Amputasi
    1. Ekstremitas atas

      Amputasi pada ekstremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau kiri. Hal ini berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, mandi, berpakaian dan aktivitas yang lainnya yang melibatkan tangan.

    2. Ekstremitas bawah

      Amputasi pada ekstremitas ini dapat mengenai semua atau sebagian dari jari-jari kaki yang menimbulkan seminimal mungkin kemampuannya.

      Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas ini dibagi menjadi dua letak amputasi yaitu :

      a. Amputasi dibawah lutut (below knee amputation).

      Ada 2 metode pada amputasi jenis ini yaitu amputasi pada nonischemic limb dan inschemic limb.

      b. Amputasi diatas lutut

      Amputasi ini memegang angka penyembuhan tertinggi pada pasien dengan penyakit vaskuler perifer.

    3. Nekrosis. Pada keadaan nekrosis biasanya dilakukan dulu terapi konservatif, bila tidak berhasil dilakukan reamputasi dengan level yang lebih tinggi.
    4. Kontraktur. Kontraktur sendi dapat dicegah dengan mengatur letak stump amputasi serta melakukan latihan sedini mungkin. Terjadinya kontraktur sendi karena sendi terlalu lama diistirahatkan atau tidak di gerakkan.
    5. Neuroma. Terjadi pada ujung-ujung saraf yang dipotong terlalu rendah sehingga melengket dengan kulit ujung stump. Hal ini dapat dicegah dengan memotong saraf lebih proximal dari stump sehingga tertanam di dalam otot.
    6. Phantom sensation. Hampir selalu terjadi dimana penderita merasakan masih utuhnya ekstremitas tersebut disertai rasa nyeri. Hal ini dapat diatasi dengan obat-obatan, stimulasi terhadap saraf dan juga dengan cara kombinasi.
  1. Penatalaksanaan Amputasi

Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prostesis yang baik dan berfungsi.

Ada 2 cara perawatan post amputasi yaitu :

  1. Rigid dressing

    Yaitu dengan menggunakan plaster of paris yang dipasang waktu dikamar operasi. Pada waktu memasang harus direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau tidak. Bila tidak diperlukan pemasangan segera dengan memperhatikan jangan sampai menyebabkan konstriksi stump dan memasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat tulang yang menonjol. Keuntungan cara ini bisa mencegah oedema, mengurangi nyeri dan mempercepat posisi berdiri.

Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah 7 – 10 hari post operasi setelah luka sembuh, setelah 2 – 3 minggu, setelah stump sembuh dan mature. Namun untuk mobilisasi dengan rigid dressing ini dipertimbangkan juga faktor usia, kekuatan, kecerdasan penderita, tersedianya perawat yang terampil, therapist dan prosthetist serta kerelaan dan kemauan dokter bedah untuk melakukan supervisi program perawatan. Rigid dressing dibuka pada hari ke 7 – 10 post operasi untuk melihat luka operasi atau bila ditemukan cast yang kendor atau tanda-tanda infeksi lokal atau sistemik.

  1. Soft dressing

    Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional, maka digunakan pembalut steril yang rapi dan semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. Harus diperhatikan penggunaan elastik verban jangan sampai menyebabkan konstriksi pada stump. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki tempat tidur, melakukan elevasi dengan mengganjal bantal pada stump tidak baik sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah 48 jam. Ujung stump ditekan sedikit dengan soft dressing dan pasien diizinkan secepat mungkin untuk berdiri setelah kondisinya mengizinkan. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10 – 14 post operasi. Pada amputasi diatas lutut, penderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawah stump, hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kontraktur.

  1. Dampak Masalah Terhadap Sistem Tubuh.
    1. Kecepatan metabolisme

      Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal.

    2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit

      Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari anabolisme, maka akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma, hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH, sehingga terjadi peningkatan diuresis.

    3. Sistem respirasi
      1. Penurunan kapasitas paru

        Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang, maka kontraksi otot intercosta relatif kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa.

      2. Perubahan perfusi setempat

        Dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfusi setempat, jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia.

      3. Mekanisme batuk tidak efektif

        Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal.

    4. Sistem Kardiovaskuler
      1. Peningkatan denyut nadi

        Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik, endokrin dan mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi.

      2. Penurunan cardiac reserve

        Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat, hal ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup.

      3. Orthostatik Hipotensi

        Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer, dimana anterior dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat, vasodilatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah, volume darah yang bersirkulasi menurun, jumlah darah ke ventrikel saat diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun, akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan.

    5. Sistem Muskuloskeletal
      1. Penurunan kekuatan otot

        Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan, demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot.

      2. Atropi otot

        Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot.

      3. Kontraktur sendi

        Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak.

      4. Osteoporosis

        Terjadi penurunan metabolisme kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan organik dan anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos.

    6. Sistem Pencernaan
      1. Anoreksia

        Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan.

      2. Konstipasi

        Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon, menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang air besar.

    7. Sistem perkemihan

      Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar, sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat menyebabkan :

      - Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal.

      - Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK.

    8. Sistem integumen

      Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia, hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah.

  • Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Amputasi

    Kegiatan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu pada tahap preoperatif, tahap intraoperatif, dan pada tahap postoperatif.

  1. Pre Operatif

    Pada tahap praoperatif, tindakan keperawatan lebih ditekankan pada upaya untuk mempersiapkan kondisi fisik dan psikolgis klien dalam menghadapi kegiatan operasi.

    Pada tahap ini, perawat melakukan pengkajian yang erkaitan dengan kondisi fisik, khususnya yang berkaitan erat dengan kesiapan tubuh untuk menjalani operasi.

Pengkajian Riwayat Kesehatan

Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal dan penyakit paru. Perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obat-obatan.

Pengkajian Fisik

Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi tubuh klien secara utuh untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi manakala tindakan amputasi merupakan tindakan terencana/selektif, dan untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala merupakan trauma/ tindakan darurat.

Kondisi fisik yang harus dikaji meliputi :

SISTEM TUBUH KEGIATAN
Integumen :Kulit secara umum.

Lokasi amputasi

  • Mengkaji kondisi umum kulit untuk meninjau tingkat hidrasi.
  • Lokasi amputasi mungkin mengalami keradangan akut atau kondisi semakin buruk, perdarahan atau kerusakan progesif. Kaji kondisi jaringan diatas lokasi amputasi terhadap terjadinya stasis vena atau gangguan venus return.
Sistem Cardiovaskuler :Cardiac reserve

Pembuluh darah

  • Mengkaji tingkat aktivitas harian yang dapat dilakukan pada klien sebelum operasi sebagai salah satu indikator fungsi jantung.
  • Mengkaji kemungkinan atherosklerosis melalui penilaian terhadap elastisitas pembuluh darah.
Sistem Respirasi
  • Mengkaji kemampuan suplai oksigen dengan menilai adanya sianosis, riwayat gangguan nafas.
Sistem Urinari
  • Mengkaji jumlah urine 24 jam.
  • Menkaji adanya perubahan warna, BJ urine.
Cairan dan elektrolit
  • Mengkaji tingkat hidrasi.
  • Memonitor intake dan output cairan.
Sistem Neurologis
  • Mengkaji tingkat kesadaran klien.
  • Mengkaji sistem persyarafan, khususnya sistem motorik dan sensorik daerah yang akan diamputasi.
Sistem Mukuloskeletal
  • Mengkaji kemampuan otot kontralateral.

Pengkajian Psikologis, Sosial, Spiritual

Disamping pengkajian secara fisik perawat melakukan pengkajian pada kondisi psikologis ( respon emosi ) klien yaitu adanya kemungkinan terjadi kecemasan pada klien melalui penilaian klien terhadap amputasi yang akan dilakukan, penerimaan klien pada amputasi dan dampak amputasi terhadap gaya hidup. Kaji juga tingkat kecemasan akibat operasi itu sendiri. Disamping itu juga dilakukan pengkajian yang mengarah pada antisipasi terhadap nyeri yang mungkin timbul.

Perawat melakukan pengkajian pada gambaran diri klien dengan memperhatikan tingkatr persepsi klien terhadap dirinya, menilai gambaran ideal diri klien dengan meninjau persepsi klien terhadap perilaku yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang dibuat oleh klien sendiri, pandangan klien terhadap rendah diri antisipasif, gangguan penampilan peran dan gangguan identitas.

Adanya gangguan konsep diri antisipasif harus diperhatikan secara seksama dan bersama-sama dengan klien melakukan pemilihan tujuan tindakan dan pemilihan koping konstruktif.

Adanya masalah kesehatan yang timbul secara umum seperti terjadinya gangguan fungsi jantung dan sebagainya perlu didiskusikan dengan klien setelah klien benar-benar siap untuk menjalani operasi amputasi itu sendiri. Kesadaran yang penuh pada diri klien untuk berusaha berbuat yang terbaik bagi kesehatan dirinya, sehingga memungkinkan bagi perawat untuk melakukan tindakan intervensi dalam mengatasi masalah umum pada saat pre operatif. Asuhan keperawatan pada klien preoperatif secara umum tidak dibahas pada makalah ini.

Laboratorik

Tindakan pengkajian dilakukan juga dengan penilaian secara laboratorik atau melalui pemeriksaan penunjang lain secara rutin dilakukan pada klien yang akan dioperasi yang meliputi penilaian terhadap fungsi paru, fungsi ginjal, fungsi hepar dan fungsi jantung.

Diagnosa Keperawatan dan Perencanaan

Dari pengkajian yang telah dilakukan, maka diagnosa keperawatan yang dapat timbul antara lain :

  1. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kegiatan perioperatif.

    Karakteristik penentu :

  • Mengungkapkan rasa tajut akan pembedahan.
  • Menyatakan kurang pemahaman.
  • Meminta informasi.

Tujuan : Kecemasan pada klien berkurang.

Kriteria evaluasi :

  • Sedikit melaporkan tentang gugup atau cemas.
  • Mengungkapkan pemahaman tentang operasi.
INTERVENSI RASIONAL
Memberikan bantuan secara fisik dan psikologis, memberikan dukungan moral.Menerangkan prosedur operasi dengan sebaik-baiknya.

Mengatur waktu khusus dengan klien untuk berdiskusi tentang kecemasan klien.

Secara psikologis meningkatkan rasa aman dan meningkatkan rasa saling percaya.Meningkatkan/memperbaiki pengetahuan/ persepsi klien.

Meningkatkan rasa aman dan memungkinkan klien melakukan komunikasi secara lebih terbuka dan lebih akurat.

  1. Berduka yang antisipasi (anticipated griefing) berhubungan dengan kehilangan akibat amputasi.

    Karakteristik penentu :

  • Mengungkapkan rasa takut kehilangan kemandirian.
  • Takut kecacatan.
  • Rendah diri, menarik diri.

Tujuan : Klien mampu mendemontrasikan kesadaran akan dampak pembedahan pada citra diri.

Kriteria evaluasi :

  • mengungkapkan perasaan bebas, tidak takut.
  • Menyatakan perlunya membuat penilaian akan gaya hidup yangbaru.
INTERVENSI RASIONAL
Anjurkan klien untuk mengekspresikan perasaan tentang dampak pembedahan pada gaya hidup.Berikan informasi yang adekuat dan rasional tentang alasan pemilihan tindakan pemilihan amputasi.

Berikan informasi bahwa amputasi merupakan tindakan untuk memperbaiki kondisi klien dan merupakan langkah awal untuk menghindari ketidakmampuan atau kondisi yang lebih parah.

Fasilitasi untuk bertemu dengan orang dengan amputasi yang telah berhasil dalam penerimaan terhadap situasi amputasi.

Mengurangi rasa tertekan dalam diri klien, menghindarkan depresi, meningkatkan dukungan mental.Membantu klien mengapai penerimaan terhadap kondisinya melalui teknik rasionalisasi.

Meningkatkan dukungan mental.

Strategi untuk meningkatkan adaptasi terhadap perubahan citra diri.

Selain masalah diatas, maka terdapat beberapa tindakan keperawatan preoperatif antara lain :

  • Mengatasi nyeri
    • Menganjurkan klien untuk menggunakan teknik dalam mengatsi nyeri.
    • Menginformasikan tersdianya obat untuk mengatasi nyeri.
    • Menerangkan pada klien bahwa klien akan “merasakan” adanya kaki untuk beberapa waktu lamanya, sensasi ini membantu dalam menggunakan kaki protese atau ketika belajar mengenakan kaki protese.
  • Mengupayakan pengubahan posisi tubuh efektif
    • Menganjurkan klien untuk mengubah posisi sendiri setiap 1 – 2 jam untuk mencegah kontraktur.
    • Membantu klien mempertahankan kekuatan otot kaki ( yang sehat ), perut dan dada sebagai persiapan untuk penggunaan alat penyangga/kruk.
    • Mengajarkan klien untuk menggunakan alat bantu ambulasi preoperasi, untuk membantu meningkatkan kemampuan mobilitas posoperasi, memprtahankan fungsi dan kemampuan dari organ tubuh lain.
  • Mempersiapkan kebutuhan untuk penyembuhan
    • Mengklarifikasi rencana pembedahan yang akan dilaksanakan kepada tim bedah.
    • Meyakinkan bahwa klien mendapatkan protese/alat bantu ( karena tidak semua klien yang mengalami operasi amputasi mendapatkan protese seperti pada penyakit DM, penyakit jantung, CVA, infeksi, dan penyakit vaskuler perifer, luka yang terbuka ).
    • Semangati klien dalam persiapan mental dan fisik dalam penggunaan protese.
    • Ajarkan tindakan-tindakan rutin postoperatif : batuk, nafas dalam.
  1. Intra Operatif

    Pada masa ini perawat berusaha untuk tetap mempertahankan kondisi terbaik klie. Tujuan utama dari manajemen (asuhan) perawatan saat ini adalah untuk menciptakan kondisi opyimal klien dan menghindari komplikasi pembedahan.

    Perawat berperan untuk tetap mempertahankan kondisi hidrasi cairan, pemasukan oksigen yang adekuat dan mempertahankan kepatenan jalan nafas, pencegahan injuri selama operasi dan dimasa pemulihan kesadaran. Khusus untuktindakan perawatan luka, perawat membuat catatan tentang prosedur operasi yang dilakukan dan kondisi luka, posisi jahitan dan pemasangan drainage. Hal ini berguna untuk perawatan luka selanjutnya dimasa postoperatif.

  1. Post Operatif

    Pada masa post operatif, perawat harus berusaha untuk mempertahankan tanda-tanda vital, karena pada amputasi, khususnya amputasi ekstremitas bawah diatas lutut merupakan tindakan yang mengancam jiwa.

    Perawat melakukan pengkajian tanda-tanda vital selama klien belum sadar secara rutin dan tetap mempertahankan kepatenan jalas nafas, mempertahankan oksigenisasi jaringan, memenuhi kebutuhan cairan darah yang hilang selama operasi dan mencegah injuri.

    Daerah luka diperhatikan secara khusus untuk mengidentifikasi adanya perdarahan masif atau kemungkinan balutan yang basah, terlepas atau terlalu ketat. Selang drainase benar-benar tertutup. Kaji kemungkinan saluran drain tersumbat oleh clot darah.

    Awal masa postoperatif, perawat lebih memfokuskan tindakan perawatan secara umum yaitu menstabilkan kondisi klien dan mempertahankan kondisi optimum klien.

    Perawat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar klien, khususnya yang dapat menyebabkan gangguan atau mengancam kehidupan klien.

    Berikutnya fokus perawatan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan klien untuk membentuk pola hidup yang baru serta mempercepat penyembuhan luka. Tindakan keperawatan yang lain adalah mengatasi adanya nyeri yang dapat timbul pada klien seperti nyeri Panthom Limb dimana klien merasakan seolah-olah nyeri terjadi pada daerah yang sudah hilang akibat amputasi. Kondisi ini dapat menimbulkan adanya depresi pada klien karena membuat klien seolah-olah merasa ‘tidak sehat akal’ karena merasakan nyeri pada daerah yang sudah hilang. Dalam masalah ini perawat harus membantu klien mengidentifikasi nyeri dan menyatakan bahwa apa yang dirasakan oleh klien benar adanya.

Diagnosa keperawatan yang dapat ditegakkan antara lain adalah :

  1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan insisi bedah sekunder terhadap amputasi

    Karakteristik penentu :

  • Menyatakan nyeri.
  • Merintih, meringis.

Tujuan : nyeri hilang / berkurang.

Kriteria evaluasi :

  • Menyatakan nyeri hilang.
  • Ekspresi wajah rileks.
INTERVENSI RASIONAL
Evaluasi nyeri : berasal dari sensasi panthom limb atau dari luka insisi. Bila terjadi nyeri panthom limbBeri analgesik ( kolaboratif ).

Ajarkan klien memberikan tekanan lembut dengan menempatkan puntung pada handuk dan menarik handuk dengan berlahan.

Sensasi panthom limb memerlukan waktu yang lama untuk sembuh daripada nyeri akibat insisi.Klien sering bingung membedakan nyeri insisi dengan nyeri panthom limb.

Untuk menghilangkan nyeri

Mengurangi nyeri akibat nyeri panthom limb

  1. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan citra tubuh sekunder terhadap amputasi

    Karakteristik penentu :

  • Menyatakan berduka tentang kehilangan bagian tubuh.
  • Mengungkapkan negatif tentang tubuhnya.
  • Depresi.

Tujuan : Mendemontrasikan penerimaan diri pada situasi yang baru.

Kriteria evaluasi :

  • Menyatakan penerimaan terhadap penerimaan diri.
  • Membuat rencana untuk melanjutkan gaya hidup.
INTERVENSI RASIONAL
Validasi masalah yang dialami klien.Libatkan klien dalam melakukan perawatan diri yang langsung menggunakan putung :

  • Perawatan luka.
  • Mandi.
  • Menggunakan pakaian.

Berikan dukungan moral.

Hadirkan orang yang pernah amputasi yang telah menerima diri.

Meninjau perkembangan klien.Mendorong antisipasi meningkatkan adaptasi pada perubahan citra tubuh.

Meningkatkan status mental klien.

Memfasilitasi penerimaan terhadap diri.

  1. Resiko tinggi terhadap komplikasi : Infeksi, hemorragi, kontraktur, emboli lemak berhubungan dengan amputasi

    Karakteristik penentu :

  • Terdapat tanda resiko infeksi, perdarahan berlebih, atau emboli lemak.

Tujuan : tidak terjadi komplikasi.

Kriteria evaluasi : tidak ada infeksi, hemorragi dan emboli lemak.

INTERVENSI RASIONAL
Infeksi
Lakukan perawatan luka adekuat.
Mencegah terjadinya infeksi.
Perdarahan
Pantau :

-Masukan dan pengeluaran cairan.

- Tanda-tanda vital tiap 4 jam.

- Kondisi balutan tiap 4-8 jam.

Menghindari resiko kehilangan cairan dan resiko terjadinya perdarahan pada daerah amputasi.

Sebagai monitor status hemodinamik

Indikator adanya perdaraham masif

Emboli lemak
Monitor pernafasan.

Persiapkan oksigen

Pertahankan posisi flower atau tetap tirah baring selama beberapa waktu

Memantau tanda emboli lemak sedini mungkin

Untuk mempercepat tindakan bila sewaktu-waktu dperlukan untuk tindakan yang cepat.

Mengurangi kebutuhan oksigen jaringan atau memudahkan pernafasan.

Beberapa kegiatan keperawatan lain yang dilakukan adalah :

  • Melakukan perawatan luka postoperasi
    • Mengganti balutan dan melakukan inspeksi luka.
    • Terangkan bahwa balutan mungkin akan digunakan hingga protese yang digunakan telah tepat dengan kondisi daerah amputasi (6 bulan –1 tahun).
  • Membantu klien beradaptasi dengan perubahan citra diri
    • Memberi dukungan psikologis.
    • Memulai melakukan perawatan diri atau aktivitas dengan kondisi saat ini.
  • Mencegah kontraktur
    • Menganjurkan klien untuk melakukan gerakan aktif pada daerah amputasi segera setelah pembatasan gerak tidak diberlakukan lagi.
    • Menerangkan bahwa gerakan pada organ yang diamputasi berguna untuk meningkatkan kekuatan untuk penggunaan protese, menghindari terjadinya kontraktur.
  • Aktivitas perawatan diri
    • Diskusikan ketersediaan protese ( dengan terapis fisik, ortotis ).
    • Mengajari klien cara menggunakan dan melepas protese.
    • Menyatakan bahwa klien idealnya mencari bantuan/superfisi dari tim rehabilitasi kesehatan selama penggunaan protese.
    • Mendemontrasikan alat-alat bantu khusus.
    • Mengajarkan cara mengkaji adanya gangguan kulit akibat penggunaan protese.

BAB III

TINJAUAN KASUS

Pada bab ini akan diuraikan tentang pelakanaaan auhan keperawatan pada Tn. H yang berusia 34 tahun dengan diagnosa Osteosarkoma Proximal Tibia Post ECI di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo di lantai 4 public wing. Pelaksanaan asuhan keperawatan dilakukan selama tiga hari mulai tanggal 28 oktober 2009 sampai tanggal 30 oktober 2009.

  • Gambaran kasus

Klien bernama Tn. H (34 tahun), jenis kelamin laki-laki, status kawin, agama islam, suku jawa, pendidikan terakhir tamat SMA, bahasa yang digunakan bahasa indonesia, belum mempunyai pekerjaan , alamat rumah klien Bogor Jawa Barat.

Klien masuk RSUP Cipto Mangunkusumo Jakarta pada tanggal 20 oktober 2009 dengan nomor register 4252425. Adapun keluhan utama klien saat ini adalah klien mengatakan nyeri di kaki kiri skala nyeri 5, klien habis dilakukan post op amputasi.

Klien tidak punya alergi terhadap obat atau makanan. Klien mengatakan tidak pernah mendapatkan kecelakaan tetapi pernah dirawat di Rumah Sakit pada tahun 2005 dilakukan biopsi pada kaki kiri dan pada tahun 2008 dilakukan ECI dan klien dianjurkan untuk dilakukan amputasi pada kaki kirinya.

Klien mengatakan bila mempunyai masalah, biasanya mencari istri untuk meminta bantuan karena mereka adalah orang yang selalu dekat dengan pasien. Klien mengatakan bahwa saat ini klien hanya berharap tentang kesembuhan penyakitnya karena ingin cepat sembuh dan pulang. Klien mengatakan perubahan yang saya rasakan setelah sakit, badannya lemah dan tidak bisa beraktivitas seperti biasa meskipun demikian pasien tetap menjalankan sholat 5 waktu setiap hari.

Pola kebiasaan klien mengatakan sebelum sakit makan 3 kali sehari, napsu makan baik dan makanan yang tidak disukai adalah pedas serta ikan tuna dan udang karena dapat membuat alergi. Klien mengatakan sebelum sakit suka berolahraga jalan-jalan 1-2 kali seminggu. Klien mengatakan tidak merokok, tidak minum minuman keras dan tidak menggunakan NAPZA.

Dari hasil pengkajian
pemeriksaan fisik klien mempunyai berat badan 69 Kg, sebelum sakit 73 kg, Tinggi badan 165 cm, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 104 x/menit, frekuensi nafas 20 x/menit, suhu badan : 36,2 0 C, keadaan Umum klien sakit sedang, Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening. Sedangkan pada sistem penglihatan posisi mata klien baik tidak ada kelainan, kelopak mata, pergerakan bola mata, kornea, otot-otot mata dalam keadaan normal, konjungtiva merah muda, sklera Anikterik, pupil isokor, fungsi penglihatan baik dan tidak ada tanda-tanda radang. Reaksi terhadap cahaya positif kanan kiri. Klien tidak menggunakan kacamata dan lensa kontak, Dalam sistem pendengaran baik daun telinga, kondisi telinga tengah dalam keadaan normal dan tidak ada kelainan, seperti perasaan penuh di telinga, tinitus, gangguan keseimbangan, keluar cairan dari telinga. Klien juga tidak menggunakan alat bantu pendengaran.

Sistem wicara klien dalam keadaan normal tidak ada kelainan. Pada sistem pernafasan jalan napas klien tidak ada sumbatan sputum tidak ada sesak, tidak ada retraksi otot, frekuensi pernapasan 20 x/ menit. Irama pernapasan teratur, jenis penafasan eupnea, batuk tidak ada, suara napas vesikuler, tidak ada nyeri saat bernapas, tidak menggunakan alat bantu bernapas, seperti oksigen. Pada sistem kardiovaskuler, Nadi klien 104 x/ menit, irama teratur, tekanan darah 110/780 mmHg, tidak ada distensi vena jugularis, pengisian kapileri <3 detik, tidak ada edema baik eksremitas bawah maupun atas, sedangkan pada sirkulasi jantung, Kecepatan denyut apikal 104 x/menit, irama teratur, tidak ada kelainan jantung, tidak ada sakit dada seperti ditusuk-tusuk ketika beraktivitas, Sistem Hematologi :Dalam gangguan hematologi : pucat (-) dan tidak ada perdarahan. Pada sistem saraf pusat, Klien mengatakan tidak ada keluhan sakit kepala, tingkat kesadaran : komposmentis.skala GCS : E4M6V4, tidak ada peningkatan TIK serta gangguan sistem persyarafan. Pemeriksaan refleks fisiologis normal dan patologis tidak ada, Sedangkan pada sistem pencernaan, Keadaan gigi tidak terdapat karies pada gigi, tidak ada penggunaan gigi palsu, tidak ada stomatitis, lidah tidak kotor, kelenjar saliva normal, tidak ada nyeri daerah perut, bising usus 5 x/menit, tidak diare. Nyeri pada daerah perut tidak ada.

Sistem Endokrin

Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, napas tidak berbau keton, dan tidak ada luka gangren, Pada sistem urogenital
Intake output tanggal 28 oktober 2009 pukul 05.00-13.00 WIB :

Intake : – oral : 300 cc / 8 jam

- parenteral Infus RD : 600 cc / 8 jam

Jumlah : 900 cc / 8 jam

output : – BAK : 500 cc / 8 jam

- IWL : 230 cc / 8 jam

Jumlah : 730 cc / 8 jam

Balance : – 170 cc

BAK berwarna jernih, tidak ada distensi kantung kemih dan tidak ada keluhan sakit pinggang.
Pada sistem integument klien, Turgor kulit baik, suhu 36,2 0C, kedaan kulit baik, ada luka insisi operasi di daerah tibia kiri, kondisi baik tidak ada rembesan darah. Dipasang drain cairan berwarna merah darah ± 30 cc. kelainan kulit tidak ada, tidak terjadi tanda dan gejala infeksi (tumor, kalor, dolor dan fungsiolasea) pada daerah pemasangan infus serta keadaan tekstur rambut dan kebersihan baik.

Pada sistem muskuloskeletal, Tidak ada kelainan sistem musculoskeletal pada klien tetapi ada kesulitan dalam pergerakan karena luka insisi operasi, tonus otot hipotoni, kekuatan otot.

.

Sedangkan hasil laboratorium: Hb : 15,4 g/dl ( 13-16 g/dl), Ht : 43 % (40-48 %), Leukosit : 11 Ribu/ul (5,0-10,0 Ribu/ul), Trombosit : 203 Ribu/ul (150-400 Ribu/ul), PT : 13,5 % (10 -15 %), APTT 33,9 % (25-35 %) dan penatalaksanaan medis : Cairan : NACL 0,9 % 500 cc : 20 tetes / menit, Diit : Tinggi Kalori Tinggi Protein (tidak ada pantangan) ,Obat Post Op : Cefazolin 3 x 1 gram, ketorolac 3 x 30 mg, ranitidin 2 x 50 mg.

B. Diagnosa, Intervensi, Implementasi dan Evaluasi Keperawatan.

Dari data diatas penulis mengangkat tiga diagnosa keperawatan selama 3 hari dari tanggal 28 – 30 oktober 2009 adalah sebagai berikut :

 

  • Gangguan rasa nyaman nyeri b.d luka insisi post op amputasi ditandai dengan :
    Data Subjektif :
    Klien mengatakan nyeri pada kaki kiri bila digerakkan, Klien mengatakan skala nyeri 5 seperti ditusuk-tusuk, Data Objektif : Ekspresi wajah klien meringis saat kakinya digerakkan,Skala nyeri 5,Klien post op amputasi hari ke-1 atas indikasi osteosarkoma proximal tibia, Klien tampak kesakitan saat kakinya digerakkan atau diam, Tanda-tanda Vital TD : 110/70 mmHg, N : 104 x/menit, S : 36 O C, RR : 20 x/ menit, Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam nyeri dapat berkurang atau terkontrol. Kriteria Hasil : Nyeri berkurang/hilang, Skala nyeri 0-1, Klien menunjukkan sikap santai dan rileks, Klien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi nafas dalam, Klien dapapt mengontrol nyeri, TTV dalam batas normal: TD : 110/70 – 120/80 mmHg, N : 60 – 80 kali / menit, RR : 16 – 20 kali / menit, S : 36,2º C – 37ºC. Rencana keperawatan : Observasi TTV setiap 8 jam, Evaluasi skala nyeri, karakteristik dan lokasi, Atur posisi kaki kiri yang sakit (abduksi) dengan bantal, Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam, Kolaborasi : Berikan obat sesuai program ketorolac 3 x 30 mg. Implementasi yang telah dilakukan sejak tanggal 28 oktober 2009 sampai 30 oktober 2009: Memberikan obat ketololac 30 mg melalui vamplon, mengidentifikasi lokasi, karakteristik skala nyeri, mendiskusikan posisi yang nyaman bagi klien, mengatur posisi kaki kiri yang sakit (abduksi) dengan bantal, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam bila nyeri timbul, mengkaji skala nyeri, mengobservasi keadaan luka insisi bedah. Evaluasi tanggal 30 desember 2008 : masalah nyeri pada bagian kaki kiri teratasi. S
    :
    klien mengatakan sudah masih merasa nyeri skala nyeri 1, O : Klien terlhat rileks, Klien post op amputasi hari ke-3, Keadaan balutan bersih tidak ada rembesan darah, TTV : TD : 120/ 80 mmHg, RR : 18 x / menit, N : 88 x/ menit, S : 36 O C, Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang, tanggal 2 november 2009 diharuskann control. A : Masalah nyeri pada bagian kaki kiri sudah teratasi, P : Hentikan intervensi dx 1
  • Resiko gangguan neurovaskuler perifer b.d dampak pemasangan elastic verban ditandai dengan :
    Data Subjektif :
    Klien mengatakan terasa saat diraba didaerah paha sebelah kiri, Klien mengatakan tidak rasa kesemutan pada daerah kaki kiri, Data Objektif : Klien terpasang elastis perban pada pangkal paha kiri, Edema disekitar luka tidak ada, Capillary refill < 3 detik, Akral Hangat, Tidak ada sianosis pada daerah pemasangan elastic perban, Kekuatan otot : , Tanda-tanda Vital : TD : 110/70 mmHg, N : 104 x/menit, S : 36,2 O C, RR : 20 x/ menit, Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam klien dapat mempertahankan neurovaskuler perifer. Kriteria Hasil : Nadi perifer teraba, Ekstremitas hangat, Warna kulit tidak pucat, Capillary refill < 3 detik, Edema tidak ada, Ada sensasi (bila diraba terasa), Tidak ada kesemutan, TTV dalam batas normal :TD : 110/70 – 120/80 mmHg, N : 60 – 80 kali / menit, RR : 16 – 20 kali / menit, S : 36º C – 37ºC, Rencana keperawatan : Observasi TTV setiap 8 jam dengan perhatikan tanda-tanda pucat dkulit dingin,Observasi tanda-tanda gangguan neurovaskuler bandingkan ekstremitas yang satu dengan yang lain, Pantau capillary refill, warna kulit, suhu distal pada ekstremitas yang diamputasi, Observasi terhadap kemampuan pergerakan (fleksi, ekstensi, hiperekstensi, oposisi), Kurangi edema dengan menggerakkan pada ekstremitas yang edema, Ajarkan latihan isometrik mulai dari yang kaki yang sakit, Implementasi yang telah dilakukan sejak tanggal 28 oktober 2009 sampai 30 oktober 2009: mengobservasi TTV setiap 8 jam dengan perhatikan tanda-tanda pucat dkulit dingin,mengobservasi tanda-tanda gangguan neurovaskuler bandingkan ekstremitas yang satu dengan yang lain, memantau capillary refill, warna kulit, suhu distal pada ekstremitas yang diamputasi, mengobservasi terhadap kemampuan pergerakan (fleksi, ekstensi, hiperekstensi, oposisi), mengurangi edema dengan menggerakkan pada ekstremitas yang edema, mengajarkan latihan isometrik mulai dari yang kaki yang sakit. Evaluasi tanggal 30 desember 2008 : S: Klien mengatakan tidak ada kesemutan pada kaki kiri yang terpasang elastic verban,O : – Akral hangat, Tidak ada sianosis, Capillary refill < 3 detik, Sensasi raba ada, Kekuatan otot , Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg, RR : 18 x / menit, N : 88 x/ menit, S : 36 O C, Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang, tanggal 2 november 2009 diharuskann control, A : Maslah Dx 2 tidak menjadi actual, P : Hentikan intervensi Dx 2
  • Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL b.d keterbatasan mobilisasi ditandai dengan :
    Data Subjektif :
    Klien mengatakan kebutuhan sehari-harinya (makan, mandi) dibantu oleh keluarganya dan perawat, Klien mengatakan kaki kirinya terasa nyeri saat digerakkan, Data Objektif : Kesadaran Composmentis,Keadaan umum baik, Klien post op amputasi hari ke-1 atas indikasi osteosarkoma proximal tibia, Kebutuhan klien (mandi, makan) dibantu oleh keluarga atau perawat, Mobilisasi klien saat ini duduk dengan bantuan saat tidur kembali, Kekuatan otot : , Tanda-tanda Vital : TD : 110/70 mmHg, N : 104 x/menit, S : 36,2 O C, RR : 20 x/ menit, Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam kebutuhan ADL terpenuhi. Kriteria Hasil Klien dapat beraktivitas dengan bantuan minimal, Meningkatkan fungsi tubuh yang sakit, Klien mampu melakukan ADL secara mandiri, Kekuatan otot maksimal , TTV dalam batas normal :TD : 110/70 – 120/80 mmHg, N : 60 – 80 kali / menit, RR : 16 – 20 kali / menit, S : 36º C – 37ºC, Rencana keperawatan : Observasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas, Ajarkan teknik latihan isometrik, Bantu dalam pemenuhan kebutuhan ADL, Observasi nilai kekuatan oto dan tonus otot, Implementasi yang telah dilakukan sejak tanggal 28 oktober 2009 sampai 30 oktober 2009: mengbservasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas, mengajarkan teknik latihan isometrik, membantu dalam pemenuhan kebutuhan ADL, mengobservasi nilai kekuatan otot dan tonus ototEvaluasi tanggal 30 desember 2008 : S : Klien mengatakan kebutuhan sehari-harinya sudah dapat dilakukan sendiri seperti makan dan minum, O : – Keadaan Umum baikKesadaran composmentis, Klien dapat melakukan kegiatan makan, minum secara mandiri, Kegiatan mandi dan BAB masih membutuhkan bantuan dari keluarga, Kekuatan otot, Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg, RR : 18 x / menit, N : 88 x/ menit, S : 36 O C Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang, tanggal 2 november 2009 diharuskann control, A : Maslah Dx 3 teratasi, P : Hentikan intervensi Dx 3

 

  • Resiko terjadinya infeksi b.d pembedahan pot op amputasi dan pemasangan alat invasive kateter dan infus ditandai dengan :
    Data Subjektif :
    Klien mengatakan nyeri pada area luka amputasi, Klien mengatakan tidak ada rasa nyeri pada daerah pemasangan infus dan kateter, Data Objektif : Terdapat luka post op hari ke-1, Balutan luka tidak ada rembesan, Panjang dan lebar luka belum terkaji karena belum dilakukan dreesing, Klien terpasang drain, cairan drainase 30 cc berwarna merah, Balutan albocath tampak bersih, Tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, dolor, tumor, fungsiolesa) tidak ada, Klien terpasang DC (drain cateter) sejak tanggal 27-10-2009, Tanda-tanda infeksi pada daerah pemasangan kateter tidak ada, Warna urine kuning jernih, aliran urine lancer, tidak ada nyeri pada daerah pemasangan kateter, Leukosit 11.000 /ul (N : 5000-10.000/ul), Tanda-tanda Vital TD : 110/80 mmHg, N : 104 x/menit, S : 36,2 O C, RR : 20 x/ menit, Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam resiko infeksi tidak menjadi aktual, Kriteria Hasil : Balutan luka bersih, Tidak ada rembesan darah, Balutan albocath bersih, Tidak ada phlebitis pada pemasangan albocath, Warna urine jernih, Leukosit dalam batas jumlah normal (5000-10000/ul), , TTV dalam batas normal: TD : 110/70 – 120/80 mmHg, N : 60 – 80 kali / menit, RR : 16 – 20 kali / menit, S : 36º C – 37ºC. Rencana keperawatan : Ukur TTV setiap 8 jam, Observasi luka terhadap infeksi, Lakukan perawatan luka 1 kali/hari, Berikan diet tinggi kalori dan tinggi protein, Catat jumlah dan warna drainase, Ganti balutan luka albocath 1 kali/hari, Lakukan perawatan kateter setiap hari, Kolaborasi : Pemeriksaan Laboratorium ( Leukosit, LED), Berikan obat Cefazolin 3 x 1 gr, Implementasi yang telah dilakukan sejak tanggal 28 oktober 2009 sampai 30 oktober 2009: mengukur TTV setiap 8 jam, mengobservasi luka terhadap infeksi, melakukan perawatan luka 1 kali/hari, memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein, mencatat jumlah dan warna drainase, mengganti balutan luka albocath 1 kali/hari, Lakukan perawatan kateter setiap hari, berkolaborasi : memberikan obat Cefazolin 3 x 1 gr. Evaluasi tanggal 30 desember 2008 :S : - O: Keadaan Umum baik, Kesadaran composmentis, Klien post op amputasi hari ke-2, Tidak ada rembesan luka, Elastic verban baik, Albocath sudah di aff, Kateter sudah di aff, Tanda-tanda infeksi tidak ada, Leukosit 11.900/ul, Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg, RR : 18 x / menit, N : 88 x/ menit, S : 36 O C Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang, tanggal 2 november 2009 diharuskann control, A : Masalah Dx 4 tidak menjadi aktual, P : Hentikan intervensi Dx 4

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini penulis akan membahas masalah yang terjadi pada kasus kelolaan, yaitu tentang kesenjangan antara teori dan kasus pada Tn. H dengan Osteosarkoma Proximal Tibia Post ECI di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo di lantai 4 public wing yang dilaksanakan pada tanggal 28-30 Oktober 2009. Pembahasan ini meliputi definisi, rasional, data yang menunjang, intervensi, implementasi, dan evaluasi, juga analisa faktor pendukung dan penghambat serta solusi dari tiap masalah diagnosa keperawatan yang muncul.

Diagnosa pertama : Gangguan rasa nyaman nyeri b.d luka insisi post op amputasi

Definisi : Nyeri adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, digambarkan dalam istilah seperti kerusakan (Internasional Asosiation For The Study Of Pain) ; awitan yang tiba-tiba atau perlahan dan intensitas sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan durasinya kurang dari 6 bulan. (Wilkinson, 2006)

Rasional : adanya kerusakan jaringan akibat luka insisi pasca operatif amputasi proximal tibia menyebakan terjadinya sensasi nyeri sehingga menimbulkan suatu stressor pada klien yang mengganggu klien dalam beraktivitas

Intervensi keperawatan : Mengobservasi TTV setiap 8 jam, mengevaluasi skala nyeri, karakteristik dan lokasi, mengatur posisi kaki kiri yang sakit (abduksi) dengan bantal, mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam, Kolaborasi : memberikan obat sesuai program ketorolac 3 x 30 mg.

Implementasi keperawatan : Memberikan obat ketololac 30 mg melaluiI vamplon mengidentifikasi lokasi, karakteristik skala nyeri, mendiskusikan posisi yang nyaman bagi klien, mengatur posisi kaki kiri yang sakit (abduksi) dengan bantal, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam bila nyeri timbul, mengkaji skala nyeri, mengobservasi keadaan luka insisi bedah..

Evaluasi keperawatan : S
:
klien mengatakan sudah masih merasa nyeri skala nyeri 1, O : Klien terlhat rileks, Klien post op amputasi hari ke-3, Keadaan balutan bersih tidak ada rembesan darah, TTV : TD : 120/ 80 mmHg, RR : 18 x / menit, N : 88 x/ menit, S : 36 O C, Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang, tanggal 2 november 2009 diharuskann control. A : Masalah nyeri pada bagian kaki kiri sudah teratasi, P : Hentikan intervensi dx 1

Faktor pendukung : klien mau mengikuti anjuran perawat untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam yang berfungsi memperlancar O2 ke jaringan sehingga mengurangi rasa nyeri dan klien mendapat terapi ketorolac 3 30 mg sehingga rangsangan nyeri tidak sampai ke sistem saraf pusat kesadaran.

Faktor penghambat : Tidak ada

Solusi : Tidak ada

Diagnosa kedua : Resiko gangguan neurovaskuler perifer b.d dampak pemasangan elastic verban

Definisi : suatu keadaaan dimana tingkat saat system saraf perifer menerima, memproses dan merespons stimulus internal dan eksternal mengalami gangguan ( Wilkinson,2007:10).

Rasional : gangguan neurovaskuler dapat terjadi pada klien yang mengalami amputasi karena mendapat balutan elastic verban hal ini dikarenakan elastic verban secara tidak langsung menekan saraf perifer sehinggan saraf perifer tidak berfungsi yang dapat mengakibatkan tidak adanya rasa saat adanya rasangan.

Intervensi keperawatan : Mengobservasi TTV setiap 8 jam dengan perhatikan tanda-tanda pucat dkulit dingin,mengobservasi tanda-tanda gangguan neurovaskuler bandingkan ekstremitas yang satu dengan yang lain, memantau capillary refill, warna kulit, suhu distal pada ekstremitas yang diamputasi, mengobservasi terhadap kemampuan pergerakan (fleksi, ekstensi, hiperekstensi, oposisi), mengurangi edema dengan menggerakkan pada ekstremitas yang edema, mengajarkan latihan isometrik mulai dari yang kaki yang sakit.

Implementasi keperawatan : Mengobservasi TTV setiap 8 jam dengan perhatikan tanda-tanda pucat dkulit dingin,mengobservasi tanda-tanda gangguan neurovaskuler bandingkan ekstremitas yang satu dengan yang lain, memantau capillary refill, warna kulit, suhu distal pada ekstremitas yang diamputasi, mengobservasi terhadap kemampuan pergerakan (fleksi, ekstensi, hiperekstensi, oposisi), mengurangi edema dengan menggerakkan pada ekstremitas yang edema, mengajarkan latihan isometrik mulai dari yang kaki yang sakit.

Evaluasi keperawatan : S: Klien mengatakan tidak ada kesemutan pada kaki kiri yang terpasang elastic verban,O : – Akral hangat, Tidak ada sianosis, Capillary refill < 3 detik, Sensasi raba ada, Kekuatan otot , Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg, RR : 18 x / menit, N : 88 x/ menit, S : 36 O C, Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang, tanggal 2 november 2009 diharuskann control, A : Maslah Dx 2 tidak menjadi actual, P : Hentikan intervensi Dx 2

Faktor pendukung : klien mau mengikuti perawat untuk melakukan gerakan isometrik untuk merangsang saraf pertifer dank lien terlihat aktif belajar mobilisasi sehingga aliran darah perifer menjadi adekuat

Faktor penghambat : Tidak ada

Solusi : Tidak ada

Diagnosa ketiga : Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL b.d keterbatasan mobilisasi

Definisi : keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik, tetapi bukan imobilitas sehingga menyebabkan kebutuhan ADl klien terganggu.

Rasional : kerusakan mobilitas fisik menggambarkan seorang individu dengan keterbatasan pengunaan lengan atau tungkai atau keterbatasan kekuatan otot.

Intervensi keperawatan : mengobservasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas, mengajarkan teknik latihan isometrik, membantu dalam pemenuhan kebutuhan ADL, mengobservasi nilai kekuatan otot dan tonus otot.

Implementasi keperawatan : mengobservasi kemampuan klien dalam melakukan aktivitas, mengajarkan teknik latihan isometrik, membantu dalam pemenuhan kebutuhan ADL, mengobservasi nilai kekuatan otot dan tonus otot.

Evaluasi tanggal 30 desember 2008 : S : Klien mengatakan kebutuhan sehari-harinya sudah dapat dilakukan sendiri seperti makan dan minum, O : – Keadaan Umum baikKesadaran composmentis, Klien dapat melakukan kegiatan makan, minum secara mandiri, Kegiatan mandi dan BAB masih membutuhkan bantuan dari keluarga, Kekuatan otot, Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg, RR : 18 x / menit, N : 88 x/ menit, S : 36 O C Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang, tanggal 2 november 2009 diharuskann control, A : Maslah Dx 3 teratasi, P : Hentikan intervensi Dx 3

Faktor pendukung : klien mau mengikuti anjuran perawat untuk melakukan latihan isometrik dan keluarga turut berperan aktif dalam membantu kebutuhan ADL klien.

Faktor penghambat : kaki klien nyeri apabila ditumpukan.

Solusi : tetap motivasi klien untuk melakukan mobilitas sesuai batas kemampuan klien dan malakukan latihan rentang gerak isometrik.

Diagnosa keempat : Resiko terjadinya infeksi b.d pembedahan pot op amputasi dan pemasangan alat invasive kateter dan infus

Definisi : suatu kondisi individu yang mengalami peningkatan resiko terserang organisme patogenik. (Wilkinson, 2007 )

Rasional : pada saat pertahanan tubuh menjadi lemah membuat tubuh terserang oleh pathogen. Diagnosa ini diangkat sebagai diagnosa keempat karena data yang diperoleh masih dalam batas normal, namun klien tetap berisiko terhadap infeksi, meskipun diagnosa ini tidak terdapat dalam teori tetapi karena adanya area tempat masuk mikroorganisme, yaitu melalui tempat amputasi, pemasangan kateter, dan penusukan infus yang apabila tidak dilakukan asuhan keperawatan dapat menyebabkan terjadinya masalah infeksi pada klien.

Intervensi keperawatan : Mengukur TTV setiap 8 jam, mengobservasi luka terhadap infeksi, melakukan perawatan luka 1 kali/hari, memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein, mencatat jumlah dan warna drainase, mengganti balutan luka albocath 1 kali/hari, Lakukan perawatan kateter setiap hari, berkolaborasi : memberikan obat Cefazolin 3 x 1 gr.

Implementasi keperawatan : Mengukur TTV setiap 8 jam, mengobservasi luka terhadap infeksi, melakukan perawatan luka 1 kali/hari, memberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein, mencatat jumlah dan warna drainase, mengganti balutan luka albocath 1 kali/hari, Lakukan perawatan kateter setiap hari, berkolaborasi : memberikan obat Cefazolin 3 x 1 gr.

Evaluasi tanggal 30 desember 2008 :S : - O: Keadaan Umum baik, Kesadaran composmentis, Klien post op amputasi hari ke-2, Tidak ada rembesan luka, Elastic verban baik, Albocath sudah di aff, Kateter sudah di aff, Tanda-tanda infeksi tidak ada, Leukosit 11.900/ul, Tanda-tanda Vital : TD : 120/ 80 mmHg, RR : 18 x / menit, N : 88 x/ menit, S : 36 O C Atas intruksi dokter klien diperbolehkan pulang, tanggal 2 november 2009 diharuskann control, A : Masalah Dx 4 tidak menjadi aktual, P : Hentikan intervensi Dx 4

Faktor pendukung : Adanya kerja sama yang baik dari tim perawat dalam pelaksanaan perawatan infus

Faktor penghambat : tidak ada

Solusi : tidak ada

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pelaksanaan asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan pada Tn. H sejak tanggal 28-30 oktober 2009 maka penulis mengambil kesimpulan :

  • Hasil pengkajian pada An. H mendapatkan hasil data yang sesuai dengan teori. Cara pengumpulan data diperoleh melalui metode wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik. Pada saat wawancara dengan klien dan keluarga kooperatif sehingga terrjalin kerjasama antara perawat dengan klien dan keluarga. Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistemik sesuai dengan kondisi klien.
  • Diagnosa keparawatan yang ditemukan pada klien yaitu : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka insisi post op amputasi, Resiko gangguan neurovaskuler perifer berhubungan dengan dampak pemasangan elastic verban, Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL berhubungan dengan keterbatasan mobilisasi, Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan pembedahan pot op amputasi dan pemasangan alat invasive kateter dan infus
  • Intervensi kepertawatan pada Tn. H telah disusun sesuai dengan teori atau konsep dasar asuhan keperawatan. Intervensi meliputi juga tindakan yang dilakukan secara mandiri dan kolaborasi dengan tim kesehatan lain.
  • Implementsi keperawatan yang dilakukan sesuai dengan intervensi yang dibuat. Untuk diagnosa nyeri pada bagian amputasi dilakukan tindakan mandiri yaitu mengajarkan teknik relaksasi nafas dalam dan berkolaborasi pemberian ketorolac 3 x 30 mg, Untuk diagnosa Resiko gangguan neurovaskuler perifer dilakukan tindakan keperawatan melakukan gerakan isometric, untuk diagnosa Gangguan pemenuhan kebutuhan ADL dilakukan tindakan membantu kebutuhan klien, mengajarkan gerakan isometric dan menganjurkan keluarga untuk membantu kebutuhan ADL klien, untuk diagnose resiko infeksi dilakukan tindakan melakukan perawatan luka amputasi, perawatan luka penusukan jarum infus dan perawatan kateter serta berkolaborasi pemberian cefazolin 3 x 1 gram..
  • Adapun evaluasi akhir dari keseluruhan asuhan keperawatan yang telah diberikan adalah semua masalah keperawatan yang ditemukan pada Tn. H dapat teratasi semua pada tanggal 30 oktober 2009.

B. Saran

Pada kesempatan ini penulis akan mengemukakan beberapa saran sebagai bahan masukan yang bermanfaat bagi usaha peningkatan mutu pelayanan asuhan keperawatan yang akan datang, diantaranya :

  • Dalam melakukan asuhan keperawatan, perawat mengetahui atau mengerti tentang rencana keperawatan pada pasien dengan osteosarkoma, pendokumentasian harus jelas dan dapat menjalin hubungan yang baik dengan klien dan keluarga.
  • Dalam rangka mengatasi masalah gangguan mobilisasi, untuk institusi RS supaya menyediakan sarana dan prasarana yang memudahkan klien yang mengalami gangguan mobilisasi.
  • Untuk keluarga diharapkan selalu membantu dan memotivasi klien dalam proses penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2. Jakarta : EGC

Corwin, Elizabeth J..(2001). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Doengoes, Marylin E. (2000). Rencana Asuhan Kaperawatan : Pedoman Untuk perencanaan dan pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC

Gole, Danielle & Jane Chorette. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta : EGC.

Mansjoer, Arif. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius

Nettina, Sandra M. (2002). Pedoman Praktek Keperawatan. Jakarta : EGC

Syamsuhidayat, R dan Wim de Jong. (2004). Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2. Jakarta : EGC

Wilkinson, Judith M. (2007). Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC

Otto, Shirley E. 2003. Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jakarta : EGC.

Rasjad, Choiruddin. (2003). Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Makasar : Bintang Lamimpatue.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 27, 2010 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag:

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Fraktur Cruris

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR CRURIS

I. PENGERTIAN

Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000)

II. JENIS FRAKTUR

  1. Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran.
  2. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
  3. Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
  4. Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
  5. Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkak.
  6. Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
  7. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
  8. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
  9. Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
  10. Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.

III. ETIOLOGI

  1. Trauma
  2. Gerakan pintir mendadak
  3. Kontraksi otot ekstem
  4. Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma

V. MANIFESTASI KLINIS

  1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema
  2. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
  3. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur
  4. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
  5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
  2. Pemeriksaan jumlah darah lengkap
  3. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
  4. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens   ginjal

VII. PENATALAKSANAAN

a. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula.

b. Imobilisasi fraktur

Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna

c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi

  • Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
  • Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
  • Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau
  • Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah

VIII. KOMPLIKASI

  1. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak  seharusnya.
  2. Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
  3. Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

IX. PENGKAJIAN

  1. Pengkajian primer

- Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk
- Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
- Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut

2. Pengkajian sekunder

a. Aktivitas/istirahat

  • kehilangan fungsi pada bagian yangterkena
  • Keterbatasan mobilitas

b. Sirkulasi

  • Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
  • Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
  • Tachikardi
  • Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
  • Cailary refil melambat
  • Pucat pada bagian yang terkena
  • Masa hematoma pada sisi cedera

c. Neurosensori

  • Kesemutan
  • Deformitas, krepitasi, pemendekan
  • kelemahan

d. Kenyamanan

  • nyeri tiba-tiba saat cidera
  • spasme/ kram otot

e. Keamanan

  • laserasi kulit
  • perdarahan
  • perubahan warna
  • pembengkakan lokal


X. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

a. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
Tujuan : kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperaawatan
Kriteria hasil:

  • Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
  • Mempertahankan posisi fungsinal
  • Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit
  • Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas

Intervensi:

  1. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
  2. Tinggikan ekstrimutas yang sakit
  3. Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit
  4. Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika bergerak
  5. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
  6. Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan’Awasi teanan daraaah, nadi dengan melakukan aktivitas
  7. Ubah psisi secara periodik
  8. Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi

C. Gangguan Rasa Nyaman ;Nyeri b.d spasme otot , pergeseran fragmen tulang
Tujuan ; nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
Kriteria hasil:

  • Klien menyatakan nyeri berkurang
  • Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat
  • Tekanan darahnormal
  • Tidak ada peningkatan nadi dan RR

Intervensi:

  1. Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri
  2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
  3. Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan
  4. Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
  5. Jelaskanprosedu sebelum memulai
  6. Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif
  7. Drong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan
  8. Observasi tanda-tanda vital
  9. Kolaborasi : pemberian analgetik

C. Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan
Tujuan: kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
Kriteria hasil:

  • Penyembuhan luka sesuai waktu
  • Tidak ada laserasi, integritas kulit baik

Intervensi:

  1. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainae
  2. Monitor suhu tubuh
  3. Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang menonjol
  4. Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh
  5. Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
  6. Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alkohol
  7. Gunakan tenaat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
  8. Kolaborasi emberian antibiotik.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC
  2. Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC
  3. Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol 3. Jakarta. EGC
  4. Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC
 
2 Komentar

Ditulis oleh pada Februari 25, 2010 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag:

Lingkup Praktik Keperawatan Medikal Bedah

Keperawatan adalah profesi unik, profesi yang menangani respon manusia dalam menghadapi masalah kesehatan, dan secara esensial menyangkut kebutuhan dasar manusia, ini menempatkan art and science sama pentingnya.

Teori dan keterampilan keperawatan   diaplikasikan pada manusia kadang-kadang kurang bias diprediksi (hasilnya). Ini terjadi bukan karena sains keperawatan tidak precise tetapi lingkup garapan keperawatan adalah respon manusia dan tidak ada ketentuan bahwa  perilaku manusia akan sama dihadapkan pada stimulus yang sama. Human side dari keperawatan inilah yang disebut art atau kiat.

Nursing art berkenaan denagn ketrampilan-ketrampilan tehnis atau prosedur-prosedur tertentu sebagai bagian dari upaya keperawatan untuk membantu klien mengatasi masalah kesehatannya dan memenuhi kebutuhan dasarnya.

Perawat harus dapat mengkaji kapan suatu data menjadi indikasi adanya masalah, dan perlakuan seperti apa untuk mengatasi masalah tersebut. Oleh karenanya tehnik problem solving yang dikenal dengan proses keperawatan harus dikuasai karena ini merupakan bagian integral dari praktek keperawatan.

Keperawatan pada dasarnya adalah  human science and human care ; dan caring menyangkut upaya memperlakukan klien secara manusiawi dan utuh sebagai manusia yang berbeda dari manusia lainnya (Watson,1985)

Konsep-konsep diatas , human science and human car dan   atau  art and science

Hanya akan dikenal dan dirasakan konsumen keperawatan melalui perwujudan praktek keperawatan, dan untuk itu dibutuhkan  telaah  tentang lingkup  lingkup praktek keperawatan. Pada tulisan kali ini dikemukakan telaah lingkup praktek  keperawatan medikal-bedah:substansi praktek keperawatan, lingkup intervensi dan konsekwensi profesionalnya.

KEPERAWATAN DAN PRAKTEK KEPERAWATAN

Keperawatan sebagaimana dirumuskan oleh  American Nurses Association (1980), adalah Diagnosis and treatment of human responses to actual or potential health problem, rumusan ini menekankan bahwa dalam  keperawatan  dibutuhkan aktifitas untuk menelaah kondisi klien/pasien, menyimpulkan respon klien terhadap masalah yang dihadapinya; serta menentukan perlakuan keperawatan yang tepat untuk mengatasinya.

ICN (1987) merumuskan nursing sebagai

NURSING  encompasses autonomous and collaborative care of individuals of all ages

,family, groups and communities, sick or well and in all settings. Nursing includes the

promotions of health, prevention of illness and the care of ill, disable and dying people.

Advocacy,promotion of save environment, research, participation in shaping health

Policy  and in patient and health system management, and education are also key

Nursing roles.

Rumusan diatas menuntun makna bahwa  intervensi keperawatan terhadap klien dilakukan secara otonom atau kolaboratif  dengan lingkup intervensi nya adalah upaya-upaya promotif, preventif, restoratif dan rehabilitatif serta pendampingan klien dalam menghadapi kematian; melalui aktifitas-aktifitas pendampingan klien,mengupayakan lingkungan yang aman bagi klien, penelitian dan terlibat dalam menentukan kebijakan kesehatan yang menyangkut  kepentingan pasien dan system kesehatan serta pendidikan.

Sedangkan OREM (2001) mendiskripsikan keperawatan keperawatan sebagai

Nursing has its  special concern mans need for self-care action and the provision and

maintenance of it on a continuous basis in order to sustain life and health, recover

from disease and injury and  cope with their effects. The condition that validates the

existence of  a requirement for nursing in an adult is the absence of the ability to

maintain  ………….self-care.

Dari deskripsi diatas, Orem menekankan pentingnya tindakan intervensi untuk mengutamakan kebutuhan seseorang akan  self-care nya dan upaya yang terus menerus untuk mempertahankan kehidupan dan kesehatannya, pulih dari penyakit dan trauma serta mengatasi dampaknya. Pada orang dewasa  bantuan keperawatan dibutuhkan bila seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan selfcare nya sehingga ybs tidak lagi dapat mempertahankan kondisi sehat, mengatasi penyakit dan dampak trauma.

Dari  3 deskripsi tentang keperawatan diatas, dapat dikemukakan bahwa unsur-unsur penting dalam keperawatan adalah ;

  • Respon manusia terhadap masalah kesehatan baik actual maupun potensial

merupakan fokus telaahan keperawatan

  • Kebutuhan dasar manusia, penyimpangan dan upaya pemenuhannya

merupakanlingkup garapan keperawatan

  • Ketidak mampuan klien untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri (self-care

deficit)  merupakan basis intervensi keperawatan , baik itu terjadi karena

meningkatnya  tuntutan akan kemandirian atau menurunnya kemampuan untuk dapat

memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri.

  • Meningkatnya tuntutan atau menurunnya kemampuan untuk pemenuhan kebutuhan

dasarnya dipengaruhi oleh fluktuasi kondisi ( sepanjang rentang sehat-sakit ) pada

tugas perkembangann tertentu ( sepanjang daur kehidupan)

.

Unsur-unsur penting dalam keperawatan tersebut sejalan dengan paradigma keperawatan yang menempatkan  manusia sebagai core/focus sentral , sehingga siapapun dan bagaimanapun kondisi klien harus tetap diperlakukan secara manusiawi.

PRAKTEK KEPERAWATAN

Praktek keperawatan  adalah perwujudan profesi, dalam hal ini adalah hubungan professional  antara perawat-klien yang didasarkan pada kebutuhan dasar klien, intervensi keperawatan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar klien tersebut didasari oleh penalaran legal etis disertai dengan pendekatan yang manusiawi (humane). Intervensi tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan klien, dengan atau tanpa kolaborasi denagn profesi kesehatan lain sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawabnya.

Intervensi  (perlakuan) keperawatan dapat diwujudkan melalui  upaya-upaya  promotif yaitu membantu seseorang baik  yang sehat maupun disable untuk  meningkatkan level of

Wellness; preventif dalam hal ini adalah mencegah penyakit  dan atau kecacatan, restoratif & rehabilitatif adalah  asuhan selama kondisi sakit dan upaya pemulihannya, serta consolation of the dying yaitu pendampingan bagi klien yang menghadapi kematian

sehingga dapat melalui fase-fase kematian secara bermartabat dan tenang .

Jadi, praktek keperawatan merupakan serangkaian proses yang humanistic untuk melakukan  diagnosis  terhadap  respon klien dalam menghadapi masalah kesehatan dan dampaknya terhadap terpenuhi tidaknya kebutuhan dasarnya, menentukan perlakuan keperawatan yang tepat melalui bantuan keperawatan  baik bersifat total, parsial atau suportif-edukatif, menggunakan pendekatan proses keperawatan dan berpedoman pada standar asuhan dalam lingkup wewenang dan tanggung jawabnya .

LINGKUP PRAKTEK KEPERAWATAN MEDIKAL-BEDAH

Lingkup praktek keperawatan  medikal-bedah merupakan bentuk asuhan keperawatan pada klien DEWASA yang mengalami gangguan fisiologis baik yang sudah nyata atau terprediksi mengalami gangguan baik karena adanya penyakit, trauma atau kecacatan. Asuhan keperawatan meliputi perlakuan terhadap individu untuk memperoleh kenyamanan; membantu individu dalam meningkatkan dan mempertahankan kondisi sehatnya; melakukan prevensi, deteksi dan mengatasi kondisi berkaitan dengan penyakit ; mengupayakan pemulihan sampai kliendapat mencapai kapasitas produktif tertingginya; serta membantu klien menghadapi kematian secara bermartabat.

Praktek keperawatan medikal bedah menggunakan langkah-langkah ilmiah pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi; dengan memperhitungkan keterkaitan komponen-komponen bio-psiko-sosial klien dalam merespon gangguan fisiologis sebagai akibat penyakit, trauma atau kecacatan.

LINGKUP KLIEN

Klien yang ditangani dalam praktek keperawatan medikal bedah adalah orang dewasa, dengan pendekatan “one-to-one basis”. Kategori “dewasa” berimplikasi pada penegmbangan yang dijalani sesuai tahapannya. Tugas-tugas perkembangan ini dapat berdampak pada perubahan peran dan respon psikososial selama klien mengalami masalah kesehatan, dan hal ini perlu menjadi pertimbangan perawat dalam melakukan kajian dan intervensi keperawatan. Pendekatan keperawatan harus memperhitungkan “level kedewasaan” klien yang ditangan, dengan demikian pe;ibatan dan pemberdayaan klien dalam proses asuhan merupakan hal penting, sesuai dengan kondisinya; ini berkenaan dengan “Self-caring capacities”

LINGKUP GARAPAN KEPERAWATAN

Untuk membahas lingkup garapan keperawatan medikal-bedah, kita perlu mengacu pada “focus telaahan – lingkup garapan dan basis intervensi keperawatan seperti telah dibahas pada bagian awal tulisan ini.

Fokus telaahan keperawatan adalah respon manusia dalam mengahdapi masalah kesehatan baik actual maupun potensial. Dalam lingkup keperawatan medikal bedah, masalah kesehatan ini meliputi gangguan fisiologis nyata atau potensial sebagai akibat adanya penyakit, terjadinya trauma maupun kecacatan berikut respon klien yang unik dari aspek-aspek bio-psiko-sosio-spiritual. Mengingat basis telaahan respon klien bersumber dari gangguan fisiologis, maka pemahaman akan patofisiologis atau mekanisme terjadinya gangguan dan (potensi) manifestasi klinis dari gangguan tersebut sangat mendasari lingkup garapan dan intervensi keperawatan.

Penyakit, trauma atau kecacatan sebagai masalah kesehatan yang dihadapi klien dapat bersumber atau terjadi pada seluruh system tubuh meliputi system-sistem persyrafan; endokrin; pernafasan; kardiovaskuler; pencernaan; perkemihan; muskuloskeletal; integumen; kekebalan tubuh; pendengaran ; penglihatan serta permasalahan-permasalahan yang dapat secara umum menyertai seluruh gangguan system yaitu issue-isue yang berkaitan dengan keganasan dan kondisi terminal.

Lingkup Garapan

Lingkup garapan keperawata  adalah kebutuhan dasar manusia, penyimpangan dan intervensinya. Berangkat dari focus telaahan keperawatan medikal bedah diatas, lingkup garapan keperawatan medikal bedah adalah segala hambatan pemenuhan kebutuhan dasar yang terjadi karena perubahan fisiologis pada satu atau berbagai sistem tubuh; serta modalitas dan berbagai upaya untuk mengatasinya.

Guna menentukan berbagai hambatan pemenuhan kebutuhan dasar mansuai dan  modalitas yang tepat waktu untuk mengatasinya dibutuhkan keterampilan berfikir logis dan kritis dalam mengkaji secara tepat kebutuhan dasar apa yang tidak terpenuhi, pada level serta kemungkinan penyebab apa (diagnosis keperawatan). Hal ini akan menentukan pada perlakuan (treatment) keperawatan, dan modalitas yang sesuai. Disibi dibutuhkan keterampilan teknis dan telaah legal etis.

Basis Intervensi

Dari focus telaahan dan lingkup garapan keperawatan medikal bedah yang sudah diuraikan sebelumya, basis intervensi keperawatan medikal bedah adalah ketidakmampuan  klien (dewasa) untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. (Self care deficit). Ketidakamampuan ini dapat terjadi karena ketidakseimbangan  antara tuntutan kebutuhan (Self – care demand) dan kapasitas klien untuk memenuhinya (Self-care ability) sebagai akibat perubahan fisiologis pada satu atau berbagai system tubuh. Kondisi ini unik pada setiap individu karena kebuthan akan self-care (Self care requirement) dapat berbeda-beda, sehingga dibutuhkan integrasi keterampilan-keterampilan berfikir logis-kritis, teknis dan telaah legal-etis untuk menentukan bentuk intervensi keperawatan mana yang sesuai, apakah bantuan total, parsial atau suportif-edukatif yang dibutuhkan klien.

KONSEKUENSI PROFESIONAL

Menutup sementara tulisan ini ada berbagai konsekuensi logis yang masih harus dipikirkan sebagai acuan bagi praktisi kpeerawatan pada area keperawatan medikal bedah. Melihat kompleksitas focus telaahan, lingkup garapan dan basis intervensi area keperawatan medikal bedah dan konsekuensi profesionalnya perlu dirumuskan :

  • Standar performance untuk acuan kualitas asuhan
  • Kategori kwalifikasi perawat untuk menentukan kelayakannya sebagai praktisi
  • Sertifikasi dan lisensi keahlian yang senantiasa diperbaharui untuk memberi  jaminan kemanan  bagi pengguna jasa keperawatan.

Kepustakaan

1.      Luckmann & Sorensen, 1993, Medikal and Surgical Nursing; A. Psychophysiologic Approach, 4 th ed , Philadelphia : W.B. Saunders, CO.

2.      Orem, 2001, Nursing : Concept at Practice, 6th ed, St. Louis; Mosby Inc.

3.      American Nurses Association : A Statement of the Scope at Medical-Surgical Nursing Practice.

4.      Dochtsmar and Grace, 2001, Current Issues in Nursing, St. Louis: Mosby Inc.

5.      http://amsn.nurse.com/resource/curricul.htm, AMSN official Position Statement on; Identification of the Registered Nurse in the Work Place.

6.      Http://www.nursing power.net/nursing/sps.html: ANA-Nursing’s Social Policy Statement.

7.      Http://www.nursing world.org/ojin/topic 15/tpc 156.htm  Skateboards at Nursing and Scope of practice of Registered nurses Performing Complimentary Therapies.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 24, 2010 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag:

Gambaran Klinis Ca.Colon/ Kanker Kolon

Kanker kolon adalah suatu bentuk keganasan dari masa abnormal/neoplasma yang muncul dari jaringan epithelial dari colon (Brooker, 2001 : 72).
Kanker kolon/usus besar adalah tumbuhnya sel kanker yang ganas di dalam permukaan usus besar atau rektum (Boyle & Langman, 2000 : 805).
Kanker kolon adalah pertumbuhan sel yang bersifat ganas yang tumbuh pada kolon dan menginvasi jaringan sekitarnya (Tambayong, 2000 : 143). Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kanker kolon adalah suatu pertumbuhan tumor yang bersifat ganas dan merusak sel DNA dan jaringan sehat disekitar kolon (usus besar).

Karsinoma kolon ( Ca. Colon ) merupakan jenis kanker yang banyak dijumpai di klinik dengan tingkat mortalitas yang cukup tinggi . Kanker kolon merupakan penyebab ke dua dari semua kematian kanker di Amerika, baik pada pria maupun wanita dan hanya dilampai oleh kanker paru-paru dan mammae.Klien yang mengalami Ca. Colon membutuhkan perawatan profesional   dan dukungan keluarga yang adekuat. Klien memerlukan tindakan pembedahan berupa  laparotomi (pembukaan dinding abdomen ) dan kolostomi (pembuatan lubang melalui dinding abdomen ke dalam  kolon iliaka untuk mengeluarkan feces ) dilakukan untuk mengatasi masalah eliminasi.

Selain tindakan pembedahan, klien juga harus menjalani terapi lanjut yang dapat berupa kemoterapi dan radioterapi.Klien memerlukan asuhan keperawatan yang komprehensif  dengan memperhatikan aspek bio-psiko-sosio-spiritual terutama karena klien harus menjalani terapi lanjut setelah pembedahan. Dengan pemberian asuhan keperawatan secara komprehensif dan berkualitas diharapkan klien dapat beradaptasi dengan kondisi tubuhnya , menjalani terapi secara kooperatif dan dapat bersosialisasi kembali di masyarakat.   Identifikasi masalah keperawatan klien sangat penting, terkait dengan intervensi dan implementasi yang akan dilakukan terhadap klien selama hospitalisasi sehingga tercapai asuhan keperawatan yang optimal.

GAMBARAN KLINIS KARSINOMA COLON Karsinoma pada colon menimbulkan perubahan pada kebiasaan buang air besar. Karsinoma pada colon sebelah kanan menyebabkan peningkatan gerakan colon, tetapi karsinoma pada colon sebelah kiri menimbulkan konstipasi. Keduanya dapat menunjukkan gambaran klinis berupa: darah dan lendir di dalam tinja, penurunan berat badan dan anemia, palpasi dapat mengungkapkan adanya massa yang nyeri tekan, keadaan ini dapat memberikan gambaran klinis berupa obstruksi intestinum.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 24, 2010 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag:

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 262 pengikut lainnya.