RSS

Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Fraktur Cruris

25 Feb

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN FRAKTUR CRURIS

I. PENGERTIAN

Fraktur cruris adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada tulang tibia dan fibula. Fraktur terjadi jika tulang dikenao stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorbsinya. (Brunner & Suddart, 2000)

II. JENIS FRAKTUR

  1. Fraktur komplet : patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergeseran.
  2. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari garis tengah tulang
  3. Fraktur tertutup: fraktur tapi tidak menyebabkan robeknya kulit
  4. Fraktur terbuka: fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
  5. Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi lainnya membengkak.
  6. Transversal: fraktur sepanjang garis tengah tulang
  7. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa frakmen
  8. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam
  9. Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang)
  10. Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.

III. ETIOLOGI

  1. Trauma
  2. Gerakan pintir mendadak
  3. Kontraksi otot ekstem
  4. Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma

V. MANIFESTASI KLINIS

  1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema
  2. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah
  3. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur
  4. Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya
  5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG

  1. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan lokasi, luasnya
  2. Pemeriksaan jumlah darah lengkap
  3. Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai
  4. Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens   ginjal

VII. PENATALAKSANAAN

a. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup : tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak semula.

b. Imobilisasi fraktur

Dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna

c. Mempertahankan dan mengembalikan fungsi

  • Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan sesuai kebutuhan
  • Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri
  • Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan) dipantau
  • Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah

VIII. KOMPLIKASI

  1. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang tidak  seharusnya.
  2. Delayed union : proses penyembuhan yang terus berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.
  3. Non union : tulang yang tidak menyambung kembali

IX. PENGKAJIAN

  1. Pengkajian primer

- Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk
- Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi
- Circulation
TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut

2. Pengkajian sekunder

a. Aktivitas/istirahat

  • kehilangan fungsi pada bagian yangterkena
  • Keterbatasan mobilitas

b. Sirkulasi

  • Hipertensi ( kadang terlihat sebagai respon nyeri/ansietas)
  • Hipotensi ( respon terhadap kehilangan darah)
  • Tachikardi
  • Penurunan nadi pada bagiian distal yang cidera
  • Cailary refil melambat
  • Pucat pada bagian yang terkena
  • Masa hematoma pada sisi cedera

c. Neurosensori

  • Kesemutan
  • Deformitas, krepitasi, pemendekan
  • kelemahan

d. Kenyamanan

  • nyeri tiba-tiba saat cidera
  • spasme/ kram otot

e. Keamanan

  • laserasi kulit
  • perdarahan
  • perubahan warna
  • pembengkakan lokal


X. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI

a. Kerusakan mobilitas fisik b.d cedera jaringan sekitasr fraktur, kerusakan rangka neuromuskuler
Tujuan : kerusakn mobilitas fisik dapat berkurang setelah dilakukan tindakan keperaawatan
Kriteria hasil:

  • Meningkatkan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin
  • Mempertahankan posisi fungsinal
  • Meningkaatkan kekuatan /fungsi yang sakit
  • Menunjukkan tehnik mampu melakukan aktivitas

Intervensi:

  1. Pertahankan tirah baring dalam posisi yang diprogramkan
  2. Tinggikan ekstrimutas yang sakit
  3. Instruksikan klien/bantu dalam latian rentanng gerak pada ekstrimitas yang sakit dan tak sakit
  4. Beri penyangga pada ekstrimit yang sakit diatas dandibawah fraktur ketika bergerak
  5. Jelaskan pandangan dan keterbatasan dalam aktivitas
  6. Berikan dorongan ada pasien untuk melakukan AKS dalam lngkup keterbatasan dan beri bantuan sesuai kebutuhan’Awasi teanan daraaah, nadi dengan melakukan aktivitas
  7. Ubah psisi secara periodik
  8. Kolabirasi fisioterai/okuasi terapi

C. Gangguan Rasa Nyaman ;Nyeri b.d spasme otot , pergeseran fragmen tulang
Tujuan ; nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan
Kriteria hasil:

  • Klien menyatakan nyeri berkurang
  • Tampak rileks, mampu berpartisipasi dalam aktivitas/tidur/istirahat dengan tepat
  • Tekanan darahnormal
  • Tidak ada peningkatan nadi dan RR

Intervensi:

  1. Kaji ulang lokasi, intensitas dan tpe nyeri
  2. Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring
  3. Berikan lingkungan yang tenang dan berikan dorongan untuk melakukan aktivitas hiburan
  4. Ganti posisi dengan bantuan bila ditoleransi
  5. Jelaskanprosedu sebelum memulai
  6. Akukan danawasi latihan rentang gerak pasif/aktif
  7. Drong menggunakan tehnik manajemen stress, contoh : relasksasi, latihan nafas dalam, imajinasi visualisasi, sentuhan
  8. Observasi tanda-tanda vital
  9. Kolaborasi : pemberian analgetik

C. Kerusakan integritas jaringan b.d fraktur terbuka , bedah perbaikan
Tujuan: kerusakan integritas jaringan dapat diatasi setelah tindakan perawatan
Kriteria hasil:

  • Penyembuhan luka sesuai waktu
  • Tidak ada laserasi, integritas kulit baik

Intervensi:

  1. Kaji ulang integritas luka dan observasi terhadap tanda infeksi atau drainae
  2. Monitor suhu tubuh
  3. Lakukan perawatan kulit, dengan sering pada patah tulang yang menonjol
  4. Lakukan alihposisi dengan sering, pertahankan kesejajaran tubuh
  5. Pertahankan sprei tempat tidur tetap kering dan bebas kerutan
  6. Masage kulit ssekitar akhir gips dengan alkohol
  7. Gunakan tenaat tidur busa atau kasur udara sesuai indikasi
  8. Kolaborasi emberian antibiotik.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC
  2. Donges Marilynn, E. (1993). Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta. EGC
  3. Smeltzer Suzanne, C (1997). Buku Ajar Medikal Bedah, Brunner & Suddart. Edisi 8. Vol 3. Jakarta. EGC
  4. Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4. Jakarta. EGC
About these ads
 
2 Komentar

Posted by pada Februari 25, 2010 in Keperawatan Medical Bedah

 

Tag:

2 responses to “Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Fraktur Cruris

  1. dyah susanti

    Juli 21, 2011 at 3:05 am

    lam kenal mr.athoenk’s, mohon informasi & sharing donk,untuk kasus fraktur cruris dextra terbuka berapa lama kah utk hari rawat inap nya pada anak usia 10 thn?karna saya ada kasus,dgn masa lama rawat inap selama 17 hari.mohon bantuan informasinya?terima kasih,shanty

     
    • athoenk46

      September 8, 2011 at 12:13 pm

      hmm.. terima kasih mbakk kita sharing aja yaa.. karena kita sama sama belajar..
      untuk standar perawatn fraktur cruris terbuka saya sendiri bungung mbak berapa hari perawatannya.. yang harus kita pelajari mungkin proses penyemmbuhan luka terbukannya… biasannya pada luka tsb di lakukan operasi untuk penyambungan tulang dan menutup luka,, pada luka post op.,, jika tidak ada komplikasi biasannya hanya 3-4 hari.. namun jika ada komplikasi tergantung dari perawatan luka. tersebut… bagaiaman menejement luka itu… lalu untuk penyambungan tulang itu jika usia masih 10 tahun saya rasa bisa lebih cepat dari orang dewasa namun tetap dalam hitungan bulan… bukan dalam hitungan hari.. .. jadi kesimplannya semua tergantung dari perawatan luka, reposisi fraktur dan asupan nutrisi pada pasien….

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 262 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: